Suran Agung di Madiun: Antara Seni, Tradisi dan Religi

0
100
M. Lutfi Nanang Setiawan
Kru Magang 2020 | + posts

Berdirinya suatu pemerintahan yang pada akhirnya terbagi menjadi kota dan kabupaten seperti yang ada pada daerah di Indonesia lainnya, pasti tidak bisa lepas dari pengaruh dan intervensi kerajaan yang ada sebelumnya. Hal ini bisa dipelajari dari sisa-sisa peninggalan sejarah, baik berupa barang, adat istiadat maupun lembaga-lembaga.

Tidak terkecuali wilayah Madiun, yang jika diruntut kembali dengan kaca mata sejarah merupakan tanah perdikan pada masa pemerintahan Kesultanan Mataram. Jauh sebelumnya, pada masa akhir pemerintahan Majapahit di wilayah Madiun terdapat kerajaan atau pemerintahan Gegelang Ngurawan yang didirikan oleh Pangeran Adipati Gugur, putra Brawijaya terakhir. Madiun mulai dijamah oleh bangsa kolonial, seperti Belanda dan negara Eropa lainnya setelah meletusnya Perang Diponegoro.

Peninggalan kerajaan Mataram yang ada di Madiun selain berupa fisik seperti Masjid Kuno Kuncen dan Masjid Kuno Taman Madiun, ada juga peninggalan budaya yang turun temurun oleh masyarakat Madiun digunakan sebagai tradisi lokal-kultural. Bahkan, beberapa tradisi lokal seperti Suran Agung dan Ruwat Sengkolo Bumi Projo menjadi kegiatan rutinan setiap tahun.

Tradisi lokal yang sudah menjadi corak kultral di wilayah Madiun itu seakan menjadi acara wajib tahunan yang sarat dengan nilai sejarah dan sosial. Pasalnya—dua tradisi yang sudah disebutkan di atas—masih erat hubungannya dengan peringatan malam Satu Suro (pergantian tahun Hijriyyah) yang bagi sebagian masyarakat Jawa dianggap sakral, simbolik dan penting.

Tradisi saat malam Satu Suro bermacam-macam tergantung daerah mana memandang peristiwa ini, sebagai contoh Tapa Bisu, atau mengunci mulut tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Dengan tujuan untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang sudah dilakukannya selama setahun penuh, dan menghadapi tahun baru di esok paginya.

Tradisi lainnya yang lumrah kita ketahui adalah Kungkum atau berendam di sungai besar atau sendang. Wilayah Jogjakarta dan sekitarnya juga memiliki tradisi berbeda dalam menyemarakkan malam Satu Suro, yaitu Tirakatan (dengan tidak tidur semalam suntuk) dengan Tuguran (perenungan diri sambil berdoa) dan Pagelaran Wayang Kulit. Selebihnya, tidak sedikit yang menjadikan malam suro sebagai saat yang tepat untuk melakukan Ruwatan (tradisi upacara adat).

Madiun sendiri memiliki ciri khas dan pola berbeda dalam merayakan tradisi malam satu suro. Mengingat Madiun yang diatribusikan dengan Kampung Silat—lantaran delapan dari sebelas pencak silat yang ada di Indonesia lahir dan besar di bumi Madiun—maka tidak heran kalau orang yang terafiliasi dengan salah satu pencak silat menggunakan momen monumental seperti ini sebagai ajang silaturahmi, mencuci pusaka dan pengesahan anggota baru.

Lumrahnya, pada malam harinya mereka mencuci pusaka, nyekar di makam leluhur dilanjutkan dengan tirakatanmelekan (tidak tidur semalam suntuk) atau biasanya acara pelantikan anggota yang sudah dinyatakan lulus/sah menjadi warga dan paginya keluar keliling wilayah Madiun menggunakan motor. Sedihnya, anggota pencak silat yang kebanyakan muda sering tidak bisa mengendalikan emosi saat konvoi. Akhirnya berujung pada kerusuhan, anarkis dan membahayakan bagi warga sekitar.

Namun di akhir-akhir tahun ini semua sudah berubah atas kesigapan serta pendekatan yang dilakukan aparat keamanan. Ketakutan serta kekhawatiran masyarakat kini sudah mulai hilang bahkan masyarakat sudah merasakan ketentraman dan kenyamanan dengan adanya acara Suran Agung yang digelar. Di tahun 2020, melalui rapat koordinasi antara perwakilan dari pengurus Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), dan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sepakat meniadakan tradisi Suronan karena pandemi Covid-19.

Peristiwa seperti ini sering dijumpai di wilayah Madiun, terlebih pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate dan Persaudaraan Setia Hati Winongo. Dua organisasi pencak silat terbesar di Indonesia itu tidak pernah absen untuk ikut serta menyemarakkan tradisi suroan yang hanya digelar sekali dalam setahun. Tradisi yang sarat dengan nilai sosial, kultural dan religius.

Peristiwa seperti ini sering dijumpai di wilayah Madiun, terlebih pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate dan Persaudaraan Setia Hati Winongo. Dua organisasi pencak silat terbesar di Indonesia itu tidak pernah absen untuk ikut serta menyemarakkan tradisi suroan yang hanya digelar sekali dalam setahun. Tradisi yang sarat dengan nilai sosial, kultural dan religius.

Hemat penulis, peninggalan budaya yang dari dulu nenek moyang ejawentahkan dalam kesehariannya dan terbawa hingga anak cucunya jauh lebih bisa diterima dan dirasakan pada zaman sekarang. Mengingat tantangan zaman yang lebih komplek dan mayoritas komunal yang memprioritaskan jalan praktis dan realistis, maka tidak salah kalau rata-rata asumsi orang sekarang terfokus pada kecanggihan teknologi dan komunikasi.

Sebut saja misalnya anak di zaman sekarang jauh berbeda dengan anak pada zaman dahulu. Kontras perbedaan yang sangat layak untuk dijadikan alasan adalah ketika intervensi teknologi canggih sudah meramban memasuki kawasan mindset mereka (anak zaman sekarang). Lebih suka dan bergairah memainkan barang yang hanya segenggam tangan dengan aplikasi yang memanjakan mata berjam-jam dibanding mencoba mengingat kembali sejarah yang mulai ditinggalkan oleh mayoritas orang.

Kini saatnya, sebagai Generasi Z (orang-orang yang lahir pada 1995-2010) yang tumbuh ditemani transisi perkembangan teknologi mengkontruksi kembali pola pikir, bahwa breakdown mengulas catatan dan sejarah lama serta melanggengkan tradisi yang sudah ada kiranya perlu. Lebih baiknya juga perlu mengakulturasikannya dengan inovasi-inovasi baru. Sebab pola pikir Generasi Z lebih terbuka terhadap perubahan dan inovatif untuk mengembangkan hal baru.

Baca juga:  Hakim Boleh Ketawa dan Sedikit Ngejoke Saat Sidang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here