Kaleidoskop Internasional 2021: Awal Penyelenggaraan Event Di Masa Pandemi

0
33
Kaleidoskop Internasional 2021: Awal Penyelenggaraan Event Di Masa Pandemi
Doc./Image: Tim Litbang & Desain Justisia
Website | + posts

Semarang, Justisia.com – Tahun 2021 memberi beberapa perubahan baru meskipun dalam keadaan pandemi covid-19. Perubahan baru ini menjadi tanda bahwa pandemi bukan halangan untuk melakukan kegiatan seperti sebelumnya. Dimulai dengan penyelenggaraan acara dalam negeri secara langsung dengan protokol kesehatan. Penyelenggaraan acara di kancah internasional juga mulai diselenggarakan seperti ajang olahraga. Berikut beberapa gambaran peristiwa internasional pada tahun 2021:

1. Piala Eropa 2021
Pertandingan Piala Eropa 2020 yang sempat ditunda satu tahun, akhirnya dilaksanakan pada bulan Juni 2021. Ajang sepak bola eropa kali ini berbeda dengan sebelumnya, dengan satu atau dua negara sebagai tuan rumah. Pada tahun ini, melibatkan 11 kota dalam 11 negara sebagai tuan rumah penyelenggara.

Sesuai dengan formasi jumlah peserta tahun sebelumnya, Piala Eropa ini diikuti oleh 24 peserta. Selain itu, Piala Eropa 2021 juga memberikan kesempatan untuk empat peringkat ketiga terbaik dari masing masing grup untuk bergabung ke babak 16 besar.

Gelaran UEFA 2021 mengeluarkan Italia sebagai juara setelah mengalahkan Inggris. Pertandingan yang berlangsung dengan skor 1-1 bertahan hingga 120 menit. Hal ini membuat pertandingan berlanjut ke babak adu pinalti untuk menentukan juara. Babak inilah yang membuat Italy menyandang gelar juara piala eropa 2021, dengan skor 3-2 melawan Inggris pada Senin, (12/07).

2. Olimpiade Tokyo 2021
Sebelum pelaksanaan olimpiade Tokyo 2021, terdapat pro-kontra dari beberapa pihak terkait. Penolakan dilakukan oleh warga maupun beberapa politikus. Tetapi panitia penyelenggara tetap melukan promosi secara maksimal guna menyelenggarakan olimpiade ini. Promosi yang dilakukan berupa pawai obor agar masyarakat Jepang turut menyukseskan acara tersebut.

Olimpiade ke-32 yang dibatalkan pada tahun 2020 lalu akhirnya diselenggarakan di Tokyo pada tanggal 23 Juli – 8 Agustus 2021.  Perhelatan ini diikuti sebanyak 205 negara dengan jumlah atlet yang tercatat sebanyak 11.090 atlet.

Olimpiade tingkat dunia ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali dengan dua musim; musim dingin dan musim panas yang merupakan musim yang ikut terlibat dalam penyelenggaraan event ini. Sehingga tidak mengherankan jika partisipan yang ikut cukup banyak mengingat tingkatan perlombaan yang sangat besar.

Berbagai negara hingga jenis perlombaan dilaksanakan guna menentukan juara Olimpiade Tokyo 2021 ini. Setelah melalui banyak perlombaan dan kejuaraan ini akhirnya mencapai ujung acara. Olimpiade ini ditutup kemudian ditetapkan Amerika Serikat sebagai juara umum dengan mengumpulkan 39 emas, 41 perak, dan 33 perunggu.

3. Amerika Serikat Terusir dari Afghanistan
Pada Kamis, (08/07), Presiden Joe Biden memutuskan menarik mundur pasukan militer AS setelah 20 tahun menginvasi Afghanistan saat pidatonya. Hal ini dilatar belakangi karena konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Taliban di Afganistan merugikan salah satu pihak. Amerika, sebagi pihak yang dirugikan karena waktu yang diperlukan cukup lama dan besaran biaya untuk ini serta orang yang tewas tidak sedikit. Disamping itu perang ini sudah tidak populer dikalangan warga AS, bahkan tidak sedikit yang menyatakan seruan untuk mengakhiri keterlibatan dalam hal ini.

Pada pemerintahan Donald Trump, mulai mengintensifkan negosiasi dengan Taliban sehingga menandatangani sebuah kesepakatan. Dalam kesepakatan tersebut, AS menarik sisa pasukannya yang berada di Afghanistan. Penarikan pasukan yang pertama dilakukan dibawah pemerintahan Trump. Hal itu berlangsung hingga masa pergantian presiden AS dari Donald Trump ke Joe Biden. Evakuasi pasukan terus berlangsung dengan batas akhir evakuasi dilakukan pada Selasa, (31/08), meliputi pasukan militer, staff kenegaraan, dan warga sipil.

