Sosial dan Sosialisme Islam HOS. Tjokroaminoto

0
50
sumber foto: kebudayaan.kemendikbud.go.id
M. Lutfi Nanang Setiawan
Kru Magang 2020 | + posts

Semarang, Justisia.com – Seorang pemimpin nasionalis berkebangsaan Belanda, P.F. Dahler, menyebut Tjokroaminoto sebagai seorang “Harimau Mimbar”, yang pidato-pidatonya begitu menggelegar dan dapat memukau pendengarnya sampai berjam-jam. Dengan postur tubuh yang tegap, penampilan wibawa, suara berat serta bahasa yang teratur dalam menyampaikan menjadi ciri khas tersendiri bagi tokoh yang kemudian hari menjadi guru lakon bagi Soekarno.

Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882 di sebuah kampung di Madiun Jawa Timur. Cikal bakal keluarganya berasal dari Ponorogo, desa Tegalsari. Kakek dari nasab ibunya, Kyai Hasan Besari, adalah salah satu tokoh penyebar Islam di wilayah Karesidenan Madiun. Tampaknya, latar belakang keluarganya itulah yang membuat ayahnya, Raden Mas Tjokromiseno, memberi pendidikan agama sejak dini secara ketat. Di samping pendidikan Barat sesuai lazimnya para pejabat pada masa itu.

Titik awal pemikiran kritis dan mendalam Tjokroaminoto mulai pada tahun 1907. Saat itu ia mulai aktif menekuni dunia jurnalistik. Tulisan-tulisannya di media cetak dikenal sangat tajam. Salah satu karya monumentalnya adalah buku “Islam dan Sosialisme”. Di dalamnya memuat sistem kemasyarakatan yang sosial-religius dengan susunan pemerintahan yang bersendikan demokrasi. Merupakan antitesis untuk menanggulangi faham sosialisme yang diusung oleh kaum atheis dan komunis di Indonesia (pada waktu itu).

Islam dan Sosialisme

Menurut KBBI Daring, arti ‘sosial’ adalah (1) berkenaan dengan masyarakat, (2) suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya). Sedangkan jika terdapat penambahan ‘isme’ di akhir kata, maka lebih terfokuskan secara terstruktur. Artinya, sosialisme adalah ajaran atau paham yang mengedepankan kepentingan masyarakat luas dibanding kepentingan pribadi atau golongan.

Jauh sebelum membahas lebih dalam, kiranya perlu tahu celah perbedaan antara sosialisme dan komunisme. Sosialisme berbeda dengan komunisme. Adapun sosialisme ialah salah satu bagian yang terpenting dari pada komunisme.

‘Komunisme’ ialah segala peraturan yang menyerang sifatnya kepunyaan seseorang dan hendaknya barang-barang dimiliki secara bersama. Berbeda dengan ‘Sosialisme’ yang lebih menghendaki cara hidup “satu buat semua dan semua buat satu.” Cara hidup yang hendak menunjukkan kepada kita untuk memikul beban dan tanggung jawab antara satu dengan yang lain. Contoh mudahnya, dalam Islam, orang yang mempunyai harta lebih dibebankan untuk zakat sebagai representasi dari tolong menolong kepada orang yang tidak mampu.

Akar sosial dan sosialisme dalam Islam terdapat di dalam surah al-Baqoroh ayat 213 yang mengindikasikan bahwa seluruh umat manusia itu bersaudara atau bersatu. Tidak berhenti hanya sebatas persaudaraan dan persatuan, nilai dan norma yang terkandung di dalamnya juga tidak kalah krusial. Justru, hal itu bisa berpotensi menjadi prasyarat. Seperti upaya untuk menciptakan perdamaian, tidak ada perbedaan antara suku dan ras serta kesetaraan antara laki dan perempuan.

Bertolak dari pengertian Islam yang memiliki 4 macam definisi; Aslama (tunduk kepada Allah Swt.), Salima (selamat), Salmi (rukun), Sulami (tangga untuk mencapai tingkat keluruhan duniawi dan ukhrawi), ternyata terkonvergensi menuju satu titik, yaitu kemanusiaan dan kesejahteraan. Menurut Tjokroaminoto, Islam adalah pesawat kemajuan yang terbesar yang terkenal oleh perikemanusiaan.

