Mbah Moen dan Ponpes Al-Anwar yang Jarang Libur Ngaji

0
123
Abdullah Salam
Kru Justisia 2019

Semarang, Justisia.com – Nama KH. Maimoen Zubair sudah tidak asing dikalangan warga NU, terutama kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mbah Moen lahir di Sarang pada 28 Oktober 1928 M/ 14 Jumadil Ula 1347 H, bertepatan dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Ia adalah putra pertama dari lima bersaudara dari pasangan KH. Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah, sayangnya dari kelimanya hanya Mbah Moen yang berumur panjang.

Sebagai seorang putra Kiai, Mbah Moen kecil mendapat didikan ala pesantren. Mengaji adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Mbah moen, baik Al-Qur’an maupun kitab salaf. Untuk bacaan Al-Qur’an, Mbah Moen mengaji kepada ibunya, yaitu Nyai Mahmudah, sedangkan untuk kitab salaf kepada Ayah beliau Kiai Zubair dan ulama-ulama Sarang.

Tidak hanya ilmu agama, Mbah Moen juga mendapatkan pengajaran tentang ilmu umum dari ayahnya. Sang ayah yang juga seorang pejuang kemerdekaan saat itu menanamkan nasionalisme dan patriotisme kepada Mbah Moen muda. Ia diajari menulis huruf latin, huruf Honocoroko, dan cara berbahasa Melayu. Saat menginjak usia 15 tahun, sang ayah menyuruh Mbah Moen membaca buku-buku penyemangat, seperti majalah “Penyebar Semangat”, buku karya Imam Supriadi, Budi Utomo, dan buku-buku terbitan Budi Pustaka Jakarta. Mbah Moen juga memahami bahasa Belanda dari ayahnya. Didikan inilah yang membentuk Mbah Moen menjadi seorang Kiai yang religius-nasionalis.

Perjalanan keilmuan Mbah Moen terbilang panjang. Pada tahun 1945, Kiai Zubair menyuruh Mbah Moen untuk melanjutkan ngaji ke Pesantren Lirboyo. Kegiatan ngaji diselingi dengan perjuangan melawan penjajah, karena pada tahun 1947 dan 1948 terjadi agresi Belanda 1 & 2. Setelah situasi Indonesia aman, pada tahun 1949, Mbah Moen meneruskan ngaji ke Haramain (Makkah – Madinah) atas ijin Mbah Manab, Pengasuh Pesantren Lirboyo.

Baca juga:  Pendidikan Balik Layar KH. Idris Kamali

Pada tahun 1950 M, Mbah Moen pulang ke tanah air, itupun tidak langsung mengajar, tapi masih untuk nyantri. Beliau memutari tanah jawa mencari ilmu, mulai dari daerah Jawa Timur (Jombang, Pasuruan), Jawa Tengah (Lasem, Mranggen), bahkan ke Yogyakarta, Jakarta dan Jawa Barat (Buntet). Begitu pentingnya kearifan lokal dimata Mbah Moen, sehingga masih mau nyantri bahkan setelah pulang dari Makkah – Madinah yang dianggap pusat Islam dunia saat itu.

Pesantren Al-Anwar

Setelah selesai menuntut ilmu, Mbah Moen mendapatkan tugas mengajar di Pesantren MUS (Ma’had al-Ulum as-Syar’iyyah), asuhan KH. Abdurrahim. Ia juga merombak Madrasah Nahdatul Wathan yang manajemennya kurang tertata, kemudian dinamai MGS (Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyah). Beberapa tahun kemudian, ia diangkat menjadi Mudir (Ketua) pertama, dan dalam pengelolaannya dibantu kiai-kiai Sarang.

Pada masa awal mengajar, ada Beberapa murid Mbah Moen berkeinginan untuk belajar secara khusus kepada beliau. Akhirnya pada 1967 dibangunlah mushalla di sebelah timur dalem. Seiring bertambahnya santri, diatas mushalla kemudian dibangun beberapa kamar untuk tempat tidur santri, pondok tersebut kemudian dikenal sebagai POHAMA (Pondok Haji Maimoen). Nama pondok ini kemudian dirubah menjadi Pondok Pesantren Al-Anwar untuk mengenang nama ayah beliau sebelum menunaikan ibadah Haji.

