Paradigma Ilmu; Thomas Kuhn

0
48
Paradigma Ilmu
Rizkho Aris Munandar
Kru Magang 2020 | + posts

Biografi Thomas Khun

Thomas S. Kuhn atau lebih dikenal dengan Kuhn lahir pada 18 Juli 1922 di Cincinnati, Ohio Amerika Serikat dan meninggal pada tanggal 17 Juni 1996 di Cambridge, Massachusetts USA.

Thomas Kuhn lahir dari pasangan Samuel L. Kuhn, seorang insinyur industri yang lulus dari universitas Harvard dn MIT. Sedangkan ibunya Minette Stroock Kuhn adalah seorang yang berasal dari keluarga di New York dan bekerja sebagai seorang jurnalistik dan juga penulis lepas.

Dalam perjalanan pendidikannya Thomas Kuhn menyelesaikan studi doktornya dalam ilmu Pasti alam di Harvard pada tahun 1949 dan juga pernah menimba ilmu di University of California di Berkeley. Kemudian Kuhn diterima di Harvard sebagai asisten profesor pada pendidikan umum dan sejarah ilmu.

Pada tahun 1956, Kuhn menerima tawaran kerja di Universitas California, Berkeley sebagai dosen dalam bidang sejarah sains. Tahun Pada tahun 1964-1979 Kuhn mengajar di Universitas Princeton dan mendapat anugerah gelar Guru Besar (Professor). Sedangkan dari tahun 1979-1991 ia bertugas di Massachusetts Institute of Technology dan dianugerahi gelar Professor untuk yang kesekian kalinya. Pada akhir masa hidupnya Kuhn menderita penyakit kanker dan akhirnya meninggal pada umur 73 tahun, tepatnya pada hari Senin tanggal 17 Juni 1996.

Kuhn yang dikenal sebagai seorang fisikawan Amerika dan filsuf menulis secara ekstensif tentang sejarah ilmu pengetahuan dan mengembangkan gagasan penting dalam sosiologi dan filsafat ilmu. Salah satu karyanya yang amat terkenal dan mendapatkan sambutan dari para filsuf ilmu dan para ilmuan pada umumnya yaitu The Structure of Scientific Revolution yang terbit pada tahun 1962.

Buku ini menjadi karya yang monumental dikarenakan berisi tentang sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan dengan konsep dan teori besarnya tentang paradigma dan revolusi ilmu dan menjadi rujukan utama para ilmuwan tahun 60-an hingga perkembangan dunia keilmuan kontemporer. Hingga dalam klasifikasi sejarah filsafat ilmu sering dikategorikan sebagai sebuah corak filsafat ilmu baru, dimana di dalamnya juga terdapat tokoh lain seperti Imre Lakatos dan Paul Feyerabend.

Karya Kuhn menarik banyak kalangan karena dia menggunakan model politik dalam menjelaskan perkembangan sains. Kuhn memakai istilah revolusi untuk menggambarkan proses pengembangan dalam sains dan menekankan wacana pemberian alternatif teori baru dalam memandang sains yang berlaku.

Paradigma Menurut Khun

Paradigma ilmu menurut Kuhn adalah suatu kerangka teoritis, atau suatu cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai carapandang dunia (worldview)nya.

Fungsi dari paradigma ilmu adalah sebagai lensa yang melaluinya ilmuwan dapat mengamati dan memahami masalahmasalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah tersebut. Maka paradigma ilmu dapat dianggap sebagai skema kognitif yang dimiliki bersama. Skema kognitif tersebut berfungsi sebagai suatu cara untuk mengerti alam sekelililng dan memahami alam ilmiah.

Dalam pemikiran paradigmanya Thomas Kuhn menjelaskan bahwa paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-nilai, metode-metode, prinsip dasar atau memecahkan sesuatu masalah yang dianut oleh suatu masyarakat ilmiah pada suatu tertentu. Sedangkan secara umum, paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menentukan seseorang dalam bertindak pada praktik ilmiahnya. Dengan demikian, maka paradigm adalah ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya (worldview).

Dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution, Kuhn juga menggambarkan paradigma sebagai “disciplinary matrix” (matrik disiplin ilmu). Dimana ini menjadikannya sebagai tolak ukur terhadap ilmu-ilmu yang lainnya. Namun dalam pandangan paradigmanya juga dapat diartikan sebagai kerangka referensi yang mendasari sejumlah teori maupun praktik ilmiah dalam periode tertentu.

Selain itu Kuhn ingin menjelaskan bahwasanya ilmu tidak berkembang secara evolusioner melainkan secara revolusioner, dimana adanya sejumlah psikologis dan komunal dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Skema ilmu pun dalam perkembangannya bersifat “Open-Ended”, di mana sebuah akhir yang selalu terbuka untuk diperbaiki atau dikembangkan lebih lanjut. Maka menurut Kuhn perkembangan ilmu pengetahuan tidak berlangsung akumulatif-linear, melainkan menurut suatu revolusi yang bersifat berkala dalam cara shift paradigm.

Proses Perkembangan Ilmu

Adapun skema keilmuan dalam konsep paradigma Kuhn, terdiri dari:

(1) Fase Pra-Paradigma atau Pra-sains, yaitu ketika belum ada suatu paradigma kunci,

(2) Fase Sains Normal atau Ilmu Biasa, ketika para ilmuwan berupaya memperluas paradigma kunci melalui pengandaian pemecahan masalah

(3) Fase Anomali dan krisis atau Revolusi ilmiah.

