Menilik Konflik Taliban dan Amerika melalui Sajian Film ‘The Outpost’

0
51
Restu Faruqi Pasha
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Walisongo

Film ‘The Outpost’ menceritakan tentang bagaimana Letnan Benjamin Keating (diperankan oleh Orlando Bloom) memimpin pasukannya yang berada di pos terluar tentara Amerika Serikat. Tujuan mereka ditugaskan agar terhubung dengan warga lokal dan menghentikan aliran senjata serta perjuangan Taliban dari Pakistan.

Pada tengah malam, helikopter yang membawa Sersan Staf Clint Romesha (diperankan oleh Clint Eastwood) dan rekan-rekannya mendarat di PRT Kamdesh. PRT Kamdest terletak di dasar lembah, dikelilingi Gunung Hindu Kush yang menjulang tinggi, di Afghanistan Utara. Beberapa orang juga menyebut PRT Kamdesh dengan sebutan ‘Camp Custer’ dikarenakan siapa pun yang berada di camp tersebut akan mati.

Menyiasati hal tersebut, Letnan Benjamin Keating melakukan pertemuan dengan tetua suku setempat dengan harapan mereka bisa memutus supply senjata dan amunisi ke Taliban. Di beberapa pertemuan awal, mereka membuahkan hasil yang manis. Namun, beberapa hari kemudian rombongan tetua hadir dengan membawa mayat anak perempuannya. Mereka ingin memeras uang tentara AS dengan dalih penyebab kematian anak perempuannya yang disebabkan oleh tentara AS tersebut. Padahal anak perempuan itu sudah menjadi bangkai, yang mana tentara AS tak melakukan apa pun dalam beberapa hari, kemungkinan Taliban yang membunuhnya.

Baca juga:  Miskomuniasi dalam Beragama

Identitas Film

  • Judul: The Outpost
  • Jenis Film: Drama, History, War
  • Sutradara: Rod Lurie
  • Produksi: Millenium Media
  • Pemain: Scott Eastwood, Orlando Bloom, Jack Kesy, Caleb Landry Jones, Cory Hardict, Milo Gibson, Jacob Scipio, dsb
  • Durasi Film: 123 Menit
  • Penulis Naskah: Paul Tamasy, Eric Jonson

Film yang disutradarai Rod Lurie ini langsung memulai konflik pertamanya dengan cepat dan berlangsung sangat tiba-tiba, tanpa ada peringatan terlebih dahulu. Suasana santai sesama prajurit yang sedang mengobrol di luar mendadak berubah menjadi ajang pertempuran. Tak lama konflik pertama itu selesai, namun beberapa scene berselang, konflik dimulai lagi dan lagi-lagi semua berlangsung tiba-tiba. Hampir tak ada jeda yang diberikan. Tensi film ini tetap dipertahankan di tingkat medium, dengan kesiagaan tinggi hampir di seluruh durasi film.

Setiap pasukan yang bertempur, disorot dari jarak dekat, dan kamera secara intens mengikuti pergerakan beberapa individu secara konstan, untuk melihat bagaimana raut muka tegang mereka saat dibombardir dari segala arah. Dan memang close combat dalam film ini sangat mencekam, sehingga saat seorang karakter intinya yang dikorbankan, hal itu akan menambah kedalaman cerita ini.

Baca juga:  Mengintip Dapur Tulisan Kang Maman

Namun sayangnya, para pemain tidak dieksplorasi lebih jauh. Kita hanya mendapat sedikit intermezzo di awal, dan seterusnya konflik terus menerus terjadi. Tak ada ruang yang tersisa untuk mengenali beberapa karakter menarik yang ada. Sangat disayangkan hal itu tak bisa dilakukan lebih jauh.

Para prajurit terlihat sangat stress dan emosional menghadapi segala sesuatu yang mereka hadapi di sana, dan wajar saja bila hal itu terjadi. Namun menjelang peperangan itu selesai, empati ditunjukkan oleh Staf Sersan Ty Carter (Caleb Landry Jones) kepada rekannya yang ia tolong dengan susah payah karena tak bisa berjalan. Aktingnya dalam film ini memang sangat baik, tak mengubah apapun dari sekian banyak cast yang semestinya dari awal sudah mulai dieksplor.Terlepas dari itu, ‘The Outpost’ memberikan kepada kita perspektif perang dengan intensitas tinggi. Bagaimana caranya bertahan hidup dari gempuran musuh. Tentara Amerika di sini bukan sebagai pihak aggressor, namun sebagai pihak yang humble, mencoba bertahan hidup di tengah lingkungan yang asing dan jauh dari mana-mana.

Baca juga:  Menananam Toleransi dari Rumah Tangga

Bagi mahasiswa hukum, film ini dapat dijadikan sebagai sara untuk memahami upaya resolusi konflik adalah ide dan tema yang menarik. Karena, alur cerita yang disuguhkan menggugah rasa penasaran penonton akan bagaimana proses penyelesaian konflik dalam film ini dilakukan, tepatnya antara Tentara Amerika dengan Penduduk Sipil yang berada di pihak Taliban.Dalam film ini, mediasi menjadi hal yang penting dan harus bisa dipahami oleh siapapun, karena siapa tahu ini akan kita butuhkan untuk saat saat penting di masa yang akan dating. Film ini dapat menggambarkan bahwa sebelum menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah alangkah baiknya jika bermediasi terlebih dahulu dan diselesaikan dengan cara baik-baik. [Red/M2]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here