Telaah pemikiran Herakleitos dan Pythagoras

0
57
credit foto; id.wikipedia.org
Alya Nabila Adistia
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Herakleitos lahir pada tahun 540 SM di Efesus, Asia kecil. Ia hidup di sekitar abad ke-5 SM (540-480 SM). Ia hidup sezaman dengan Pythagoras, namun lebih muda usianya dari mereka. Akan tetapi, usia Herakleitos lebih tua dari Parmenindes sebab diketahui ia pernah dikritik oleh filsuf tersebut. Ia berasal dari keluarga terhormat di kota Efesus. Herakleitos adalah filsuf yang tidak tergolong mazhab apapun. Di dalam tulisannya ia justru dan sering mengkritik serta mencela para filsuf dan tokoh-tokoh terkenal, seperti Homerus, Arkhilokhos, Xenophanes dan lainnya. Meskipun ajaran atau filsafatnya berbalik dengan ajaran umum pada zamanya, namun bukan berarti Ia sama sekali tidak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf itu. Herakleitos adalah seorang yang sombong dan juga terkenal di zaman Yunani kuno dengan sebutan “si Gelap” karena sangat sulit untuk menelusuri dan memahami jalan pikirannya. Ia juga mendapatkan kritikan dari filsuf lainnya karena filsafatnya yang tidak sejalan atau bertentangan dengan pandangan mereka.

Epistimologi dan Rasionalisme

Herakleitos berpendapat bahwa kebenaran itu pada dasarnya tersembunyi dan tidak jelas. Namun tetap membuka dirinya untuk dapat dipahami melalui pengamatan dan argumentasi, analisis linguistik, dan refleksi diri. Bagi Herakleitos, pengetahuan akan diri sendiri juga akan menyediakan jalan menuju pengetahuan kosmis serta jalan untuk mencapai pengetahuan yang sejati.

Herakleitos memiliki pandangan bahwa yang tersisa bagi seorang manusia hanyalah dirinya sendiri, sehingga ia tidak perlu mencari pengetahuan daripada orang lain dengan melakukan ‘perjalanan’ akan hal tersebut akan menjadikan manusia sebagai korban ‘rumor’. Namun pandangannya ini tidak menjadikan ia seseorang yang percaya akan mistik, karena maksud dalam mencari didalam diri sendiri itu baginya bukan mengikuti apa kata intuisi, namun mengikuti argumentasi rasional dan juga verifikasi publik.

Doktrin Segala Sesuatu Mengalir

Herakleitos mengemukakan pandangannya mengenai kebenaran kesatuan yang berlawanan, maksudnya segala sesuatu dalam membentuk satu kesatuan pasti terdapat hal-hal yang saling berlawanan yang menjadi berpasangan seperti Kelahiran dan Kematian, Siang dan Malam, Tua dan Muda, yang sebenarnya adalah satu kesatuan dan saling menggantikan satu sama lain. Maksudnya ialah perubahan merupakan pondasi dari pemikirannya mengenai kesatuan yang berlawanan.

Herakleitos mengemukakan doktrin aliran universal dimana baginya segala sesuatu itu seperti aliran sungai yang mengalir. Menurutnya akan selalu terjadi perubahan pada setiap hal namun tetap mempertahankan identitasnya. Seperti saat kita melangkah, ada sungai yang sama tapi sebenarnya itu bukan air yang sama, melainkan aliran air yang lain. Maka sungai sebagai suatu identitas tetap dipertahankan, namun air berubah terus – menerus. Herakleitos juga mengemukakan bahwa sah-nya beberapa perubahan tidak terjadi secara signifikan dan beberapa berubah dengan cara-cara yang teratur.

Teologi Kesatuan Berlawanan

Herakleitos berpendapat bahwa dasar kehidupan seorang manusia adalah jiwa dan kecerdasan. Ia mengimajinasikan kecerdasan seperti petir yang menyambar dan mengarah ke segala hal. Karena ia mencoba untuk merumuskan cara baru untuk berbicara mengenai yang ‘Ilahi’ yang telah lama dikenal secara konvensional. Herakleitos menggambarkan ‘Ilahi’ sebagai persatuan dari beberapa hal yang berlawanan yang membentuk satu kesatuan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun ia tidak menambahkan dan tidak menganjurkan adanya praktek-praktek baru seperti Pythagoras.

Herakleitos menekankan bahwa manusia harus bertanggung jawab atas tindakan mereka bukannya menyalahkan meletakkan atas ilahi untuk nasib mereka, baik dan buruk. Baginya, “Tuhan adalah Siang dan Malam, Panas dan Dingin, Perang dan Damai, Kelaparan dan Kekenyangan,” yang dilihat paling jelas dalam perubahan dan pertentangan alam yang telah terjadi secara terus-menerus.

Pythagoras

Pythagoras lahir pada tahun 570 SM, di pulau Samos, daerah Ionia. Pythagoras menghabiskan tahun-tahun awal di Samos lalu melakukan perjalanan secara luas dengan ayahnya, Mnesarchus. Pythagoras berpendidikan tinggi, ia mahir memainkan kecapi dan membaca puisi serta Homer. Terdapat tiga filsuf yang paling berpengaruh terhadap Pythagoras muda, yaitu : Pherekydes yang digambarkan sebagai guru dari Pythagoras, kemudian Thales, dalam Iamblichus, Life of Pythagoras. Disebutkan bahwa saat belajar dibawah bimbingan Thales, Pyhtagoras tengah berusia antara 18 sampai 20 tahun-an. Thales sangat mempengaruhi minat Pythagoras dalam bidang matematika dan astronomi, dia menyarankan Pythagoras untuk pergi ke Mesir guna mempelajari lebih lanjut bidang ini. Kemudian yang terakhir adalah Anaximander, merupakan murid dari Thales sekaligus menjadi guru dari Pythagoras, ide-ide tentang geometri dan kosmologi dari Anaximander sangat mempengaruhi pandangan Pythagoras.

