KH. Muntaha Al-Hafidz Ahli Al-Qur’an dari Negeri Atas Awan

Strategi dakwah lainnya ia lakukan dengan pembuatan Mushaf Al-Qur’an Akbar (Al-Qur’an terbesar di dunia) dengan ukuran 2 x 3 meter (jika dibuka) yang ditulis atas intruksi Mbah Muntaha.

Sumber foto: wikipedia.com

Semarang, Justisia.com – Bagi para santri khususnya daerah Jawa Tengah, nama KH. Muntaha al-Hafidz mungkin sudah tidak asing lagi bagi mereka. Ia adalah sosok yang telah berhasil dalam menyebarkan dan menanamkan nilai kecintaan Al-qur’an di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Lembaga Pondok Pesantren, sekolah SMP dan SMA Takhassus Al-qur’an hingga Universitas Sains Al-qur’an (UNSIQ) Wonosobo Jawa Tengah yang secara geografis diapit oleh Gunung Sindoro, Gunung Sumbing serta Pegunungan di dataran tinggi Dieng.

KH. Muntaha al-Hafidz adalah putra K.H Asy’ari bin KH. Abdurrahman. Ibunya bernama Hj. Syafinah, lahir pada 9 Juli 1912, di Desa Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo dan wafat 29 Desember 2004 di RSU Tlogorejo Semarang.

Pendidikan awal KH. Muntaha didapat dari kedua orang tuanya yaitu KH. Asy’ari dan Hj. Safinah, dari orang tuanya tersebut KH. Muntaha memperoleh bekal ilmu-ilmu dasar seperti ilmu membaca Al-Qur’an, ilmu nahwu dan ilmu fiqih.

Selama menekuni masa belajar, KH. Muntaha pernah nyantri di beberapa pondok pesantren di antaranya yaitu Madrasah Darul Ma’arif Banjarnegara dibawah asuhan KH. Fadhullah, dilanjutkan ke Ponpes Kauman Kaliwungu Kendal kepada KH. Utsman. Pada usia 16 tahun telah berhasil mengkhatamkan tahfidz Al-Qur’an 30 Juz, perjalanannya mencari ilmu dilanjut di Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta asuhan KH. Munawwir ar-Rosyad, yang terkenal alim dalam bidang Al-Qur’an. Sampai pengembaraan ilmunya pun berlabuh di Pondok Tremas Pacitan, Jawa Timur di bawah bimbingan KH. Dimyati dan selesai pada tahun 1950.

Sewaktu menuntut ilmu KH. Muntaha selalu menerapkan hidup sederhana meskipun berasal dari keluarga pesantren yang notabenya orang mampu. Seperti yang dilakukan KH. Muntaha dalam perjalanannya mencari ilmu dari satu pondok ke pondok selanjutnya, ia rela dan ikhlas berjalan kaki untuk sampai di pondok yang dituju, bahkan dalam perjalanannya pun ia selingi untuk membaca Al-Qur’an. Hal ini ia niatkan agar spiritualitasnya semakin dalam, serta memperoleh ilmu yang berkah dan manfaat disamping juga ia niatkan sebagai riyadhoh.

Meng-Qur’an-kan Masyarakat dan Memasyarakatkan Alqur’an

Setelah selesai menuntut ilmu, KH. Muntaha menggantikan tampuk kepemimpinan ayahnya, menjadi pengasuh Pondok Asy’ariyyah. Dibawah asuhan KH. Muntaha inilah Al-Asy’ariyah berkembang pesat dengan berdirinya Lembaga Pendidikan Modern, dari jenjang TK hingga Universitas. Hal ini tidak terlepas dari kegigihan dan kesungguhan KH. Muntaha dalam menyebarkan dan memasyarakatkan Alqur’an.

Dalam misi dakwahnya, langkah awal yang ditempuh KH. Muntaha dalam menyebarkan Pendidikan Al-Qur’an adalah dengan mendirikan sekolah-sekolah formal yang memasukkan Al-Qur’an sebagai pembelajaran yang utama. Keberhasilannya mengembangkan pendidikan dapat dilihat dengan berdirinya sekolah-sekolah dibawah naungan Yayasan Al-Asy’ariyyah yang menaungi berbagai jenjang pendididikan seperti; Taman Kanak-kanak (TK) Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, ‘Ulya dan Madrasah Salafiyah Al-Asy’ariyyah, SMP dan SMU Takhassus Al-Qur’an, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Yang selanjutnya berubah nama menjadi Univesitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ). KH. Muntaha menjadi salah satu pendiri sekaligus memegang jabatan Rektor pada perguruan ini sebelum berubah menjadi Universitas.

Strategi dakwah lainnya ia lakukan dengan pembuatan Mushaf Al-Qur’an Akbar (Al-Qur’an terbesar di dunia) dengan ukuran 2 x 3 meter (jika dibuka) yang ditulis atas intruksi Mbah Muntaha.

Dalam perjuangan memasyarakatkan Al-Qur’an, Mbah Muntaha melakukan eskalasi menyesuaikan kondisi masyarakat. Misalnya pada masa awal perkembangan pesantren eskalasi lebih dikhususkan untuk mengkaji kitab kuning dan hafalan Al-Qur’an dan masa-masa selanjutnya pesantren pun telah memasukkan pembelajaran umum namun tetap mempertahankan sistem salaf yang sudah ada. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat jumlah santri pun bertambah banyak.

Ahli Qur’an yang Mengamalkan Ilmunya

Hampir seluruh usia Mbah Muntaha (Sapaan akrabnya) Ia abdikan untuk menyebarkan dan mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada para santrinya dan masyarakat di sekitarnya. Dalam kesehariannya Mbah Muntaha rutin mengajar para santrinya dengan menyimak hafalan santri yang menyetorkan hafalan kepadanya.

Sangking cintanya terhadap Al-Qur’an, Mbah Muntaha tidak pernah mengisi waktu luang kecuali dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an senantiasa menjadi pegangan dalam mengambil keputusan, sekaligus menjadi media.

Dedikasi kecintaan KH. Muntaha terhadap Al-Qur’an juga diwujudkan melalui penulisan tafsir maudhu’i atau tafsir tematik yang dikerjakan oleh para ustadz Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah dan para dosen UNSIQ Wonosobo. Gagasan tersebut mengandung maksud untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada masyarakat yang lebih luas.

Sebagai seorang figur Kyai yang sangat karismatik banyak pesan-pesan yang diutarankan Mbah Muntaha kepada para santri salah satu pesannya yaitu “waktu magrib iku waktu ijabah kanggo mujahadah, tadarus, ndungo, wiridan, belajar, ngaji. Mulo kabeh santri tak wajibke  ngamalaken kang kasebut nduwur mau sopo bae kang ora ngamalaken, Insha Allah ora merkoleh ilmu manfaat”. [Red. Musyaffa’]

Konten ini dihasilkan dari kolaborasi Justisia.com X NU Jateng selama Ramadhan 1442 H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *