Menelusuri Nusantara Dalam Karya Claudius Ptolemaus

0
43
Menulurusi Nusantara dalam Karya Claudius Ptolemaus
Peta Nusantara. Sumber: tegas.id
Anastya Mawar Dini
Kru Magang 2020 | + posts

Geographia adalah suatu karya yang berisikan kamus kartografi dan atlas dunia oleh ahli geografi Romawi Kuno dari Alexandria, Claudius Ptolemy pada tahun 150 M, di era Kaisar Antonius Pius. Atlas Ptolemy merupakan salah satu atlas dunia yang paling akurat dan lengkap dari zaman klasik. Bahkan ada kemungkinan kita bisa menemukan Semenanjung Malaya, laut Tiongkok Selatan dan Pula Jawa dalam karya Ptolemy.

Ptolemy menyebutkan sebuah pulau besar berjuluk “labadiu”, yang disebut-sebut sebagai pulau Jawa. Nama labadiu atau jabadiu diduga merupakan hasil peralihan bahasa Sansekerta ke Yunani, yaitu dari Yavadvipa (Jawadwipa). Di ujung barat pulau ini adalah negara Argyra Chora, yang berarti negara perak, kemungkinan merujuk pada Kerajaan Salakanagara.

Kebetulan, eksistensi Salakanagara yaitu dari 130 M dengan tahun-tahun penulisan Geographia pada 150-an M. Labadiu diartikan sebagai “Pulau Jali”, mungkin saja merujuk pada padi-padi dari sawah Jawa yang memiliki agrikultur besar. Perlu diingat, belum ada bukti kuat, semua masih sebatas hipotesa. Svarnadwipa dan Yavadwipa adalah nama-nama kuno untuk menyebut dua buah pulau di Nusantara atau Indonesia. Kedua pulau itu sekarang dikenal sebagai Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Svarna berarti emas, Svarnadwipa berarti pulau emas.

Pulau Sumatra disebut sebagai svarnadwipa karena pulau tersebut memang banyak menghasilkan emas. Pulau Sumatra sebagai penghasil emas telah tercatat dalam sejarah. Di daerah Bukit Barisan di sepanjang pantai barat Sumatra merupakan daerah yang menyimpan kandungan emas, tidak kalah banyaknya dibandingkan Malaka.

Sementara itu Yavadvipa adalah sebutan untuk Pulau Jawa yang kaya akan hasil buminya, terutama padi, dan kaya akan tambang emas, seperti tertulis dalam Prasasti Canggal. Dalam prasasti itu tertulis: “asid dvipavaram Yavakhyam atulam dhanyadi-vijadhikam”, yang berarti: adalah pulau mulia bernama Jawa, yang tak ada bandingannya tentang hasil buminya, terutama hasil padi, kaya akan tambang.

Bagi Svarnadwipa yang lebih bercorak maritim, wilayah Yavadwipa yang agraris merupakan lumbung pangan berupa padi-padian. Sedangkan bagi Yavadwipa yang agraris, Svarnadwipa merupakan partner perdagangan yang strategis tempat didapatkannya barang-barang prestisius dari luar negeri (dari Barat dan Cina). Melalui terbentuknya jaringan pelayaran-perdagangan antara Svarnadwipa dan Yavadwipa tersebut, komoditas hasil bumi dari Kepulauan Nusantara mulai diperkenalkan ke dunia luar.

Yavadwipa menjadi pelabuhan transit barang-barang komoditi dari timur yang akan di ekspor ke luar negeri melalui Svarnadwipa, seperti; padi, hasil hutan, rempah-rempah dari Maluku, fauna eksotis serta berbagai jenis kayu-kayuan yang langka dari Timor. Sebaliknya, barang-barang bermartabat dari luar negeri masuk lewat Svarnadwipa untuk kemudian didistribusikan ke Kepulauan Nusantara lainnya melalui Yavadwipa, seperti; wangi-wangian, logam, manik-manik, perhiasan batu hijau (jade), kaca yang sangat digemari di Kepulauan Nusantara.

Antar hubungan Svarnadwipa dengan Yavadwipa tercermin dalam beberapa aspek kebudayaan yang meliputi aspek religi, seni, politik, ekonomi dan teknologi. Relasi dalam aspek religi sangat erat kaitannya dengan aspek seni dan bahkan kadang juga terselip motif politik. Sejak abad VII M, Svarnadwipa menjadi salah satu pusat penting penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.

Bahkan, I’tsing harus mempelajari sabdavidya (struktur bahasa sansekerta) di Svarnadwipa sebagai persiapannya menuju tanah suci kelahiran Sang Buddha di India. Selain Svarnadwipa, pada masa yang sama Yavadwipa ternyata juga merupakan pusat perkembangan agama Buddha di Kepulauan Nusantara.

Di masa Wangsa Antonius memang perdagangan Romawi sudah mendunia apalagi setelah penaklulan era Kaisar Trajan. Ptolemy menuliskan karyanya ini dari kesaksian para pedagang dan pelaut di masa itu, kemungkinan informasi mengenai Pulau Jawa dan sekitarnya ia dapatkan dari para pedagang sub-kontingen India.

Temuan-temuan barang Romawi di Vietnam Utara mengindifikasikan presensi pelaut Romawi Kuna di kawasan ini. Imperium Romawi di saat itu hampir bisa dipastikan mengetahui keberadaan pulau-pulau di Nusantara, karena para Kaisar tidak jarang mendapatkan hadiah rempah-rempah Nusantara. Ptolemy ini memang menjadi salah satu dari sedikit yang menjabarkan geografi bumi di timur India.

Chryse Chersonesos (Semenanjung Emas) merujuk pada Semenanjung Malaya, dan Megas Kolpos (Teluk Besar) merujuk pada Laut Tiongkok Selatan. Geographia sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu geografi di Eropa, Romawi Timur, dan dunia Islam pada Abad Pertengahan.[Red. Sidik]

Baca juga:  Bahasa dalam Prespektif Logika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here