Menunggu Semar, Ironi Petani di Tengah Pandemi

0
24
Sumber: Beritagar
Website | + posts

Semarang, Justisia.com – Manusia dan kebudayaan mempunyai keterikatan, keduanya tak dapat dipisahkan, karena mereka secara bersama-sama menyusun kehidupan. Manusia melahirkan, menciptakan, menumbuhkan, dan mengembangkan kebudayaan. Bisa diambil penjelasan jika tak ada manusia tanpa kebudayaan, sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa manusia, dan tak ada masyarakat tanpa kebudayaan, tak ada kebudayaan tanpa masyarakat (Kistanto, 2015).

Kebudayaan sendiri merupakan sesuatu yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Hewan sama-sama hidup, makan, beranak tapi mereka tak berbudaya. Malaikat rajin dan tekun beribadah dalam menjalankan perintah Tuhan tapi mereka tidak berbudaya, sedemikian juga jin, setan, iblis dan para makhluk halus lain mereka semua tidak berbudaya. Disini manusia akan tetap menjadi manusia ketika masih berbudaya.

Berbicara tentang budaya, di dalam buku Semar Gugat di Temanggung karya Mohammad Sobary, dijelaskan bahwa sudah sekian lama nilai kelokalan kian terkikis oleh arus zaman, yang dibawa oleh nilai “keglobalan” yang mana diakibatkan oleh dampak kolonialisme. Kolonialisme disini berbeda dengan kolonialisme zaman dahulu yang mana menjajah dengan kekerasan fisik. Melainkan penjajahan baru dalam bentuk fikiran yang akhirnya merubah cara pandang kita menilai benda-benda luar negeri sebagai nilai global dan bahkan mampu mengangkat status sosial dalam hidup manusia jika mengkonsumsinya.

Pada zaman saat ini, dalam memandang produk lokal hanya membuat kita minder dan akhirnya akan menimbulkan suatu realitas kelokalan sebagai suatu produk atau hal yang ndeso. Hal tersebut adalah suatu kelemahan kita, kita harus segera membenahi realitas diatas, dengan cara memajukan kualitas, sehingga mampu untuk bersaing dengan negara-negara yang mana katanya menarik hati para kalangan masyarakat modern saat ini. Melihat pada krisis pandemi seperti ini, isu ketahanan pangan menjadi sesuatu yang masalah yang mana beberapa pihak memprediksi juga menimbulkan ancaman krisis pangan.

Petani, justru menjadi pihak paling terdampak dalam ancaman krisis ketahanan pangan. Padahal petani merupakan pemasok makanan yang mana akan mampu bertahan di tengah pandemi COVID-19 seperti ini. Tapi ironisnya sudah menjadi fakta yang terjadi setiap hari adalah penurunan harga pangan hingga pada level yang sangat rendah di berbagai wilayah di Indonesia terutama di Pulau Jawa (Dian Wahyu Utami, 2020).

Anjloknya harga jual produk pertanian sangat merugikan petani di tengah pandemi, petani yang tadinya akan menjadi pihak penyedia pangan bagi kelangsungan hidup penduduk justru terancam mengalami kerugian yang berakibat pada ketidakmampuan membeli bibit atau hal-hal yang diperlukan pada tanaman mereka. Padahal, masyarakat tetap membeli bibit-bibit tersebut dengan harga yang normal. Menurut Faisal Basri, impor pangan Indonesia dari China cukup besar. Faisal menjelaskan bahwa Indonesia juga mengimpor sayur dan buah dari China. Bahkan menurut Faisal, hampir 67,5 persen sayur yang ada di Indonesia impor dari China (Kumparan, 22 Mei 2020).

Hal ini menimbulkan rasa kecewa yang tidak bisa disembunyikan oleh para petani. Mereka seakan tak bisa menumpahkan kepedihan atas dasar ketidaksadaran para pemimpin. Indra perasa dan indra penglihatan para pemimpin saat ini kurang peka hingga mereka tidak bisa merasa dan melihat kenyataan langsung yang terjadi di lapangan. Saat ini, berharap Semar hadir turun ke bumi. Dalam buku Semar Gugat di Temanggung, Sobari menceritakan Semar menjadi penolong suatu kelompok bernama pandawa. Pandawa mendapatkan ketidakadilan dari tatanan pemerintah. Semar yang iba menempuh dengan cara menolong. Diambil lah jalan dialog. Semar berdialog dengan Batara Guru yang merupakan pemimpin Dewa. Berbekal kebenaran Semar akhirnya berhasil meruntuhkan ketidakadilan itu.    

