Perubahan Itu Bermula dari Meja Makan

0
36
Perubahan Itu Bermula dari Meja Makan
Foto Meja Makan dan Makanan di Mie Gacoan Semarang
M. Sidik Pramono
Pemimpin Redaksi Justisia.com 2021 | + posts

Redaktur di Justisia.com

Semarang justisia.com – Sewaktu kecil kita sering ditegur oleh orang tua untuk tidak menyisakan makanan. Kalau di Jawa khususnya Jawa Tengah, jika seorang anak yang tidak menghabiskan makanannya dia akan ditakut-takuti bahwa ayamnya akan mati semua.

Terlepas itu benar atau tidak, mitos atau fakta tapi secara ilmu pengetahuan, menyisakan makanan ternyata memiliki dampak besar kepada pemanasan global sekaligus menambah parah kerusakan iklim yang ada di bumi tercinta ini. Mengapa demikian? Dalam tulisan ini saya coba mengulas sedikit tentang pentingnya menghabiskan makanan di kala makan.

Mengutip dari laman waste4change.com sampah sisa makanan yang kita produksi akan menghasilkan gas metana (CH4) yang sangat berbahaya bagi lapisan ozon.

Bagaimana itu bisa terjadi? Proses penguraian sampah sisa makanan yang termasuk sampah organik (dekomposisi anaerobik) menghasilkan gas Metana (CH4). Gas metana merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GHG) yang dapat mempercepat degradasi lapisan ozon bumi ini. Perlu kita ketahui bersama, jika gas metana memiliki efek yang lebih ganas dari pada karbon dioksida (CO2).

David Wallace-Wells dalam bukunya menuliskan, Metana setidaknya beberapa lusin kali lebih kuat sebagai gas rumah kaca dibandingkan dengan karbon dioksida (CO2). Hal yang sama juga diungkapkan salah satu professor di Universitas Kristen Indonesia, Atmonobudi Soebagio, menuliskan, gas metana yang terlepas ke atmosfer ialah salah satu gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan globlal 25 kali lebih besar bila dibandingkan dengan gas CO2 untuk periode 100.

Lebih lanjut lagi, metana memiliki efek besar untuk periode pendek yakni selama 8,4 tahun di atmosfer. Berbanding terbalik dengan gas CO2 yang mempunyai efek kecil dan berlangsung dengan periode lebih dari 100 tahun. Dengan perbedaan periode dan efek, potensi pemanasan yang disebabkan karena gas metana untuk periode 20 tahunan senilai 72 kali lebih besar dari pada potensi pemanasan global yang disebabkan oleh gas karbon dioksida.

Perlu kita ketahui bersama, berdasarkan data yang dikeluarkan Food Sustainability Index 2017 oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), negara tercinta kita, Indonesia menjadi negara kedua dari bawah yang satu tingkat lebih baik dari Arab Saudi dalam hal limbah makanan yang terbuang percuma (Food Loss and Waste).

Data yang lebih spesifik diungkapkan oleh Perwakilan Food and Agriculture Organization of The United Nations (FAO) melalui Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders, sebagaimana yang dilansir finance.detik.com menyatakan, bahwa 13 juta metrik ton makanan terbuang setiap tahunnya. Jika 1 ton sampah sisa makanan ketika pembusukan menghasilkan 50 kg metana maka dalam satu tahun akan menghasilkan 260 ribu ton gas metana. Bila dikonversikan ke CO2 dengan periode 20 tahun, maka akan setara dengan 18,72 juta ton CO2. Sebuah angka yang sangat fantastis dengan konsekuensi kerusakan iklim yang sangat berbahaya bila kita hanya diam berpangku tangan membiarkan itu terjadi pada dunia kita.

Rusaknya ozon akan berdapak pada memanasnya suhu di permukaan bumi. Memanasnya permukaan bumi akan menghasilkan efek buruk yang tak pernah terbayangkan. Dalam buku The Uninhabitable Earth dituliskan secara gambling tanpa tedeng aling-aling. Mulai dari pemanasan air laut, kelaparan, kekeringan, laut yang sekarat, udara yang tak bisa dihirup, tenggelamnya daratan di dunia, wabah yang diakibatkan karena pemanasan di permukaan bumi, ambruknya ekonomi, hingga konflik yang disebabkan karena pemanasan global.

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan panjang lebar mengenai efek yang diakibatkan karena pemanasan global. Akan tetapi, saya akan mencoba menawarkan salah satu solusi sederhana yang kiranya dapat dilakukan oleh setiap individu.

