Kicau Kehangatan Pesantren

1
117
Kicau Kehangatan Pesantren
Fiya Faridatul Afidah
Kru Magang 2020 | + posts

Justisia.com – Gemercik suara pelan air pagi semakin terdengar, biasanya waktu-waktu sepertiga malam seperti ini mereka bangun untuk berdoa, meminta agar hajadnya terkabul.

Pagi ini Layyina sengaja tidak bangun, bukan karena ia tak mempunyai hajad namun perempuan yang biasa disapa Ina itu kelelahan karena tugas yang dirasa semakin hari semakin menumpuk, sepertinya ia ingin balas dendam karena hampir tidak tidur semalam, skripsi yang dirasanya tak kunjung usai, belum proker-proker yang dibuatnya belum semua terlaksana, ditambah hafalan Al-qur’annya yang semakin hari semakin kacau.

Mungkin benar kata orang, kuliah sembari nyantri itu tidaklah mudah, ditambah lagi Ina hanya mempunyai dukungan dari kakaknya. Mungkin saja jika kedua orang tuanya masih hidup ia tak akan sesusah ini dalam berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, Pamannya saja bahkan menyuruh Ina tidak melanjutkan kuliah, semenjak kedua orang tuanya meninggal Ina hidup bersama Paman dan Bibinya, sedangkan kakaknya harus berjuang mencari uang di luar kota.

“Perempuan itu percuma, kuliah tinggi-tinggi, toh akhire yo nyuci piring momong anak nduk,” ucap pamannya ketika Ina memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya. Namun, beribu kali Pamannya mendesak Ina tetap teguh dengan pendiriannya, menjadi Ibu rumah tangga pada akhirnya memang kodrat wanita, akan tetapi tidak salah sebelum itu terjadi seorang wanita harus mencari ilmu dan banyak pengalaman sebagai bekal, jika dihitung sudah banyak laki-laki yang nembung ke Pamannya untuk menjadikan Ina pasangan hidup bahkan kebanyakan mereka dari kalangan orang berada Ina tetap saja menolaknya.

Hari ini sehabis subuh ada sorogan Kitab Ta’lim Mutaalim yang dikarang oleh Syekh Az-zarnuji, kitab ini adalah kajian favorit Ina, Ina terus memaksa matanya yang berat, membayangkan tempat tidur yang melambai-lambai. Sebagai seorang Aktivis kampus dan Masyarakat Ina selalu berusaha membagi waktu, walau terkadang Bu Nyai tidak mengijinkannya keluar pondok mengingat hampir setiap minggu Ina ijin keluar kota untuk menghadiri acara.

Ini adalah pilihannya,  Ina sendiri yang memutuskan bertahan di tempat suci itu, sebenarnya kapanpun dia mau dia bisa saja keluar dari pesantren dan memilih kost, namun Ina memilih bertahan, baginya tiada tempat yang lebih hangat daripada di pondok, kehidupan di pesantren sangat lucu baginya, mungkin orang lain melihatnya seperti kurungan, namun berbeda dengan orang-orang di dalamnya, mereka bisa keluar namun mereka memilih bertahan karena nyaman.

Kadang Ina merasa kesal setiap kali tidak mendapat ijin keluar akan tetapi, sesegera mungkin ia beristigfar, bukankah seharusnya dirinya yang mengikuti pesantren, salah jika pesantren yang harus mengikutinya. Benar jika kadang Bu Nyai melarangnya keluar, mengingat hafalan Ina masih berantakan. Baginya ini bukan kekangan namun kehangatan dan kepedulian. Bukankah dalam kitab Ta’lim Mutaalim favoritnya telah dijelaskan adab demi adab.

Hari ini  Ina akan menghadiri pertemuan panitia inti acara seminar besar yang akan dilaksanakan besok, terkait izin pastinya Ina sudah mendapatkannya dari Bu Nyai, dengan syarat sebelum keluar Ina harus mampu melanyahkan hafalannya.

“Kamu hari ini mau kemana In?” Tanya salah satu mbak-mbak seniornya.

“Rapat Mbak,”

“Loh, bukannya hari ini kamu dapat jatah masak di ndalem ya,”

“Astagfirullah, Ina lupa mbak! Kira-kira ada yang bisa nggantiin gak Mbak?”

“Satri-santri lain pada sibuk In, kamu sudah 3 kali gak piket masak loh In, gak enak sama Umi, lebih baik kamu ndak usah ikut rapat, toh cuma rapat doang,” jawab perempuan yang biasa di sapa Safa itu, Safa tak ada maksud buat menghalangi Ina namun, Safa hanya ingin Ina tau posisi dan juga bertanggung jawab akan tugasnya sebagai santri.

Sepertinya mau tidak mau Ina harus tidak menghadiri rapat, walaupun ini acara yang cukup besar. Ina segera menghubungi Ketua Pelaksana mengatakan bahwa dirinya ada acara mendadak yang tidak bisa ditinggalkan, Ina senang bisa terjun di masyarakat sekaligus menjadi Aktivis perempuan, sejauh ini sudah banyak yang Ina lakukan untuk menyadarkan kaum-kaum perempuan bangsa namun, ia juga tidak bisa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang santri.

Ia sadar bahwa ia tidak bisa memilih salah satu dari keduanya, keduanya harus berjalan beriringan sebisa mungkin ia akan berusaha menematkan hak dan kewajibannya. Dimana lagi ia bisa menerima kehangatan, kasih sayang, serta didikan yang tiada banding selain di pesantren, untuk semua larangan itu memang sudah peraturan dari pesantren dan Ina paham betul, dan menurutnya larangan itu adalah sebuah kepedulian, bukan kekangan.

Di pesatren Ina banyak mengambil pelajaran kehidupan, banyak kisah yang yang ia dapat dibalik jeruji besi yang kalis  ini, ia menemukan keberuntungan akan hidupnya, Ina sadar banyak orang yang tidak beruntung walaupun mempunyai keluarga yang utuh. Di sinalah ini menemukan potongan-potongan kehidupan yang hilang, Pesantren adalah tempat saling melengkapi satu sama lain, disini ia merasa menjadi orang paling beruntung karena kresempurnaan jiwa. [Red. Sadad]

Baca juga:  Lika-Liku-Laki di Negeri Berflower

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here