Telaah Pemikiran Filsafat Thales dan Anaximenes

0
69
Epistemologi: Bagaimana Memperoleh Pengetahuan
https://twitter.com/_hanooni_/status/1349573676383911937?s=20
Zainul Fitroh
Kru Magang Justisia 2021 | + posts

Thales

Filsafat menjadi penting sejak ratusan abad sebelum masehi. filsafat tumbuh dan berkembang seiring berkembangnya  peradaban manusia. Adalah Thales, orang yang dianggap filsof pertama dalam dunia filsafat barat. Thales diperkirakan lahir pada 630 SM. Berjuluk Bapak Filsafat, ia merupakan salah satu dari seven ages of Greek (tujuh orang bijak Yunani).

Thales mempunyai gagasan bahwa alam terbentuk dari air sebagaimana filsuf pada era itu yang menggunakan unsur-unsur utama di alam dalam merumuskan pandangan mengenai pembentukan alam. Menurutnya, setiap kehidupan di bumi memerlukan air. Air menjadi pokok dari segala-galanya. Air dapat mengalir dan membentuk dirinya sendiri tanpa hambatan dan gangguan dari luar.

“Thales says ‘that it is water’, ‘it’ is the nature, the arche, the originating principle. For thales, this nature was a single material substance, water.”

Pemikiran Thales telah jauh dari mitos-mitos yang ada dan berpikir dengan logika dan rasio. Menurut Aristoteles, Thales adalah filsuf alam pertama yang ada.

Anaximenes

Anaximenes diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-6 SM dan meninggal sekitar tahun 528 SM. Aneximenes merupakan satu dari tiga filsuf Miletus yang terkenal. Dua yang lain adalah Thales dan Anaximander.

Terkenal dengan doktrin udaranya, Anaximenes menyatakan bahwa segala sesuatu bermula dari udara. Menurutnya, udara adalah sesuatu yang tersedia dimana-mana dan berpartisipasi dalam proses fisik. Kekuatan alam mengubahnya menjadi materi lain yang bersatu untuk membentuk dunia yang terorganisir.

Menurut Anaximenes, “when it is thinned it becomes fire, when it is condensed it becomes wind, then cloud, when still more condensed it becomes water, then earth, then stones.”

Udara berbeda pada intinya sesuai dengan kelangkaan atau kepadatannya. Kalau ditipiskan jadi api, kalau dipadatkan jadi angin, lalu awan, kalau lebih dipadatkan jadi air, lalu tanah, lalu batu.

Anaximedes menggunakan eksperimen sederhana; jika meniup tangan dengan mulut rileks, udara menjadi panas; jika seseorang meniup dengan bibir mengerucut, udaranya dingin. Oleh karena itu, menurut Anaximenes melihat bahwa kelangkaan berkorelasi dengan panas (seperti pada api, dan kepadatan dengan dingin, (seperti pada benda yang lebih padat).

Baca juga:  Puasa Sebagai Etika Pembebasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here