Jurnal Justisia Edisi 52: “Deformasi Makna Radikal”

0
74
Jurnal Justisia Edisi 52:
Desain Jurnal Justisia edisi 52. oleh Tim Kreatif Justisia
Website | + posts

Justisia.com – Mendengar kata radikalisme, kita pasti akan teringat dengan terjadinya peristiwa 11 September di Amerika. Dan mulai saat itu juga, ramai-ramai dunia menabuh genderang perang terhadap apa yang disebut dengan radikalisme. Di Indonesia sendiri seruan itu juga menggema saat Orde Militeristik Harto mengecap siapa pun dan kelompok mana saja yang menolak asas tunggal Pancasila.

Radikalisme, dengan demikian, sering dikaitkan-kaitkan dengan gerakan terorisme atau disematkan kepada golongan paham keagamaan ekstrim, yang kontras dengan golongan paham keagamaan moderat pada umumnya. Bahkan, dewasa ini, golongan yang tak sepakat dengan kebijakan yang dibuat Pemerintah, distigma sebagai golongan radikal. Begitu katanya.

Oleh karenanya, kami redaktur jurnal Justisia tertatik untuk mengupas lebih dalam mengapa kata radikal ini mengalami deformasi makna. Kata yang secara leksikal mengandung makna positif tiba-tiba berubah menjadi kata terlarang yang mengancam agama, nusa dan bangsa.

Jurnal Edisi 52 dapat diunduh di sini.

Baca juga:  Mini Juornal: "Thought of Philosophical Figures"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here