Motivasi Laki-laki Memberi Hadiah Saat Hari Valentine

0
57
Motivasi laki-laki memberi hadiah saat valentine
Sumber: https://lifestyle.kompas.com
Syafrina Hamadah
Kru Justisia | + posts

Justisia.com – Memberi hadiah merupakan perilaku sosial yang didefinisikan sebagai proses pertukaran yang terjadi antara pemberi dan penerima, atau pemberian, dan penerimaan bingkisan. Hal ini merupakan ritual yang berlangsung di semua masyarakat meski dalam bentuk yang berbeda.

Seperti umumnya orang di sekitar kita mengartikan memberi, menerima, dan mengembalikan hadiah adalah untuk membangun hubungan timbal balik, membentuk ikatan kepercayaan dan ketergantungan yang membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Pemberi akan memberi hadiah terbaik untuk penerimanya. Misalnya, seorang laki-laki membelikan sebuah bingkisan dengan senang hati dan lebih terbilang mahal untuk pasangannya sebagai tanda cintanya di Hari Valentine.

Kita semua tentunya tidak asing dengan Hari Valentine. Hari yang disimbolkan salah satu momen pemberian hadiah yang selama bertahun-tahun menjadi kebiasaan di seluruh dunia. Mengungkapkan cinta dan kasih sayang dalam sebuah hubungan biasanya melalui pemberian hadiah yang berkesan.

Secara tradisi dan dalam sebagian budaya, wanita umumnya dipandang memiliki kekuatan sosial yang rendah daripada laki-laki, maksudnya laki-laki lebih baik dibanding perempuan.  Sehingga, laki-laki sering memberi hadiah dan perempuan lebih sering menerima hadiah.

Dalam sebuah jurnal berjudul “The Role of Social Power Relations in Gift Giving on Valentine’s Day“, yang menjadi motivasi saat memberi hadiah dibagi menjadi tiga macam yaitu, kewajiban, kepentingan pribadi, dan altruisme.

1. Kewajiban

Motif yang paling banyak bagi laki-laki untuk memberikan kado di Hari Valentine adalah kewajiban. Sebuah penelitian yang melibatkan 61 responden mempercaya bahwa memberi hadiah itu adalah keharusan dalam jalinan hubungan, karena manusia cenderung bahagia ketika diberi hadiah

Dari penelitian tersebut 70% responden menyatakan bahwa mereka akan selalu memberikan hadiah kado di Hari Valentine. Meskipun motif yang tampak adalah sebagai kewajiban. Motif ini dapat dirasakan dalam konteks keuntungan bersama.

Namun, selebihnya yakni 23% responden yang tersisa percaya bahwa memberikan hadiah adalah hal yang dapat diterima selama hubungan berjalan. Lebih jauh lagi, fakta bahwa laki-laki berusaha menghindari konflik dengan pasangan dapat menyoroti adanya sedikit motif kepentingan diri yang terpendam hal ini tentunya dikombinasikan dengan apa yang tampak sebagai motif kewajiban.

2. Kepentingan Pribadi

Seluruh responden, motif kepentingan pribadi juga lazim dan cenderung terwujud dalam hubungannya dengan motif lain. Ketika peserta secara eksplisit ditanya apakah mereka mengharapkan sesuatu sebagai balasan ketika mereka memberikan hadiah Hari Valentine, 25 persen subjek menanggapi secara positif. Banyak dari tanggapan yang tampaknya bersifat nonmateri, dan beberapa tampak menunjukkan konotasi seksual.

3. Altruisme

Menurut KBBI, altruisme adalah sikap yang ada pada manusia, yang mungkin bersifat naluri, berupa dorongan untuk berbuat jasa kepada orang lain. Motif altruisme juga terdeteksi, seperti kepentingan pribadi, sering kali dimasukkan sebagai bagian dari motif kewajiban dan kepentingan pribadi. Altruisme adalah motif yang paling sulit untuk digali secara eksplisit. Beberapa orang akan berprinsip ‘Hari Kasih Sayang tidak hanya saat Valentine, tetapi setiap hari’.

Secara keseluruhan, ketika ketiga motif ditemukan, motif kewajiban tampak paling dominan, dan ketiga motif tersebut menunjukkan kecenderungan ada dalam kombinasi dengan motif lainnya. Terlepas dari motif di atas, penerima hadiah lebih senang menerima hadiah sebagai pesan altruistik dari pemberi hadiah.[Red. Sidik/Ed. Faiz]

Baca juga:  Musik Indonesia Bukan Kaleng-Kaleng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here