Ketulusan Cinta Qays Kepada Layla

0
44
Ketulusan Cinta Qays Kepada Layla
Cover buku Layla Majnun. Sumber: gavamedia.net
Althaf Hakim Rahman
Kru Magang 2020 | + posts

Cinta adalah perasaan positif yang melibatkan unsur kasih dan sayang ditujukan kepada seorang yang tulus dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cinta tak memandang dari siapa, kepada siapa, dimana dan karena apa, tetapi cinta datang secara tiba-tiba tak mengenal tempat dan waktu.

Begitu juga ketika mendengar kisah Layla Majnun. Kisah yang sangat terkenal dan fenomenal tersebut sampai saat ini masih sering dibaca khususnya bagi kaum pencinta dan penggemar sastra klasik. Kisah ini terjadi pada abad ke 7 di negara Arab yang kemudian dikembangkan menjadi bahasa yang indah dan puitis oleh seorang penyair asal Persia yaitu Nizami Ganzavi pada abad ke 12 masehi.

Buku yang ditulis oleh Syaikh Nizami menceritakan seorang lelaki bernama Qays sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Saking cintanya kepada sang wanita, ia menjadi gila, tak tau arah, lupa waktu dan tak sadarkan diri, begitu juga Layla.

Awal mula kisah ini berasal dari kabilah Bani Amir, bertempat di lembah Hijaz, Arabia, berada diantara Makkah al-Mukaromah dan Madinah al-Munawaroh. Syed Omri adalah pimpinan Bani Amir pada saat itu, walaupun sudah tua, tetapi kekuasaanya amatlah luas bak sejauh mata memandang.

Harta kekayaannya pun amatlah banyak, bak kekayaan Nabi Sulaiman yang bisa dibagi hingga tujuh turunan. Syekh Omri menjadi teman yang menyenangkan bagi para saudagar, hartawan dan konglomerat, juga sebagai tempat berteduh bagi para fakir miskin dikala membutuhkan harta serta sebagai penunjuk arah bagi para musafir dikala tersesat.

Namun harta, kebahagiaan dan amal baiknya tak mampu mengusir perasaan hatinya yang sedang bersedih karena belum dikarunai anak. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun ia selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan agar dikaruniai anak. Akhirnya, Syekh Omri dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Qays.

Belasan tahun sudah Qays tumbuh besar diasuh oleh orang tuanya sendiri. Seiring berjalanya waktu, Syekh Omri mengusung pendidikan Qays kepada lelaki tua yang berada di daerah Badui yang terkenal sabar dan penyayang. Beliau merupakan guru terbaik yang telah cakap keilmuan pada saat itu. Di sekolah, Qays termasuk anak yang cerdas, tekun dan mempunyai kemampuan di atas rata-rata.

Di antara anak-anak dari berbagai kabilah, tampak seorang gadis yang cantik jelita, kulitnya bersinar cerah bak matahari, senyumnya bak buah anggur yang telah masak. Gadis yang menjadi buah bibir para pemuda itu bernama Layla. Qays pun terpikat dan terpana melihat kecantikan gadis itu, begitu juga dengan Layla. Tetapi jarak masih tak mengizinkan kedua insan bertemu.

Qays yang tergila-gila dengan Layla terus mengeluarkan syair-syair yang indah dari lisannya sembari mengingat Layla. Sampai ia lupa akan qodratnya sebagai manusia yaitu makan, minum dan yang utama menjaga kesehatan tubuhnya. Tanah lapang sebagai tempatnya berpijak, pohon yang rindang menjadi atapnya, serta hewan-hewan buas tunduk kepadanya bak teman karibnya.

Qays tak henti-henti mengucapkan syair yang keluar dari lisannya, tak memperduikan sekitar hingga dijuluki dengan majnun yang berarti gila. Bukan berarti gila secara jasmani, tetapi gila karena dirinya sedang dilanda api asmara.

Semakin lama, kegilaannya pada Layla tak dapat terbendung sampai ia tak memperdulikan kesehatan tubuhnya yang kurus dan kering. Sebagai ayah, Syekh Omri telah kehabisan akal untuk mencarikan obat untuk Qays, dan bahkan Qays memilih untuk tinggal di goa yang jauh dari permukiman untuk sekedar menenangkan pikiran dan yang terpenting untuk mengingat Layla.

Seiring berjalanya waktu, Qays yang tak kunjung jua bertemu dengan Layla, sampai ada kabar Ibnu Salam akan melamar Layla. Mendengar kabar tersebut, Majnun langsung jatuh pingsan dan beranggapan bahwa usahanya mendapatkan hati Layla selama ini sia-sia, tetapi Layla tetaplah setia kepada kepada Majnun dan ia belum tersentuh oleh Ibnu Salam.

Seorang pangeran sekaligus pemburu yang bernama Naufal pun ikut peduli kepada nasib Majnun yang sedang dilanda api asmara cinta. Ia telah memberikan beberapa cara kepada Majnun agar melupakan cintanya kepada Layla, tapi hal tersebut hanyalah sia-sia belaka.

Ibnu Salam sebagai suami dari Layla merasa diinjak-injak harga dirinya karena ia tak diijinkan oleh Layla menyentuh tubuhnya. Hingga akhirnya, Ibnu Salam sakit selama berhari-hari dan meninggal dunia.

Layla yang ditinggal mati oleh Ibnu Salam tidak sama sekali memiliki rasa sedih, karena cintanya yang sejati adalah Qays seorang. Setelah ditinggal suaminya, Layla merasa lega karena masih berkesempatan memiliki Qays. Tetapi menurut adat di daerah setempat bahwa apabila seorang perempuan ditinggal suami meninggal, ia harus menunggu 300 hari lamanya apabila ingin kembali berkeluarga.

Akhirnya pun Layla juga jatuh sakit karena stress memikirkan sesuatu yang tak kunjung datang dan ia dikabarkan meninggal tak lama setelah suaminya meninggal. Majnun pun sontak kaget mendegar berita tersebut, lantas mendatangi nisan Layla dimana ia disemayamkan. Majnun dengan perasaan amat sedihnya memeluk nisan Layla dengan amat erat hingga tak memperhatikan kesehatan tubuhnya. Majnun pun ikut meninggal di atas makam Layla disemayamkan.

Banyak sekali pelajaran yang telah diambil di dalam buku ini, di antaranya mengajarkan bahwa bagaimana arti ketulusan suatu cinta terhadap pasanganya walaupun tak sempat menjalani pernikahan, juga mengajarkan apa arti cinta dan kasih sayang yang sebenarya, tak hanya sekedar gombal-gombalan belaka yang dibuktikan dengan realita.

Buku ini juga terdapat banyak syair yang ditulis oleh Syekh Nizami dengan bahasa yang indah dan puitis, yang membawa para pembaca ke dunia romance. Buku ini sangat cocok dibaca siapa saja, khususnya untuk kaum pecinta dan penggemar sastra klasik.

Buku ini sangat memberikan inspirasi, pesan dan kesan kepada pembacanya. Bahasanya yang lembut dapat mengalirkan sampai ke lubuk hati. Hanya saja, banyak pengulangan kata yang telah digunakan pada kalimat sebelumnya dalam susunan kesastraannya yang menjadikan pembaca merasa bosan.

Judul Buku : Layla Majnun
Judul Asli : Qays bin al-Mulawah, Majnun Layla
Pengarang : Syaikh Nizami
Penerbit : Gava Media
Tahun Terbit : 2019
Jumlah Halaman : 226 Halaman
Peresensi : Althaf Hakim R.[Red. Sonia]

Baca juga:  Indahnya Ilahi atau Birahi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here