Max Weber; Sosiologi Weber

0
125
sumber: Sosiologis.com
Arizka Rayhani Nadhrotunnisa
Kru LPM Justisia 2020 | + posts

Semarang, Justisia.com – Seperti para tokoh pemikir kebanyakan, pemikiran Weber juga terpengaruh oleh latar belakang yang ia miliki. Max Weber atau yang memiliki nama asli Maximilian Weber ini merupakan seorang ahli politik, ekonom, geograf, dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri awal dari Ilmu Sosiologi dan Administrasi negara modern. Weber lahir pada 21 April 1864, di Erfurt, Jerman. Weber tumbuh di lingkungan borjuis, ayahnya adalah seorang anggota dewan dan politisi terkenal. Weber telah tertarik pada dunia akademis sejak dia masih muda. Weber belajar ekonomi, hukum dan filsafat di universitas Heidelberg, Berlin dan Gottingen.

Max Weber, yang merupakan salah satu tokoh awal Sosiologi modern, menjelaskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha memahami tindakan sosial yang terjadi dalam masyarakat untuk mencari penjelasan bagaimana tindakan tersebut berjalan dan efeknya bagi masyarakat luas. Weber merupakan seorang ilmuwan yang sangat progresif dan menulis sejumlah buku dan makalah. Salah satu bukunya yang terkenal ialah The Protestant Ethic and the Spirit Capitalism (1904). Dalam buku ini ia mengemukakan tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan antara Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat. Menurut Weber, muncul dan berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan Sekte Calvinisme dalam agama Protestan. Argumen Weber adalah sebagai berikut: ajaran calvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur-suatu yang hanya dapat dicapai dengan kerja keras. Karena umat Calvinis bekerja keras, antara lain dengan harapan bahwa kemakmuran merupakan tanda baik yang mereka harapkan dapat menuntun mereka ke arah surga. Namun keuntungan yang mereka peroleh melalui kerja keras ini tidak digunakan untuk foya-foya, karena ajaran Calvinisme mewajibkan hidup sederhana. Maka penganut agama ini menjadi semakin makmur karena keuntungan yang mereka peroleh dari hasil usaha tidak dikonsumsikan melainkan ditanam kembali dalam usaha mereka. Sifat tersebut yang menjadi dasar argumen Weber bahwa etos kerja Calvinis membuka jalan bagi sistem kapitalisme modern Eropa untuk berkembang. Hal tersebut diperkuat dengan penemuan Weber bahwa banyak pemilik modal di Inggris adalah penganut Calvinis.

Agama dan perannya dalam pembentukan tata kehidupan masyarakat memang menjadi salah satu minat Weber. Akan tetapi hubungan agama dan masyarakat bukan satu-satunya sumbangan Weber dalam ilmu sosiologi. Weber memahami sosiologi sebagai ilmu yang menitikberatkan pada penjelasan sebab-akibat sebuah fenomena sosial dapat terjadi. Hal tersebut membuat penelitian sosiologi yang dilakukan Weber erat dengan bidang ilmu sejarah. Seperti argumennya dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, dalam buku tersebut Weber berusaha mencari sebab perubahan sosial masyarakat Eropa yang bergerak menuju kapitalisme. Untuk mencari hubungan kaum Calvinis dan kapitalisme, ia meneliti sejarah perkembangan kaum Calvinis untuk mencari hubungan dengan perkembangan kapitalisme modern. Bagi Weber, sosiologi bertugas untuk mengisi ruang kosong dalam studi sejarah. Bila sejarah berusaha mencari penjelasan atas sebuah peristiwa penting dalam peradaban sebuah masyarakat, sosiologi bagi Weber mengisi ruang kosong berupa penjelasan hubungan peristiwa tersebut dengan perubahan sosial yang terjadi.

Weber tentang Kelas dan Status Sosial

Sumbangan lain Max Weber dalam ilmu sosiologi adalah pendefinisian istilah kelas dan status sosial. Kelas dan status sosial tidak dapat dipisahkan dari sosiologi, dua hal tersebut menjadi salah satu objek penting penelitian sosiologi. Kelas sosial dirumuskan Weber sebagai sekumpulan orang yang memiliki taraf ekonomi yang serupa. Orang-orang yang diklasifikasikan dalam sebuah kelas tidak terkait satu sama lain. Sebuah kelas sosial, menurut Weber, dapat dilihat dari hal-hal seperti kekayaan, pendapatan, atau pekerjaan sekumpulan orang tersebut.

