Menerjemahkan Arti Kebahagiaan Ala Buya Hamka

0
109
sumber foto : suaramuhammadiyah.id
Ahmad Rakan Syafiq
Kru Magang 2020

Semarang, Justisia.com – Selalu terlintas dalam benak pikiran saya apakah manusia bisa menciptakan rasa bahagia dengan sendirinya atau ia memerlukan dopping untuk mewujudkan rasa bahagianya ? menarik bukan. Sedikit saya ulas mengenai kebahagiaan dengan pendekatan ala Buya Hamka. Ulama asal tanah Sumatera yang sangat alim dan memiliki pemikiran yang moderat pada masanya.

Melalui karyanya yang berjudul “Tasawuf Modern” beliau menjelaskan bahwa bahagia itu dekat dengan kita bahkan ada dalam diri kita sendiri. Umumnya seseorang selalu mengatakan bahwa bahagia itu dapat diperoleh dengan kekayaan melimpah dan persediaan materi yang cukup. Lantas bagaimana nasib orang pinggiran yang notabenya miskin serba kekurangan. Apakah mereka tidak berhak untuk bahagia.

Selain itu ada juga yang mendefinisikan bahwa bahagia dapat diperoleh dengan sanjungan dari nama yang sudah terkenal. Lantaran setiap ia pergi selalu disambut dan dihargai sebab nama dan predikat yang disandang. Akan tetapi bukankah semua itu hanya urusan duniawi yang sifatnya titipan dan kepura-puraan saja. Bagaimana arti kebahagiaan yang sesungguhnya.

Baca juga:  Perilaku Seks dan Stigma bagi Pramuria

Terbesit beberapa pertanyaan menyelimuti akal pikiran saya, selepas membaca pemikiran Buya Hamka sedikit mendapatkan titik terang. Menurutnya bahwa bahagia itu memiliki kaidah sebanyak manusia. Artinya setiap orang memiliki rasa bahagia masing-masing, kenyataan ini dapat diukur dengan seberapa banyak penderitaanya, pengalamanya bahkan seberapa besar pengorbananya dalam berjuang dan seberapa kuat dalam menghadapi segala pristiwa yang membuatnya kecewa.

Orang yang hidup di bawah jembatan selalu mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dirasakan oleh orang-orang kaya yang memiliki rumah banyak. Begitupun ketika kita sakit biasanya akan  mengatakan betapa bahagianya apabila diberi kesehatan. Sama halnya sepasang kekasih tentu saja akan merasa bahagia apabila mereka berjumpa dalam ruang waktu yang sama.

Oleh karena itu jawaban yang tepat mengenai kebahagiaan adalah bagaimana kita mengatur diri dan akal pikiran untuk selalu berbaik sangka terhadap Tuhannya. Sejatinya bahagia itu dekat dengan diri kita tanpa membandingkan dengan capaian kebahagiaan orang lain, selain itu kita harus pandai-pandai bersyukur.

Apalah arti kekayaan apabila tidak dibarengi dengan rasa syukur, melainkan akan menimbulkan sifat tamak tanpa henti. Begitupun apalah artinya kesehatan apabila tidak dilandasi rasa syukur. Selebihnya ia akan menjadi lalai dengan segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt. Selain itu pertemuan antara sepasang kekasih juga berhak disyukuri karena pertemuan akan meninggalkan rasa bosan yang terus membayangi.

Baca juga:  Fiqh Iqtishad sebagai Kritik atas Paradigma Ekonomi Pembangunan

Maka dapat kita simpulkan bahwa bahagia itu ada di dalam hati kita masing-masing, tak bisa dipaksakan namun bisa dirasakan. Bahagia itu bisa diciptakan oleh diri kita sendiri karena itulah kebahagiaan yang hakiki. Namun tak salah jika ada anggapan bahwa “Jika kita punya sesuatu ini, itu maka kita bahagia” sebab ini murni sifat manusiawi yang selalu kurang dengan dirinya. Akan tetapi perlu diketahui bahwa bahagia semacam itu adalah kebahagiaan semu karena sejatinya kebahagiaan yang sesungguhnya adalah rasa syukur dan prasangka baik kepada Pencipta. [Red. Musyaffa’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here