Selesai di Meja Makan

Sampah organik yang ada dihasilkan dari mulai tahap pendistribusian hasil pertanian hingga proses pengolahan bahan mentah menjadi bahan matang yang siap dikonsumsi. Akan tetapi, sampah organisasi paling banyak diproduksi terjadi pada saat makan. Dari situlah keterkaitan antara perintah menghabiskan makanan yang saya sampaikan di atas dengan penyelamatan bumi dari pemanasan global.

Mudahnya adalah begini, pada saat kita dapat menghabiskan makanan yang kita makan di meja makan sudah barang pasti kita tidak akan memproduksi sampah sisa makanan. Pada saat kita tidak menghasilkan sampah sisa makanan, kita akan meminimalisir pemroduksian metana ke atmosfer. Jika metana tidak terlepas ke atmosfer maka pemanasan global akan bisa dilambatkan untuk beberapa tahun atau bahkan beberapa dekade yang akan datang. Apabila pemanasan global dapat direm untuk beberapa waktu, efek kengerian pemanasan di permukaan bumi sebagaimana yang dipaparkan dalam buku The Uninhabitable Earth dapat ditunda beberapa waktu.

Lantas bagaimana jika dalam penyajian makanan di meja makan dilakukan secara prasmanan yang tak jarang menyisakan banyak makanan? Dari situ ada dua masalah. Pertama, tidak habisnya makanan yang telah kita ambil. Kedua, makanan yang terlanjur diolah namun masih bersisa.

Untuk penyelesaian yang pertama, sebagai orang Timur yang memegang teguh norma susila, mestinya kita tidak asing lagi dengan kata-kata makan secukupnya. Maksud secukupnya di sini dapat diartikan dengan tidak menyisakan makanan. Itu untuk persoalan pertama. Untuk permasalahan kedua, bila makanan yang diolah tersisa dan masih layak dikonsumsi maka akan lebih bijak dialihkan untuk memberikan makan kepada orang yang tidak bisa makan. Di satu sisi kita menyelamatkan bumi kita dari penambahan metana di atmosfer, di satu sisi kita juga dapat berderma terhadap sesama sekaligus menyelamatkan sesama kita dari bahaya kelaparan.

Saya pribadi sadar betul guna melakukan penyelesaian sampah sisa makanan tidak cukup selesai dengan menghabiskan pada saat makan di meja makan. Harus ada penyelesaian yang kompleks. Mulai dari melakukan pemilahan terhadap sampah organik khususnya sisa makanan, selain itu melakukan pemanfaatan sisa makanan agar tidak menyumbang metana lebih banyak lagi di atmosfer, atau dengan membuat aturan tegas oleh negara.

Akan tetapi, perlu kita ingat perkataan bahwa sebuah perubahan besar berawal dari tindakan kecil. Bisa kita bayangkan bersama, jika sekitar 268 juta penduduk Indonesia tidak menyisakan sedikitpun makanan, sudah berapa ton metana yang tidak akan terlepas ke udara? Selain itu, bila dilihat dari efesiensi dana, gerakan untuk tidak menyisakan makanan pada saat makan adalah gerakan yang tidak menguras dana terlalu banyak. Kunci keberhasilan gerakan ini adalah menciptakan kesadaran dari masing-masing kita.

Perlu kita sadari dan ketahui bersama bahwa guna melakukan penyelamatan dapat dimulai dari diri sendiri. Bermula dari menghabiskan makanan yang kita makan, mengambil makan secukupnya tanpa berlebihan, kita dapat turut berkontribusi dalam menunda atau malah-malah menghilangkan efek yang dihasilkan dari pemanasan di permukaan bumi.

Sudah saatnya kita sadar, di tangan kita masing-masinglah pemanasan global tidak bertambah parah. Yakni dengan pola hidup rendah metana melalui menghabiskan makanan di meja makan, maka sebuah perubahan dapat diciptakan. (Red/Khasanah)

Referensi:

David Wallace-Wells, The Uninhabitable

Earthhttps://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4534855/duh-indonesia-peringkat-kedua-negara-paling-banyak-buang-makanan

https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-3317570/13-juta-ton-makanan-terbuang-percuma-di-ri-setiap-tahun

https://katadata.co.id/timrisetdanpublikasi/analisisdata/5e9a57af981c1/kelola-sampah-mulai-dari-rumah

https://www.mongabay.co.id/2018/07/05/sisa-makanan-ternyata-memicu-perubahan-iklim-kok-bisa/https://waste4change.com/3-important-facts-about-food-waste-that-you-need-to-know/2/

Baca juga:  Rahmat Allah dalam Keberagaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here