Pernyataan Sikap Jamasan atas Perusakan Masjid Ahmadiyah di Kabupaten Sintang

0
59
Pernyataan Sikap Jamasan atas Perusakan Masjid Ahmadiyah di Kabupaten Sintang
M. Cahaya Prima B. S.
Kru LPM Justisia 2020 | + posts

Semarang, Justisia.com – Jaringan Masyarakat Semarang Anti Kekerasan (Jamasan) menyatakan sikap ketidaksetujuannya atas perusakan masjid Ahmadiyah Kabupaten Sintang yang diselenggarakan di Gereja Katholik St. Theresia Bongsari Semarang pada Sabtu, 4 September 2021.

Jamasan dalam pernyataan sikapnya memberikan tuntutan terhadap Pemerintah Kabupaten Sintang dan aparat penegak hukum setempat untuk menyelesaikan kasus ini sesuai hukum yang berlaku.

Menurut Ketua FKUB Jawa Tengah (Taslim Syahlan), hal yang dilakukan oleh para “perusuh” yang menggunakan kedok agama untuk merusak masjid Ahmadiyah di Kabupaten Sintang ialah hal yang intoleran dan inkonstitusional.

Kemudian, Jamasan juga menuntut agar mencabut fatwa MUI Tahun 2005 Tentang Ahmadiyah, dan mencabut juga SKB 3 Menteri Tentang Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

“Alasan kami menuntut agar dicabutnya SKB 3 Menteri dan Fatwa MUI Tahun 2005 Tentang Ahmadiyah karena kerap dijadikan rujukan untuk melakukan aksi pelanggaran HAM terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia,” ungkap Taslim saat ditemui di Gereja St. Theresia.

“Jemaat Ahmadiyah di seluruh Indonesia merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang patut untuk dilindungi hak asasi manusianya,” tambah Taslim.

Sementara itu, hal lain disampaikan oleh Mubaligh Ahmadiyah Semarang (Maulana Syaifullah Faruq) bahwa pelaku perusakan masjid Ahmadiyah di Kabupaten Sintang bukan masyarakat sekitar masjid tersebut.

Maulana pun menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya terhadap pernyataan sikap yang diselenggarakan oleh Jamasan beserta organisasi lainnya yang turut hadir di Gereja St. Theresia. [Red/M2]

Baca juga:  Posko Bersama Saling Menjaga Kota Semarang Distribusikan Bantuan Bagi Terdampak Covid-19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here