KH. Ubaidillah Sodaqoh Sayangkan Tindak Kekerasan Aparat Atas Warga Wadas

0
59
KH. Ubaidillah Sodaqoh Sayangkan Tinda Kekerasan Aparat Atas Warga Wadas
anak anak desa Wadas tengah menyanyikal Lestari Alamku untuk menghibur para hadirin pada acara kenduri Durian desa Wadas, di Halaman Masjid Nuru Huda, Jumat (22/02/2019). foto: Yaqin
Rusda Khoiruz Zaman
Pemimpin Redaksi Jurnal Justisia 2021

Semarang, Justisia.com – Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Komite Daerah (Komda) Semarang bersilaturahmi ke kediaman Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Ubaidillah Sodaqoh pada Minggu, 25 April 2021.

Silaturahmi ini dilakukan menyusul terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh aparatur negara terhadap warga Wadas karena melakukan aksi penolakan terhadap tambang batu andesit secara damai di Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo pada Jumat lalu (23/4/2021).

Dari data yang ada, sebanyak 10 warga dan 2 kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta dibawa ke Polsek Bener yang kemudian dipindahkan ke Polres Purworejo. Sedangkan korban luka, akibat insiden tersebut berjumlah 9 orang.

Menanggapi hal tersebut, Ubaidillah Sodaqoh, sangat menyayangkan tindakan represif yang dilakukan oleh aparatur Negara kepada warga Wadas.

“Hal pertama yang mustinya dihindari adalah bentrokan antara rakyat versus negara (alat negara). Sebab, negara ini didirikan untuk melindungi rakyat!” tegas Kyai Ubaid.

Baca juga:  Ganti Kepala PPB hingga Transparansi Dana, Ini Tujuh Tuntutan KBMW

Perlu kita pahami, imbuh kyai Ubaid, negara ini didirikan bersama punya maksud dan tujuan untuk melindungi rakyat, menjamin hak-hak rakyat. “Jadi kalau sampai ada bentrok antara rakyat dan Negara itu suatu kebodohan. Kebodohan yang masha Allah,” paparnya.

Beliau menambahkan, tindakan pemerintah yang hendak mengambil tanah rakyat adalah hal yang sepatutnya tidak dilakukan.

“Apabila pemaksaan pemerintah, dalam mengambil hak tanah yang sudah dikuasai oleh rakyat, milik rakyat, tentu itu tidak elok. Kalaupun toh tanah itu masih milik negara dan jika diambil akan membahayakan rakyat, ini juga tidak elok,” tutur beliau.

Dalam kasus ini, pria yang akrab dipanggil yi Ubaid tersebut juga menyarankan agar pemerintah mengedepankan prinsip musyawarah secara terbuka dan mendengarkan apa yang diinginkan rakyat, tanpa manipulasi, lebih-lebih melakukan kekerasan atau malah menyalahkan rakyat yang melakukan penolakan. Karena baginya, rakyat tentu mau yang terbaik. Bukan sebaliknya.

“Jadi prinsipnya itu kedekatan musyawarah. Musyawarah itu ya musyawarah yang terbuka, tidak ada manipulasi, tidak ada penggulingan dan sebagainya, harus gitu.

Baca juga:  WD III: Administrasi Itu Penting dalam Berorganisasi

Memang menjadi pemerintah itu angel, dia harus momong. Bukan menghajar, tapi momong bagaimana kemauan rakyat. Tidak bisa kita menyalahkan rakyat. Tidak bisa. Rakyat itu maunya ya baik. Raono rakyat maunya ‘aku kere’. tidak ada,” pintanya.

Selain itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon tersebut turut mendesak agar pemerintah menjawab kecurigaan-kecurigaan yang beredar di tengah rakyat semisal ada pengusaha yang bermain di Proyek Strategis Nasional tersebut.

“Tanah itu tanah apa, kalau sudah milik rakyat dan tanah itu sudah bermanfaat bagi rakyat, ya ngapain diutik-utik. Apa karena di situ ada batu andesitnya? Kemudian ada pengusaha yang main, atau gimana, ya Wallahu ‘alam kan. Itu kecurigaan-kecurigaan itu harus dijawab di tengah rakyat,” ungkapnya.

Secara pribadi, Gus Ubaid mendukung perjuangan rakyat untuk mempertahakan haknya, khususnya warga Desa Wadas.

“Ya berjuang, pertahankan hak itu! Artinya, kalau masyarakat belum menerima, hak bagi masyarakat untuk menolak. Mempertahankan hak itu ya kalau mati ya syahid, syahid akhirat,” pungkasnya.[Red. sI]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here