Integral Agama dan Negara KH. Wahid Hasyim

0
23
Selamat Hari Ibu di Bulan Gus Dur
Foto Wahid Hasyim bersama Ibu Nyai Siti Sholichah. sumber www.wikimedia.org
M. Lutfi Nanang Setiawan
Kru Magang 2020 | + posts

Justisia.com – Pembicaraan seputar negara dan agama selalu menghadirkan dialektika berkala. Tidak ubahnya juga menjadi pemantik bagi sebagian kalangan intelektual; mengkaji, mengulas, mengkonsepsi pemikiran melalui integralisasi kedua aspek dalam satu wadah atau mereduksi bahkan menegasi.

Suatu keniscayaan jika singgungan negara dan agama selalu menarik atensi dan menghadirkan beragam persepsi. Bertolak dari realitas yang ada, tidak heran jika muncul ideologi yang heterogen berkembang dan mewarnai iklim politik negara di seluruh dunia, seperti sekuler dan teokrasi. Secara metodologis pun, masing-masing dari ideologi tersebut adalah derivasi dari ideologi liberal dan ideologi khilafah.

Indonesia, pasca kemerdekaan hingga sekarang, memiliki ideologi, konsep dan bentuk negara, demokrasi Pancasila. Pendekatan historis menyatakan karena Indonesia memiliki corak perjuangan dan sejarah yang berbeda dalam merebut kemerdekaan dari hegemoni kolonial. Sejarah itu berhasil dimenangkan oleh pribumi dengan semangat ‘nasib yang sama’ untuk kesejahteraan bersama.

Kendati demikian, suka atau tidak, mau atau tidak, kemerdekaan yang sudah kita reguk selama 76 tahun ini, adalah tidak lepas dari peran pesantren. Peranan kaum ulama dan santri dari awal perjuangan merebut kemerdekaan hingga dapat menikmati suasana kemerdekaan saat ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Merekalah yang memberikan keyakinan kepada rakyat Indonesia yang pada saat itu harga diri dan martabatnya sedang diinjak-injak penjajah dan dicap sebagai inlander atau bangsa rendahan. (Ahmad Royani, 2018)

Berawal dari alur perjuangan dan semangat pembebasan di atas, muncullah kyai-kyai dari bilik pesantren dengan semangat nasionalisme dan keberanian, di antaranya KH. Hasyim Asy’ari dan putranya, KH. Wahid Hasyim, KH. Agus Salim, KH. Mas Mansyur, KH. Wahab Chasbullah dan lain sebagainya. Hingga kemudian melahirkan organisasi masyarakat seperti NU dan Muhammadiyah, bentuk buah hasil perjuangan mengakomodasi semangat kemerdekaan dan kemandirian.

KH. Wahid Hasyim, putra dari muassis Nahdlatul Ulama, KH. M. Hasyim Asy’ari, adalah sekian kyai pesantren yang paling getol membicarakan dan memperjuangkan nilai independensi dan otonomi. Kiprahnya dimulai sejak pendudukan Indonesia oleh Jepang dan Belanda dengan gagasan responsifnya melahirkan ‘tentara Hizbullah,’ tentara yang beranggotakan santri dan kyai dengan senjata andalannya, bambu runcing asma’.

Beliau juga tergabung dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Pemikiran-pemikirannya yang brilian turut mewarnai dan mengisi ruh konstitusi Indonesia sebagai kaidah dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan tegaknya Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, tidak terlepas dari ide dan gagasannya tatkala duduk sebagai anggota. (Mahfud MD, 2012)

Peran beliau yang lumrah kita baca soal penggantian redaksi sila pertama Pancasila dari awalnya kontras dengan kepentingan warga muslim ditransformasi untuk kebutuhan masyarakat Indonesia secara luas-tidak melihat latar belakang agama. Mengingat Indonesia bukanlah negara milik satu agama atau satu etnis, justru keberagaman itu menjadi spirit persatuan dan perpaduan.

Ayah dari Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid adalah menteri pertama dalam kabinet pertama dibawah rezim Soekarno pada tahun 1945. Dalam perjalanannya, andil dan kontribusi beliau dalam merumuskan ide dan gagasan sangat lah visioener dan adaptif dengan perkembangan zaman. Pun buah pemikirannya masih dapat kita rasakan dan digunakan oleh banyak orang hingga sekarang.

Tersebutlah misal lahirnya Pendidikan Agama Islam dengan memasukkan pelajaran agama dalam sekolah umum dan Perguruan Tinggi Islam Negeri. Suatu pandangan mengenai integrasi agama dalam tatanan negara dengan dalih pendidikan agama selama ini hanya diajarkan melalui pendidikan non-formal; pesantren atau TPQ, konsekuensinya pengajaran tidak merata juga cita agama mengekspansi ajarannya secara universal dan mondial belum bisa terenjawentahkan secara normal.

Pembenahan pendidikan yang beliau lakukan tidak semata-mata karena beliau memangku jabatan sebagai Menteri Agama melainkan karena rasa dan panggilan nurani beliau sebagai seorang pendidik muslim. KH. Abdul Wahid Hasyim tidak hanya sebagai pemikir saja melainkan juga seorang praktisi sehingga hasil pemikirannya selalu sesuai dengan tuntutan kondisi dan situasi saat itu. (Siti Nur, 2018)

Di tanah air masih terjadi ketimpangan dalam proses pendidikan, dimana pendidikan masih di dominasi pendidikan yang mengedepankan ilmu pengetahuan (Sains dan budaya) terutama di sekolah umum, belum banyak pendidikan berbasis agama diberikan sehingga tidak mengherankan bilamana sampai saat ini pendidikan belum berdampak pada pola perilaku masyarakatnya karena selama ini barometer keberhasilan hanya diukur dari aspek intelektual dan iptek bukan pada tuntunan agama, sementara di sekolah agama kurang memberikan pendidikan iptek dan belum adanya pendalaman pendidikan berbasis pengetahuan dengan basis agama oleh sebab itu perlu adanya alternatif untuk pembaharuan pendidikan di Indonesia dalam peningkatan mutu pendidikan.

Semua itu atas dasar pemikiran KH. Wahid Hasyim yang modernis dan visioner menangkap perubahan zaman sehingga apa yang menjadi titik masalah terhadap masyarakat bisa digawangi. Selebihnya, walaupun berkepribadian modernis beliau tetap tidak menanggalkan aspek konservatif dan salaf. Moderat, seperti adagium ulama salaf “menjaga tradisi lama yang baik serta mengadopsi pembaharuan yang lebih baik.”

Intensi pemikiran tersebut untuk mewujudkan generasi Indonesia yang tidak hanya pandai perihal pengetahuan alam dan sosial tetapi juga terampil berbicara masalah agama. Artinya dengan ilmu yang di miliki ia mampu hidup layak di tengah masyarakat, mandiri dan mempunyai kapasitas memecahkan dinamika problematika masyarakat yang semakin hari semakin pelik dan kompleks. Pun konsepsi itu adalah bagian dari integral agama dan negara. (Red/Khasanah)

Konten ini diproduksi atas kolaborasi justisia.com dan NU Jateng selama bulan Ramadhan 1442 H.

Baca juga:  Stigma Keliru Ideologi Punk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here