Mengingat puncak tertinggi syariat dalam menetapkan konsensus hukum yang dapat diterima dan dikonsumsi masyarakat luas adalah sarat dengan nilai kesejahteraan. Pun seorang pemimpin harusnya cakap dalam mempertimbangkan regulasi dan kebijakan, apakah bagi masyarakat membuahkan kemaslahatan atau justru kemafsadahan. Karena tidak ada kewajiban mematuhi pemimpin yang tidak berpihak terhadap masyarakat.

Islam adalah sebenar-benarnya satu agama yang bersifat demokratis dan telah menetapkan beberapa banyak hukum yang bersifat sosialistik bagi orang-orang yang memeluknya. Islam mengedepankan persaudaraan yang harus dilakukan benar-benar di antara orang-orang Muslim di negeri mana pun juga, baik yang berkulit putih atau gelap, berkulit merah atau kuning, yang kaya atau yang miskin.

Islam telah menghapus perbedaan karena bangsa dan perbedaan kulit sampai begitu luasnya. Hal ini dibuktikan paska meninggalnya Rasulullah Saw., pimpinan negara Madinah tidak diberikan kepada keluarganya yang terdekat atau tercinta, tetapi diberikan kepada salah satu sahabat dekatnya. Bercermin dari peristiwa tersebut, cukup untuk bisa dikatakan kalau Islam adalah agama demokratis yang menjunjung tinggi nilai sosialis.

Sosialisme Islam dalam Kehidupan Sehari-hari

Sejak zaman Nabi Muhammad Saw. sosialisme yang ada dalam tubuh Islam tidak hanya sebatas teori (ajaran), tetapi wajib untuk diamalkan. Pengutusan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. sendiri tidak lain untuk misi rahmat li al-alamin. Membawa rahmat bagi semesta alam, mengakui satu Tuhan, yaitu Allah yang Maha Kuasa, dan supaya sekalian manusia menjadi satu persatuan.

Kita tahu sebelumnya, peradaban jahiliyyah bangsa Arab yang begitu gelap dan jauh dari pengetahuan sedikit demi sedikit digerus dan diganti dengan ajaran Islam. Peradaban jahiliyyah Arab yang kental dengan budaya mengubur hidup-hidup bayi wanita yang baru lahir dihilangkan oleh norma Islam yang menyatakan bahwa manusia adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Tuhan. Juga pembebasan budak dengan dalih di hadapan Tuhan derajat manusia sama kecuali kadar takwanya.

Para sahabat Nabi, seperti Sahabat Umar R.A yang menjadi raja menguasai akhiratul Arab lebih suka tidur dan berbaur diri dengan orang-orang miskin dan tidak mampu. Bahkan, ia menolak julukan dan sematan yang berbau kehormatan dan keagungan. Begitu juga dengan Sahabat Usman pada waktu lanjut usia dan lemah badannya, ia justru rela mendermakan hartanya untuk membeli sumber air banyak dan diperuntukkan secara cuma untuk keselamatan rakyatnya.

Dewasa ini, sosialisme sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia pesantren, terlebih pondok salaf, yang di mana dalem kasepuhan rata-rata digunakan sebagai ladang mencari barokah dan ikhtiar takzdim kepada kyai oleh santri yang kurang mampu atau santri yang ingin mondok tetapi kendala biaya. Biasanya pihak pondok menempatkan santri tersebut di dalem kasepuhan untuk nderek kyai; dari cuci baju, membersihkan ruang kamar hingga nimba air untuk keperluan mandi kyai.

Di pesantren juga tidak asing dengan istilah mayoran atau makan bareng. Santri dengan uang saku lebih membelanjakan sebagian uang sakunya untuk keperluan masak sedangkan santri lainnya yang memasak. Jadi, antara satu santri dengan lainnya punya andil dan tidak merasa dirugikan. Tidak lain untuk menjalin solidaritas juga persaudaraan yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. [Red. Musyaffa’]

Baca juga:  Pendidikan Gaya Bank

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here