Pada sekitar 535 SM, Pythagoras pergi ke Mesir untuk berguru pada imam-imam di Mesir. Bahkan karena kecerdasannya yang luar biasa, para imam yang dikunjunginya merasa tidak sanggup untuk menerima Pythagoras sebagai murid. Namun pada akhirnya ia diterima sebagai murid oleh para imam di Thebe. Di kota ini, Pythagoras belajar berbagai macam misteri. Ia mencapai kesempurnaan di Acme aritmetika, musik dan ilmu-ilmu matematika yang diajarkan di Babel. Pada sekitar 520 SM Pythagoras meninggalkan Babel dan kembali ke Samos. Pythagoras melakukan perjalanan ke Kreta tidak lama setelah ia kembali ke Samos untuk mempelajari sistem hukum di sana. Setelah sukses, ia kembali ke Samos dan mendirikan sebuah sekolah yang disebut setengah lingkaran. Pythagoras meninggalkan Samos dan pergi ke Italia selatan pada sekitar 518 SM. Ia lalu mendirikan sekolah filosofis dan sekolah agama di Croton, sebelah Timur Italia yang memiliki banyak pengikut yang dikenal dengan sebutan Kaum Phytagorean. Laki-laki dan perempuan diperbolehkan untuk menjadi anggota Kaum Pythagorean, bahkan beberapa wanita kemudian menjadi terkenal filsuf Pythagorean.

Fragmen – Fragmen Puisi Filosofis

Bagi Pythagoras, filosofi merupakan dasar-dasar cara hidup yang dapat mengarahkan manusia menuju keselamatan jiwa. Mengikuti Tuhan adalah satu satu prinsip yang mengatur filsafat Pythagoras dan pengikutnya. Menurutnya pusat dari filosofi adalah terciptanya hubungan yang baik antara manusia dan bentuk kehidupan lainnya. Pythagoras masih mempercayai kepercayaan – kepercayaan tabu primitif dari beberapa wilayah yang kemudian ia tafsirkan dan simboliskan sendiri menurut dirinya sendiri. Pythagoras dan pengikutnya diperkirakan juga mempercayai Dewa Yunani Apollo, selain itu Pythagoras juga percaya pada Reinkarnasi. Dalam hal kosmos, ia menganggap bahwa alam semesta itu hidup dan merupakan makhluk yang bernafas, Pythagoras juga membedakan sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia dan kosmos, menurutnya manusia itu bersifat dapat dibagi dan tidak abadi sedangkan kosmos bersifat satu, abadi, dan ilahi.

Doktrin Angka

Pythagoras mempelajari matematika dalam konteks kosmik, bagi Pythagoras serta pengikutnya, angka-angka memiliki kesakralan mistik yang memegang kunci penting untuk menuju ilahi. Harmoni bagi Pythagoras selain identik dengan musik, harmoni juga menandakan struktur yang terorganisir secara baik sesuai porsi.

Tetractys sendiri bagi mereka merupakan simbol dari sumber dan akar dari alam yang kekal. Hal ini berdasarkan penemuan mereka terkait suara yang mereka akui sebagai sesuatu yang indah yang bergantung dan melekat, objektif dan ternyata terdapat unsur matematik sehingga mereka menyimpulkan bahwa angka-angka merupakan kunci dari ketertiban pada alam semesta secara keseluruhan.

Prinsip – Prinsip Utama

Pythagoras mengemukakan pendapatnya mengenai prinsip-prinsip utama yaitu ‘Batas’ dan ‘Tidak Terbatas’ yang olehnya disamakan dengan konsep baik dan buruk. Dalam hal ini Pythagoras tampak membuat konsep moral agar bisa berdampingan dengan konsep-konsep fisik dalam suatu sistem yang luar biasa. Pythagoras kerap kali mengabstraksikan fenomena moral dan fisik dengan angka-angka, misalnya angka 4 yang melambangkan keadilan, dan nomor pada persegi yang melambangkan kesetaraan. Secara umum terlihat kosmos yang hendak dicapai oleh Pythagoras adalah dengan pengenaan batas pada suatu yang tak terbatas agar memiliki batas sehingga menghasilkan rasio atau skala harmoni.

Kosmogini dan Kosmologi

Pythagoras berpendapat bahwa kosmogoni bermula dari penanaman ‘unit benih’ dalam yang ‘tidak terbatas’. Pythagoras menganggap bahwa generasi hidup kosmos itu sama dengan yang dilakukan ‘hewan’ lainnya. Unit benih ini memiliki sifat api yang tumbuh dari pusat ke luar dengan api yang menjadi pusatnya. Api diberi posisi sentral bukan karena alasan ilmiah namun kekagumannya dengan agama, menjadikan api sebagai tempat yang paling terhormat.

Baca juga:  DEMA FDK : Saya Meminta Maaf Kepada Semua Pihak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here