4. Aukus
Amerika Serikat, Inggris dan Australia menyepakati pakta keamanan trilateral yang dinamakan Aukus pada Rabu, (15/09). Akronim ini berasal dari Autralia, United Kingdom, dan United States. Amerika serikat dan Britania Raya membantu Australia dalam mengembangkan dan mengerahkan kapal-kapal selam bertenaga nuklir, disamping mengerahkan militer Barat di kawasan Pasifik. Perjanjian ini mencakup beberapa bidang utama, seperti kecerdasan buatan, perang dunia maya, kemampuan bawah air, dan kemampuan serangan jarak jauh.

Munculnya aliansi ini tidak menutup adanya pro-kontra dari pihak luar. Di wilayah Asia Tenggara sendiri terdapat beberapa negara yang pro dan juga kontra terhadap aliansi ini. Dukungan terhadap Aukus diberikan oleh Filipina, Singapura, dan Vietnam. Sedangkan negara lain yang khawatir maupun menolak ialah Indonesia dan Malaysia.

Negara yang menolak Aukus sendiri memiliki beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan itu. Mereka mengkhawatirkan jika aliansi ini menyebabkan ajang perlombaan senjata nuklir. Selain itu, kekhawatiran lain yaitu wilayah laut China Selatan sebagai arena konflik dan ASEAN kehilangan sentralisasinya.

5. Covid-19 dan Varian Baru
Covid-19 masih  menjadi wabah virus di berbagai negara tanpa terkecuali Indonesia. Berbagai upaya telah diterapkan untuk mengurangi dan mencegah adanya kasus penularan virus ini. Upaya yang dilakukan bisa dalam skala kecil maupun besar, atau bahkan dalam upaya mandiri maupun bersama-sama. Upaya mandiri seperti selalu menggunakan masker dan handsanitizer. Sedangkan untuk upaya pencegahan skala besar mupun bersama-sama seperti pemberlakuan PPKM.

Saat ini, upaya besar yang dilakukan pemerintah untuk mencegah pelonjakan kasus covid-19 yaitu dengan melakukan vaksinasi secara berkala. Upaya ini telah diselenggarakan di banyak daerah bahkan ada beberapa daerah yang sudah mencapai tahap vaksinasi kedua. Setelah vaksin masyarakat akan diberi sertifikat vaksin sebagai tanda bahwa sudah vaksin. Selain itu, sertifikat tersebut digunakan untuk beberapa syarat administrasi saat bepergian muapun mengikuti suatu acara.

Pada 23 Desember, dilansir dari Worldometes, tercatat sebanyak 277.698.982 kasus Covid-19. Sebanyak 5.396.858 dinyatakan meninggal dan 248.918.302 sembuh. Jumlah ini diperoleh setelah penerapan berbagai upaya pencegahan yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah.

6. Penindasan Terhadap Jurnalis Selama 2021
Committee to Protect Journalists (Komite Perlindungan Jurnalis) atau CPJ mencatat hingga awal Desember 2021, sebanyak 24 jurnalis dinyatakan tewas di seluruh dunia. CPJ juga mencatat 293 jurnalis dipenjara selama 2021 dengan berbagai tuduhan, angka ini meningkat sebesar 13 dari jumlah 280 selama 2020.

Berdasarkan pencatatan tersebut, terdapat lima negara terbanyak dalam memenjarakan jurnalis dan sejenisnya. China menjadi negara terbanyak yang memenjarakan jurnalis, yaitu sebanyak 50 wartawan mendekam di penjara. Selanjutnya ada negara Myanmar yang melakukan tindak kekerasan kepada media menyusul adanya kudeta militer pada 1 Februari. Lima besar dilengkapi dengan negara Mesir, Vietnam, dan Belarus.

Penindasan terhadap jurnalis dunia, dilatar belakangi karena beberapa faktor. Berawal dari pemerintah yang otoriter maupun bertugas di daerah konflik menjadi halangan para jurnalis. Hal itu juga yang mengakibatkan para jurnalis dipenjara bahkan ada beberpa jurnalis yag tewas saat melakukan tugasnya. [Ed. M2/ Red. Lisana]

Baca juga:  FSH Gelar Perkuliahan Tatap Muka 100 % Mulai Tanggal 17 Mei 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here