KKN di Desa Penari

0
79
Resensi Buku: KKN Desa Penari
foto Manoj Punjabi
M. Cahaya Prima B. S.
Kru Magang 2020 | + posts

Identitas Buku

Judul buku : KKN di Desa Penari
Genre : Horor
Nama pengarang buku : SimpleMan
Penyunting Buku : Sein Arlo
Penerbit Buku : Bukune
Tahun terbit buku : 2019
Ketebalan buku : IV + 256 Halaman
Cetakan : Kedua, Oktober 2019
Ukuran buku : 14×20 cm
Warna buku : Hitam
Jenis Resensi : Informatif
ISBN : 978-602-220-339-9
Peresensi : Sitepu

Biografi Penulis

SimpleMan, nama samaran dari seorang penulis buku KKN di Desa Penari dan 2 buku lainnya yang berawal dari thread di Twitter.

Pria anonim ini diperkirakan berusia 30 tahun ke bawah dan memiliki aksen dari timur Pulau Jawa. SimpleMan juga diyakini gemar membaca buku karena sang penulis sudah mengerti bagaimana plot cerita dan struktur dalam kepenulisan novel.

Tak ada informasi pasti terkait sosok aslinya, karena SimpleMan memilih menjadi akun anonim di platform Twitter. Pria ini mengatakan punya beberapa alasan menjadi sosok anonim, salah satunya karena ingin jadi pribadi yang low profile.

SimpleMan sendiri bukan pertama kalinya membuat thread horor. Dia bergabung di Twitter sejak Februari 2019 dan sudah menulis cerita-cerita horor lainnya. Tujuan ia membuat akun tersebut untuk membagikan kisah-kisah mistis yang dialami oleh orang-orang di sekitarnya.

Sinopsis Buku

Buku KKN di Desa Penari karangan SimpleMan ini mengisahkan tentang kehidupan 6 Mahasiswa yaitu Widya, Ayu, Nur, Bima, Wahyu, Anton yang akan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) jalur mandiri ke sebuah desa di ujung timur Pulau Jawa selama 45 hari.

Setelah melakukan perjalanan 4-6 jam dari kota mereka berangkat, tibalah disuatu hutan dipinggir jalan raya yang begitu sepi dan mereka dijemput oleh warga desa dengan motor dikarenakan akses menju desa mereka yang cukup terjal dan sulit dilalui mobil.

Pada saat perjalanan pun Widya dan Nur merasakan kejanggalan mulai dari suara gamelan nan meriah layaknya sebuah pesta dan juga melihat siluet seorang wanita yang tengah menari di kegelapan hingga akhirnya mereka tiba di sebuah desa di tengah hutan.

Selama di desa tersebut mereka menjalankan Proker (Program Kerja) yang sudah mereka siapkan sebelum KKN dimulai. Namun kejanggalan-kejanggalan yang ada di desa tersebut mulai dirasakan oleh 6 Mahasiswa yang tengah melaksanakan KKN.

Hingga tiba pada suatu malam dimana Widya mengikuti Bima ke suatu tempat terlarang yang dinamakan “tapak tilas” dan posisinya berada di sebelah desa tersebut. Ternyata disaat Widya sampai di tapak tilas ia terkejut melihat ada bangunan megah lengkap dengan alat musik tradisional jawa yang terlihat sangat terbengkalai.

Sampai akhirnya ia mendengar sebuah suara wanita yang tengah menangis namun begitu familier. Tiba-tiba tersirat wajah seseorang, dan orang itu adalah Ayu.

Kemudian pandangan Widya teralihkan oleh sebuah gubuk berbahan kayu jati. Karena ia seperti mendengar suara Bima dan rasa penasarannya yang sangat tinggi, ia pun memberanikan diri mengintip dari lubang kecil untuk mengetahui apa isi dari dalam gubuk tersebut.

Tak disangka ternyata isi dari gubuk itu ialah Bima yang sedang berendam di sebuah sinden dan dikelilingi oleh seekor ular besar. Namun anehnya sinden tersebut sangat mirip dengan sinden yang ada di desa yang ia tempati.

Setelah itu Widya pun terkejut melihat apa yang ada di dalam gubuk maka ia segera lari tetapi seketika tempat itu menjadi ramai dengan bermacam-macam mahluk dan juga dendangan irama gamelan yang berbeda. Dan para mahluk itu sedang menari-nari layaknya sebuah pesta yang ditengahnya ada seorang penari. Ternyata penari itu adalah temannya Ayu. Kemudian Widya pun berlari menuju desa saking takutnya dengan kondisi tapak tilas.

Ulasan

1. Kelebihan Buku

Buku yang menceritakan kisah 6 Mahasiswa yang tengah KKN ini cukup menarik karena kisahnya yang diceritakan dengan 2 sudut pandang yang berbeda, dan karena hal ini lah teka-teki pada cerita di sudut pandang yang lain dapat terjawab.

Cover berwarna hitam dan judul buku berwarna merah darah, diiringi dengan font yang seirama maka buku ini pun memiliki daya tarik yang lebih jika dipajang di rak yang ada pada toko buku.

Terlebih di dalam bukunya disediakan ilustrasi yang memfasilitasi imajinasi si pembaca untuk mendapatkan suasana horor yang diharapkannya.

2. Kekurangan Buku

Dalam buku ini menceritakan 2 sudut pandang orang yang berbeda yang mana seharusnya menjadi kelebihan buku ini tapi justru dapat menjadi bumerang juga karena sebenarnya keseluruhan cerita tetaplah sama namun hanya ada segelintir perbedaan saja. Hal tersebut dapat membuat pembaca menjadi jenuh karena yang diceritakan sebenarnya adalah hal yang sama.

3. Saran

Saran dari saya sebagai peresensi buku KKN di Desa Penari yaitu buku ini layak dibeli bagi kalangan yang suka akan cerita horor dengan catatan, lebih baik jangan membaca thread KKN di Desa Penari karena menurut saya hanya akan menjadi pengulangan cerita terlebih di buku ini diceritakan dalam 2 sudut pandang yang mana keseluruhan ceritanya sama saja dan hanya memiliki sedikit perbedaan. Worth to buy kok hehehe. [Red. Musyaffa’]

Baca juga:  "Faded", Single Pertama Alan Walker yang Fenomenal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here