Pada tahapan pertama yaitu tahap pra-ilmu atau pra- paradigma, dimana tidak ada konsensus tentang teori apapun. Fase ini umumnya ditandai oleh beberapa teori yang tidak sesuai dan tidak lengkap hingga akhirnya salah satu dari teori ini “menang”. Hal semacam ini berlangsung selama kurun waktu tertentu sampai suatu paradigma tunggal diterima oleh semua, sehingga jalan menuju normal science mulai ditemukan.

Selanjutnya masuk pada fase ilmu biasa atau normal science. Pada periode ini terjadi akumulasi ilmu pengetahuan yang mana para ilmuan berusaha mengembangkan paradigma yang sedang menjadi mainstream atau yg paling banyak berpengaruh. Diantara berbagai sains yang berkembang pada fase pra-paradigma, muncullah salah satu aliran pemikiran atau teori yang mendominasi teori ilmu lainnya.

Kemudian dalam perkembangannnya paradigma lama mengalami kelumpuhan analitik atau tidak mampu memberi jawaban dan penjelasan terhadap banyaknya persoalan yang timbul. Pada fase ini, para ilmuan tidak mampu lagi mengelak dari pertentangan karena terjadi banyak penyimpangan. Fase inilah yang disebut fase anomalies. Akibat yang muncul karena banyaknya anomali, yang selanjutnya menimbulkan sebuah krisis. Pada fase krisis ini, paradigma mulai diragukan kebenarannya.

Krisis tersebut terjadi dengan hebatnya, kemudian mengantarkan jalan untuk menuju fase revolusi (revolution). Pada fase revolusi inilah kemudian muncul paradigm II yang memiliki jawaban atas persoalan yang muncul dari paradigma sebelumnya.

Walaupun pada fase terakhir melahirkan sebuah paradigma baru sebagai bentuk akhir pertentangan para ilmuan dalam fase anomali dan krisis paradigma. Namun tetap saja para ilmuan memberlakukan wilayah pembuktian teori untuk menguatkan asumsi kebenaran atas kelahiran paradigma baru.

Maka sekalipun paradigma baru lahir, akan tiba masanya kembali kepada keadaan normal science atau ilmu biasa baru, dan seterusnya begitulah iklim dialektika paradigma yang ditawarkan oleh Kuhn.

Thomas Kuhn membagi paradigma dalam beberapa tipe paradigma, yaitu paradigma metafisik, paradigma sosiologis dan paradigma konstruk. Berikut penjelasan ringkasnya.

1. Paradigma Metafisik

Paradigma metafisik merupakan paradigma yang menjadi konsesus terluas dan membatasi bidang kajian dari satu bidang keilmuan saja, sehingga ilmuan akan lebih terfokus dalam penelitiannya.

Paradigma metafisik ini memiliki beberapa fungsi:

a. Untuk merumuskan masalah ontologi (realitas/objek kajian) yang menjadi objek penelitian ilmiah.

b. Untuk membantu kelompok ilmuan tertentu agar menemukan realitas/objek kajian (problem ontologi) yang menjadi fokus penelitiannya

c. Untuk membantu ilmuan menemukan teori ilmiah dan penjelasannya tentang objek yang diteliti.

2. Paradigma Sosiologi

Pengertian paradigma sosiologi ini dikemukakan Masterman sebagai konsep eksemplarnya Kuhn. Eksemplar dalam hal ini berkaitan dengan kebiasaankebiasaan, keputusan-keputusan dan aturan umum serta hasil penelitian yang dapat diterima secara umum di masyarakat.

3. Paradigma Konstruk Paradigma konstruk adalah konsep yang paling sempit dibanding kedua paradigma di atas. Contoh pembangunan reaktor nuklir merupakan paradigma konstruk dalam fisika nuklir dan mendirikan laboratorium menjadi paradigma konstruk bagi ilmu psikologi eksperimental.

Pergeseran Paradigma

Pergeseran paradigma diartikan sebagai perpindahan persepsi dan cara pandang tentang suatu objek keilmuan tertentu dari pandangan lama ke pandangan baru, dari kebenaran lama ke kebenaran baru.

Konsepsi tentang pergeseran paradigma membuka kesadaran bersama bahwa para ilmuan itu tidak selamanya meyakini sebuah produk keilmuan itu sebagai sesuatu yang final kebenarannya, obyektivitas atau kebenaran itu bersifat relatif dan ada saatnya jika sebuah obyektivitas atau kebenaran ilmiah itu mulai diragukan validitasnya dan beralih pada keyakinan kebenaran paradigma baru.

Menurut Thomas Kuhn, para ilmuan dalam komunitas keilmuan tertentu mampu menjelaskan realitas dengan kebenaran ilmiah tertentu dianggap sangat efektif dengan instrumen yang efesien dalam menemukan jumlah dan ketepatan masalah melalui cara pergeseran paradigma.

Berdasarkan hal-hal di atas, pergeseran paradigma (Shifting Paradigm) dapat dimaknai sebagai berikut:

a. Memperlihatkan logika berfikir baru karena ketidakmampuan logika berfikir lama untuk menyelesaikan masalah-masalah baru yang muncul.

b. Merupakan hal yang natural bahwa dalam pengembangan keilmuan, paradigma lama yang dibangun selalu memunculkan asumsi-asumsi baru baik disadari ataupun tidak. Hal inilah yang mendasari munculnya masalah baru dan tidak dapat diselesaikan berdasarkan teori dan paradigma lama.

c. Kemunculan paradigma baru dapat menawarkan solusi baru, tetapi berimplikasi pada berpalingnya paradigma lama ke paradigma baru dan terkesan berbenturan. Sehingga, paradigma baru terkadang disikapi dengan kecurigaan dan bahkan permusuhan. (Red/Khasanah)

Baca juga:  Presidential Threshold dan Pesta Demokrasi 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here