Nahsr Hamid; Telaah Hermeneutika Al-Qur’an

0
55
Anastya Mawar Dini
Kru Magang 2020 | + posts

Justisia.com – Mesir memang ditakdirkan menjadi kawah candradimuka pemikiran Islam, di Mesir pula selalu menjadi kiblat perkembangan pemikiran Islam di dunia, sehingga melahirkan para pemikir-pemikir islam seperti Nashr Hamid Abu Zayd.

Nashr Hamid adalah pemikir Islam progresif yang lahir di tengah-tengah keluarga yang religius di Qahafa, sebuah desa dekat kota Tuna, Mesir, pada 10 Juli 1943.

Nashr Hamid hidup pada masa artikulasi wacana ke-Islaman di Mesir modern, di mana pada masa itu muncul dua bentuk kelompok yaitu, kaum islamis dan sekularis.

Dalam dua kelompok tersebut Nashr Hamid memposisikan dirinya sebagai pembela sekularisme, yaitu kelompok yang terdiri dari kaun intelektual yang menentang penerapan syariah Islam yang berlaku di tengah-tengah kehidupan publik.

Dengan membela sekularisme dalam arti luas, ia membedakan antara agama dan pemikiran keagamaan. Agama menurut Nashr Hamid adalah kumpulan teks-teks illahi yang mengejawantah dalam sejarah, sementara pemikiran keagamaan adalah intrepretasi manusia terhadap teks tersebut.

Berangkat dari sinilah yang melatar belakangi munculnya pemikiran Nashr Hamid mengenai Hermeneutika Al-Qur’an. Ia membagi teks menjadi dua, yakni teks primer dan teks sekunder, di mana teks primer adalah al-Qur’an, sedangkan teks sekunder adalah sunnah Nabi, yakni komentar tentang teks primer.

Teks-teks keagamaan yang diproduksi oleh para sahabat dan ulama lainnya diklasifikasi sebagai teks-teks sekunder lain, yang merupakan interpretasi atas teks primer dan teks sekunder. Oleh karena itu, teks sekunder hanyalah interpretasi-interpretasi atas teks primer. Kalau teks sekunder menggeser teks primer maka manipulasi atas teks primer akan menjadi tidak terkontrol.

Dalam hal ini, Nashr Hamid menuduh Imam Syafi’i merubah teks sekunder menjadi teks primer, dan teks primer menjadi teks sekunder. Tekstualitas al-Qur’an mengarahkan pemahaman dan penafsiran seseorang atas pesan-pesan al-Qur’an. Tekstualitas al-Qur’an meniscayakan penggunaan perangkat-perangkat ilmiah, yakni studi-studi tekstual modern.

Pengabaian atas aspek tekstualitas al-Qur’an ini, menurut Nahsr Hamid akan mengarah kepada pembekuan makna pesan, dan kepada pemahaman mitologis atas teks. Ketika makna membeku dan baku ia akan dengan sangat mudah dimanipulasi sesuai dengan kepentingan ideologis seseorang atau pembaca.

Pembahasan tentang teks Al-Qur’an tidak bisa lepas dari konsep wahyu dalam budaya Arab pra-Islam dan ketika Islam muncul. Karena, sebagaimana keyakinan umat Islam, Al-Qur’an merupakan teks yang diwahyukan Allah kepada Muhanmad melalui malaikat Jibril, dengan mengguhakan bahasa Arab. Nashr Hamid menganggap fenomena wahyu keagamaan sebagai bagian dari budaya dimana ia muncul.

Menurut Nahsr Hamid, realitas adalah dasar. Dari realitas, dibentuklah teks Al-Qur’an dan dari bahasa dan budaya terbentulah konsepsi-konsepsinya dan ditengah pergerakannya dengan interaksi manusia terbaharuilah maknanya.

Pertama adalah realitas, kedua adalah realitas dan terakhir adalah realitas pula. Pandangan di atas mengantarkan Nahsr Hamid pada kesimpulan bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya yakni bahwa teks muncul dalam sebuah struktur budaya Arab abad ketujuh selama lebih dari 20 tahun, dan ditulis berpijak pada aturan-aturan budaya tersebut, di mana bahasa merupakan sistem pemaknaannya yang sentral.

Namun pada akhirnya, teks berubah menjadi produser budaya, yang menciptakan budaya baru sesuai dengan pandangan dunianya, sebagaimana tercermin dalam budaya Islam sepanjang sejarahnya.

Nahsr Hamid mengatakan bahwa interpretasi adalah wajah lain dari sebuah teks, interpretasi dan teks adalah dua sisi dari satu mata uang. pernyataan ini haruslah dipahami sedemikian rupa sehingga teks mengarahkan laku interpretasi untuk menguak dunia teks itu sendiri. [Red.Sidik/Ed.Hikmah]

Baca juga:  Budaya Ngarot: Jembatan Penyampai Nilai-Nilai Luhur Lintas Generasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here