Al-Anwar memiliki 2 sistem utama dalam memfasilitasi gairah keilmuan para santri. Pertama adalah ngaji kitab tanpa jenjang, yang dibuka untuk semua santri. Intensitas ngaji di Al-Anwar terbilang sangat tinggi, hampir tidak ada hari yang kosong tanpa pengajian. Ngaji benar-benar kosong ketika santri sudah tidak ada sama sekali. Biasanya, ngaji benar-benar kosong setelah pengajian kilatan Ramadhan selesai, dan dibuka kembali pada pertengahan syawal.

Baca juga:  Kultur Moderatisme Pesantren (01)

Kedua adalah pendidikan berjenjang yang disesuaikan dengan kemampuan santri, yaitu di Lembaga Pendidikan Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyah (MGS) dan Madrasah Muhadloroh. Madrasah Muhadloroh berada dibawah naungan Ponpes Al Anwar, sedangkan MGS dikelola oleh para Kiai di sekitar wilayah Sarang. Santri baru yang mendaftar akan dites kemampuan pemahaman kitabnya, kemudian ditempatkan sesuai kapabilitasnya.

Sistem ini didukung dengan metode diskusi harian sesuai kelas masing-masing. Beberapa santri yang memiliki kelebihan pemahaman akan dipilih untuk mengikuti diskusi bulanan antar kelas dan antar jenjang. Metode ini adalah salah satu cara menumbuhkan semangat keilmuan. Dengan adanya diskusi, akan tercipta rivalitas dan semangat untuk belajar.

Jarang Libur Ngaji

Perhatian Mbah Moen dalam pendidikan tercermin dalam kebijakannya di Pesantren Al Anwar. Selama penulis nyantri kepada Mbah Moen, nasihat untuk ngaji dan sinau (belajar) adalah satu diantara hal yang paling penulis ingat. Saking pentingnya ngaji, sangat sulit menghitung libur di Al-Anwar jika dibandingkan dengan sistem KBM modern. Penulis pernah terkejut saat mengetahui bahwa libur idul adha hanya 3 hari, kadang bahkan 1 hari. Tanggal merah yang biasanya libur, seringkali tidak berpengaruh dalam KBM di Al-Anwar. Hanya beberapa yang diliburkan, seperti tanggal 17 Agustus untuk mengenang jasa para pahlawan.

Penulis masih ingat pada tahun 2012 saat masih santri baru, tempat kosong di depan kamar dipenuhi santri untuk muthola’ah (belajar). Begitu antusiasnya, bahkan ada yang belajar sampai subuh. Biasanya dengan ditemani secangkir kopi dan sebotol air minum ukuran satu setengah liter untuk menghilangkan dahaga. Penulis yang saat itu baru lulus Madrasah Aliyah kagum, kok bisa? Kenapa begitu semangat begadang membaca literatur langka itu.

Baca juga:  Menyikapi Bahlul Masail dan Bathsul Masail Konbes NU: Kafir atau Non Muslim

Ternyata semangat belajar tersebut berawal dari lingkungan keilmuan yang sangat mendukung. Musyawarah harian menjadi tempat para santri menjelaskan pemahaman terhadap pelajaran. Tidak jarang, tema yang diangkat sesuai dengan problem yang sering terjadi di Masyarakat. Semangat untuk beradu argumen inilah yang menjadi cambuk untuk semakin giat belajar.

Ada satu cerita menarik tentang jam waktu Musyawarah. Jika ada hujan lebat yang turun saat sore atau malam, hujan akan mereda saat memasuki waktu musyawarah. Keterangan ini diceritakan oleh salah seorang ustadz atas pengamatannya sendiri. Penulis sendiri lebih dari sekali menyaksikan “keramat” ini, terutama pada tahun-tahun awal nyantri sekitar 2012-2013.

Konon katanya, ini adalah keramat dari mbah Syari’ah, nenek Mbah Moen yang istiqomah melakukan puasa senin kamis. Tirakat ini diniati agar kelak keturunannya menjadi orang alim, dan benar saja, cucu-cucunya dianugerahi kelebihan dalam ilmu agama.

Perhatian Mbah Moen terhadap keilmuan mampu mencetak banyak Ulama. Diantara santrinya adalah KH. Baha’uddin Nur Salim, pengasuh Ponpes LP3IA di Narukan, Rembang. Selain itu ada KH. Zuhrul Anam Hisyam, menantu Mbah Moen dan Pengasuh Pesantren At Taujieh Al Islamiy 2, Banyumas, dan masih banyak lagi. [Red. M2]

disarikan dari buku KH. MAIMOEN ZUBAIR : Membuka Cakrawala Keilmuan dan pengalaman pribadi penulis.

Konten ini dihasilkan dari kolaborasi Justisia.com X NU Jateng selama Ramadhan 1442 H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here