Tradisi Kritis Marx, Jurgen Habermas Gagas Etika Emansipatoris dan Komunikatif

0
77
sumber foto: britannica.com
Anastya Mawar Dini
Kru Magang 2020 | + posts

Semarang, Justisia.com – Jurgen Habermas merupakan seorang filsuf dan sosiolog asal Jerman yang lahir di Gummersbach pada 18 Juni 1929. Habermas merupakan generasi kedua dari aliran frankfurt sekaligus sosok yang ingin merevisi berbagai pemikiran tokoh aliran frankfurt generasi pertama.

Mazhab frankfurt sendiri berasal dari sebuah Institut fur Socialforschung yang didirikan para intelektual Universitas Frankfurt atau yang kemudian lebih populer dengan sebutan “Cafe Marx”, hal inilah yang menjadi cikal-bakal kelahiran Mazhab Frankfurt.

Sejarah Mazhab Frankfurt

Munculnya Mazhab Frankfurt tidak terlepas dari konteks perang dunia pertama dan kekalahan Partai Komunis oleh Partai Nazi pada tahun 1930-an. Artinya disini ada pertarungan ideologi antara kapitalisme dan marxisme.

Kekalahan Partai Komunis disebabkan karena ada pihak-pihak yang pragmatis serta korup. Sementara itu, kemenangan Partai Nazi yang condong dengan ideologi kapitalis merupakan bentuk kritik ideologi marxisme.

Para kaum kapitalis waktu itu selalu menerima kritik dan menjadikan kritik sebagai acuan pembaharuan. Berangkat dari itu, muncullah sebuah ide penyegaran dari pihak “kiri” yang dipelopori oleh generasi frankfurt pertama yaitu Max Horkheimer, Herbert Marcuse, Theodor W. Adorno, dan Walter Benjamin.

Mazhab Frankfurt ingin melakukan analisis kritis atau menginterupsi marxisme diadakan tinjauan ulang mengenai pemikiran marxisme, sebab kekalahan partai telah menandakan ada yang rapuh di masa itu. Mazhab Frankfurt juga mengkritisi segala hal, sebagaimana dirinya sendiri, terutama mengenai modernisme, positivisme, mekanisasi, dan teknologisasi.

Etika Emansipatoris

Setelah penyegaran serta pembaharauan dari generasi pertama Mazhab Frankfurt, maka muncullah pembaharuan selanjutnya dari generasi kedua yaitu Jurgen Habermas yang melanjutkan pemikiran kritis dari generasi pertama.

Emansipatoris sendiri merupakan suatu kepentingan mengenai kebebasan dan pembenahan sebagai proses otonomi moral atau dekolonisasi budaya, dari etika emansipatoris ini mendorong munculnya teori kritis mengenai modernitas.

Habermas menkritisi pemikiran tokoh frankfurt generasi pertama yang mana semangat emansipasi yang menjadi landasan filsafat pencerahan telah digantikan oleh instruksi kontrol atas proses-proses yanh diobyektifkan. Manusia tak lagi dianggap sebagai subyek, tetapi obyek yang dapat dimanipulasi secara teknis.

Seperti halnya tentang birokratisasi kehidupan manusia, yang mana segala sesuatu yang menghasilkan standarisasi merupakan birokrasi kehidupan. Contohnya prosedur menjadi sarjana yang harus melewati standar-standar yang berlaku dan produktivitas seorang dosen yang selama setahun misal dituntut untuk membuat beberapa penelitian, jurnal, dan lain sebagainya.

Dengan etika emansipatoris Habermas mengkritisi Mazhab Frankfurt generasi pertama yang mana mereka ingin melakukan perubahan secara total dalam sendi kehidupan, sedangkan Habermas hanya ingin membenahi tanpa merubah secara keseluruhan.

Etika Komunikatif

Berawal dari merevisi Mazhab Frankfurt generasi pertama dalam upaya membebaskan kaum buruh dari desublimasi represi, bagi Habermas kegagalan generasi pertama seperti Marcus dan yang lainnya, disebabkan kesalahan paradigma interaksi yang mereka gunakan terhadap pekerja yaitu kelas pekerja.

Mereka menggunakan parade interaksi yang sifatnya satu arah, ada pihak dominan dan dorman atau yang dikuasai. Mengolah teori kemudian tiba-tiba dia memberikan teori itu kepada mahasiswa dan kelas pekerja tanpa melibatkan mereka untuk mendiskusikan dan membuat teori bersama, jadi sebetulnya bentuk intetaksinya atau komunikasinya bersifat represif. Sehingga lebih dominan menunjukkan dirinya anarkis bukan sebagai kaum terdidik.

Kemudian Habermas hadir dengan pencerahan etika komunikatif yang sering disebut sebagai communicative rational action. Merupakan perluasan komunikasi yang bebas dari segala bentuk dominasi.

Habermas menyatakan jika ingin melakukan perubahan sosial maka harus menciptakan komunikasi yang membebaskan, tanpa adanya pihak dominan dan dormant. Ketika kita mampu menciptakan paradigma komunikasi yang membebaskan maka akan terciptanya ruang publik yang bebas dari penindasan di mana setiap orang di dalamnya ditempatkan secara egaliter dan setara. [Red. Musyaffa’]

Baca juga:  Stop Berita Hoax

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here