Sebuah Konsep Pendidikan Islam ala Gus Dur

0
22
Warisan Pemikiran Gus Dur Terhadap Islam Nusantara
Foto Gus Dur. Sumber: tirto.id
M. Lutfi Nanang Setiawan
Kru Magang 2020 | + posts

Semarang, Justisia.com – Kebutuhan utama yang sangat diperlukan manusia salah satunya adalah pendidikan. Terutama pendidikan Islam yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan zaman. Tak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan selanjutnya ada sekian banyak tuntutan yang mengharuskan peran serta pendidikan Islam untuk membuat pembaharuan dalam mempertahankan eksistensi pendidikan Islam di era global.

Pendidikan Islam tidak bisa lepas dari peran manusia. Hal itu ditegaskan oleh Gus Dur. Pemikir Muslim dari pesantren ini membangun paradigma klasik menuju paradigma modern dengan tujuan menyatukan perbedaan antar umat, baik perbedaan dalam hal keyakinan, ras, agama maupun kultur. Gus Dur akan berada di garis depan dalam membela kaum minoritas atas dasar kemanusiaan dengan tidak melupakan esensi ajaran Islam.

Konsep pendidikan menurut Gus Dur adalah konsep pendidikan yang didasarkan pada keyakinan religius dan bertujuan untuk membimbing atau menghantarkan peserta didik menjadi manusia yang utuh, sadar penuh, mandiri dan bebas dari belenggu penindasan hak asasi manusia. Pendidikan Islam perspektif Gus Dur tidak bisa lepas dari peran pesantren sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang menjadi wahana moral dan tradisi intelektual Islam tradisional.

Pendekatan Gus Dur dalam usaha membentuk corak pendidikan Islam dimulai dengan memperlihatkan eksistensi Islam terhadap kehidupan masyarakat melalui pendidikan sosial. Pendekatan ini mengedepankan sikap mengembangkan pandangan dengan upaya membangun masyarakat yang sesuai wawasan yang ingin dicapai. Terkait dengan pembelajaran, pendekatan yang digunakan harus merangsang kemampuan anak didik agar bersifat kritis, serta penekanan pada sisi afektif dan psikomotorik. (Anita Nur, 2016)

Mengubah Pemikiran Konvensional

Gus Dur dalam hal pendidikan Islam menganggap bahwa suatu pendidikan haruslah mampu menjawab tantangan era globalisasi, bukan terkungkung pada praktik konvensional. Pun begitu, pesantren menurut Gus Dur juga perlu menanggalkan sistem pembelajaran yang doktriner (sendiko dawuh) agar santri memiliki daya kritis dan lebih eksploratif. Pemikiran dinamis Gus Dur ini mendobrak tradisi budaya pesantren yang kental akan hierarki, feodalistik dan etika yang formal.

Pembelaran pendidikan Islam perlu lebih konstektual dalam menanggapi permasalahan sehari-hari yang realitanya lebih banyak menyuguhkan dinamika komplek dan multi, dibanding mempertahankan metoda lawas yang secara praktik dan konsepnya sudah usang, gersang dan tidak mampu mengikuti arus perubahan zaman.

Kedua, pendekatan kultural. Strategi ini dirancang untuk pengembagan kepribadian manusia, dengan cara memperluas pengetahuan mereka. Pandangan Gus Dur terhadap konsep kultural ini bahwa Islam jangan mudah terjebak pada teks literatur universal yang telah dimiliki. Tetapi, harus membuka cakrawala pemikiran untuk melihat perkembangan dunia, sebagai bentuk pengetahuan dan informasi supaya mampu bersaing secara kompetitif dengan dunia luar.

Kerangka pendekatan kultural harus dikembangkan dan dikaitkan dengan pendidikan Islam, bahwa unsur-unsur Islami menjadi kebiasaan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kultural tidak bisa hanya dimaknai secara tekstual, bisa meluas meliputi segala hal yang bersingunggan dengan masyarakat secara luas, diterima dan mendapat legitimasi baik. Kebudayaan adalah pembebasan.

Menurut Tilaar, ada sejumlah butir yang dikemukakan Ki Hadjar, bahwa kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan. Kebudayaan harus bersifat kearifan tradisi dan kebangsaaan, bukan hanya masayarakat Jawa, tetapi juga masyarakat Indonesia. Pendidikan bukan hanya salah satu aspek kehidupan, tetapi seluruh kehidupan manusia. Arah pendidikan mengangkat derajat negara dan rakyat Indonesia. (Sularto, 2016)

Ketiga, strategi sosio-kultural. Gus Dur menjadikan pesantren sebagai sebuah tempat yang istimewa. Pesantren sebagai ruang pemikiran keIslaman masih terbuka bagi masyakarat yang tetap memperjuangkan budaya Islam tradisional dengan prinsip menjaga tradisi lama yang sudah baik, dan mengambil nilai baru yang lebih baik. Pesantren memiliki beragam disiplin ilmu mulai dari ilmu tata bahasa arab klasik, Tafsir al Quran, dan teks-teks hadis Nabi.

Pesantren sebagai perwujudan utuh lembaga pendidikan Islam telah bekerja keras menularkan nilai-nilai keIslaman turun temurun. Pendidikan efektif dan efisien yang dicitakan sesuai dengan adagium ‘Tut Wuri Handayani’ adalah sistem pondok, bentuk pendidikan berasrama (boarding school) yang sudah ada jauh sebelumnya di Indonesia, seperti pondok pesantren. Dalam sistem itu, terjadi interaksi antara guru (pamong) dan murid (siswa) dalam sebuah pergumulan hidup, pengembangan sisi intelektual-keterampilan juga budi pekerti.

Menurut Gus Dur tujuan pendidikan Islam adalah untuk memanusiakan manusia. Pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur, yaitu pembelajaran yang membebaskan pemikiran manusia dari belenggubelenggu tradisionalis yang kemudian ingin didaur ulang dengan melihat pemikiran kritis yang terlahir oleh Barat modern. Dengan demikian, akan memunculkan term pembebasan dalam pendidikan Islam dalam koridor ajaran Islam yang harus dipahami secara komprehensif, bukan dengan pemahaman yang parsial. (Nizar Muzaki, 2019)

Berkaca pada pesan Gus Dur semasa hidup, “Guru spiritualku adalah realitas, dan guru realitas saya adalah spiritualitas”, pemeluk Islam perlu memahamkan kepada generasi setelahnya akan pentingnya memahami Islam yang benar dan menerapkannya melalui ajaran yang benar tentang Islam. Hasrat pengembangan pendidikan Islam tidak terbatas pada aspek formal, penerapan perlu berkembang lebih luas menyasar aspek kultural-ritual, seperti pengajian, majlis dzikir, maupun tarekat.

Ritual seperti itu menurut Gus Dur mampu menyadarkan kembali kepada kehidupan agama yang kaffah meski bersifat sementara. Kenyataan inilah menjadi pesan sekaligus semangat untuk seluruh Muslim sebagai insan pembawa ajaran pendidikan Islam yang damai dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari. [Red. M2]

Konten ini dihasilkan dari kolaborasi Justisia.com X NU Jateng selama Ramadhan 1442 H.

Baca juga:  Islam dan Kedaulatan Ekonomi Perspektif KH. Musta'in Syafi'i

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here