Dengan rupa yang tebal dan kepala berkuncung, serta badan pendek, perut buncit bergelambir, dengan susu yang merosot, Semar disini bukan lah seekor badut. Begitulah Goenawan Mohamad menggambarkan sosok semar dalam cerita Semar dan si Bodor. Walau wajah-wajah pemimpin saat ini tak mampu menunjukkan jati diri keadilan dan kebenaran, namun Semar sanggup memunculkannya seperti masalah Batara Guru yang tidak bisa menunjukkan keadilan. Karena semar di sini akan menampilkan arti nilai kehidupan, arti nilai kebersamaan, arti keadilan bahkan kebenanaran sekalipun.

Goenawan Mohamad dalam cerita Semar dan si Bodor, menceritakan bahwa cerita Semar disini bukan tanpa sebab semata, akan tetapi tersirat lambang perlawanan yang tak diucapkan oleh para petani terhadap para penguasa. Terjadinya ketakaburan kekuasaan terjadi, disitu Semar turun untuk memberi jawaban dengan rasa kepeduliannya. Kesenian disini apapun bentuknya dapat menjadi alat perlawanan seperti halnya lakon Semar di atas.

Seperti hal nya kesenian dapat mengontrol agresivitas massa, agresivitas di sini terjadi karena kesenjangan antara kesadaran perilaku. Bisa diambil contoh misalnya demonstrasi mahasiswa pada 1966 tampak lebih teratur, kurang berdarah dan lebih “berbudaya” daripada demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa 1998. Mengapa demikian berbeda? Karena pada demonstrasi tahun 1966 ada partisipasi aktif dari para penyair seperti Taufiq Ismail, A. Wahid Situmeang dan Mansjur Samin. Orang-orang manifestasi kebudayaan juga secara aktif terlibat di dalamnya sehingga wajah politik juga menjadi wajah budaya (Kuntowijoyo, 2019).

Pada zaman kebudayaan saat ini, jarang sekali kita melihat secara keseluruhan gaya hiburan melalui seni-seni untuk mendorong kita bersikap kritis dengan memberikan sarana hiburan untuk meluapkan segala bentuk perlawanan melalui adegan seni secara terbuka terutama di media televisi. Aksi yang ditampilkan di ranah televis cenderung monoton, bahkan menjorok ke hal yang tidak berfaedah.  Disinilah peran kita, perlu secara kritis melihat fenomena apakah kita telah memberikan suatu lingkup pengetahuan untuk sadar dan melihat berbagai bentuk ketidak adilan, kesengsaraan, dan kesenjangan antara kekuasaan dengan rakyatnya.

Sampai kapan kita harus menunggu keadilan dan kebenaran tercipta dari semua elemen baik dari penguasa maupun rakyat tanpa menunggu Semar? Kisah Semar mencoba untuk mengembalikan kesadaran kita, tentang arti membela dan memihak. Arti kata membela tidak berarti menentang secara keras dan kepas dari aturan itu sendiri. Hal itu juga berlaku pada arti memihak yang mana tidak berat pada kepentingan tertentu. Kepentingan Semar disini berasaskan hal yang mulia. Ia mengerti siapa yang dibela. Ia sadar kepada siapa ia memihak. Semar mengajarkan kepada kita untuk mengutamakan sisi kemanusiaan, keadilan dan kebenarannya. Tentu saja yang masih harus menjadi pikiran kita bersama ialah bagaimana suatu pembudayaan di kalangan modern saat ini perlu di implementasikan. Sehingga akan menjadi manusia yang berbudaya. [Red. Anastya]

Ditulis oleh Muhamad Fajrul Falakh, Mahasiswa KKN RDR 77 Kelompok 16 UIN Walisongo Semarang

Referensi:

Kistanto, N. H. (2015). Tentang konsep kebudayaan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan10(2).
Kuntowijoyo. (2019). Selamat tinggal mitos, selamat datang realitas esai-esai budaya dan politik. Yogyakarta:IRCiSoD.
Sobary, Mohammad. 2014. Esai-esai Kebudayaan: Semar Gugat di Temanggung. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Mohamad, Goenawan. (2018). Seni, Politik, Pembebasan. Tangerang Selatan: IRCiSoD.
https://kumparan.com/kumparanbisnis/saat-pandemi-indonesia-masih-ketergantungan-impor-sayur-dan-buah-dari-china-1tStc2GaSXl/full diakses pada tanggal 10 agustus 2020
kependudukan.lipi.go.id/id/berita/53-mencatatcovid19/879-ketahanan-pangan-dan-ironi-petani-di-tengah-pandemi-covid-19 diakses pada tanggal 05 september 2020

Baca juga:  Abhan Misbah : Politik Uang Sudah Membudaya di Masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here