Sifat kelas sosial yang tidak terkait tersebut berbeda dengan sifat status sosial yang dijelaskan Weber sebagai sebuah komunitas orang yang memiliki dominasi di sebuah masyarakat. Orang-orang yang masuk dalam status sosial yang sama umumnya terkait satu sama lain. Status sosial yang dimaksudkan Weber misalnya seperti bangsawan. Bangsawan memiliki dominasi dalam masyarakat dan mereka berkaitan satu sama lain.

Weber tentang Tindakan Sosial

Sumbangan Weber yang tidak kalah pentingnya adalah kajiannya mengenai konsep dasar sosiologi. Dalam sebuah tulisannya Weber menyebutkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial. Arti penting tulisan ini adalah bahwa di kemudian hari tulisan ini menjadi acuan bagi dikembangkannya teori sosiologi yang membahas interaksi sosial. Bagi Weber, objek utama sosiologi adalah tindakan sosial yang terjadi di masyarakat. Tindakan sosial merupakan semua tindakan manusia yang memiliki makna subjektif di baliknya. Weber memberikan tiga karakteristik untuk menyebut sebuah tindakan dapat disebut tindakan sosial, yaitu:

  1. Perilaku tersebut mempunyai makna subjektif.
  2. Perilaku tersebut memengaruhi perilaku-perilaku orang lain.
  3. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh perilaku-perilaku orang lain.

Orasi tentang kemerdekaan yang dilakukan Soekarno pada masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia dapat dijadikan contoh. Soekarno punya maksud dan tujuan melakukan orasi, yaitu menghimpun massa. Orang yang mendengarkan orasi tersebut terpengaruh dengan tindakan Soekarno tersebut dan bergabung dengan gerakan kemerdekaan. Dalam melakukan orasi, Soekarno mempunyai tokoh yang dijadikan inspirasi untuk melakukan hal tersebut. Weber membagi tindakan sosial dalam empat jenis berbeda, yaitu:

  • Tindakan rasional/tindakan instrumental

Tindakan rasional instrumental dijelaskan Weber sebagai setiap tindakan sosial yang tujuan dan cara mencapainya melalui pertimbangan yang rasional.

  • Tindakan berorientasi nilai

Tindakan berorientasi nilai berkaitan dengan norma, etika, agama, dan nilai lain yang dianut sebuah masyarakat. Tindakan yang berorientasi nilai dilakukan tidak hanya melalui pertimbangan rasional. Misalnya, kaum Calvinis yang bekerja keras tidak hanya untuk mendapatkan uang tetapi juga untuk masuk surga.

  • Tindakan tradisional

Tindakan tradisional dijelaskan Weber sebagai tindakan yang berakar dari tradisi sebuah masyarakat. Dalam melakukan tindakan tersebut, orang melakukannya karena sudah jadi kebiasaan dan tidak mempertimbangkan tujuan dan cara untuk mencapainya. Contohnya adalah upacara keagamaan yang dilakukan karena sudah terbiasa melakukannya, cara untuk melakukan upacara juga sudah diatur dan tak perlu dipikirkan ulang.

  • Tindakan Afektif

Tindakan Afektif didefinisikan Weber sebagai tindakan yang dilakukan sebagai reaksi terhadap emosi yang dirasakan seseorang. Tindakan ini bersifat refleks. Misalnya adalah orang yang menangis setelah mengetahui cerita korban perang. Tangisan tersebut merupakan reaksi atas rasa simpati yang dimiliki seseorang. Pembagian jenis tindakan sosial tersebut dilakukan Weber dengan menggunakan teori rasionalitas. Weber menguji apakah tindakan-tindakan yang dilakukan manusia selalu menggunakan dasar pertimbangan yang matang dan dilakukan dengan sadar (rasionalitas) atau tidak. Menurut Weber, tindakan rasional instrumental dan tindakan berorientasi nilai menggunakan rasionalitas dalam melakukannya. Sedangkan tindakan tradisional dan afektif tidak menggunakan rasionalitas.

Berbeda dengan teori perubahan sosial dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan sosial dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max weber lebih pada sistem gagasan, sistem pengetahuan, sistem kepercayaan yang justru menjadi sebab perubahan. Menurut Weber, sosiologi berlaku sebagai studi yang meninjau tindakan sosial guna menjelaskan hubungan sebab-akibat dari fenomena sosial tertentu. [Ed/Red. IrchamM]

Baca juga:  Al-Muhafazatu ‘Ala Al-Qadim Al-Shalih Wa Al-Akhdzu Bi Al-Jadid Al-Aslah, Kultur Pesantren di Indonesia (4)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here