Ihwal Isra’ Mi’raj; Realitas Konstruktivisme Islam

0
103
Ihwal Isra Mi'raj; Realitas Konstruktivisme Islam
Ilustrasi Isra' Mi'raj, sumber: kumparan.com
M. Lutfi Nanang Setiawan
Kru Magang 2020 | + posts

Justisia.com – Sejarah Islam zaman nubuwwah yang berhasil menyentuh iklim kontradiktif adalah peristiwa Isra’ Mi’raj. Tidak hanya mengundang perdebatan antar umat beragama pada zamannya, dewasa ini tidak sedikit dari ahli agama apapun kembali mengulas dan mengkaji; bagaimana bisa seseorang bepergian dari satu tempat ke tempat lain melebihi kecepatan cahaya (dengan jasad dan ruhnya sekaligus)?

Bahkan, saking mustahilnya bagi alam nalar manusia, banyak dari pengikut Muhammad yang dulu setia dan patuh terhadap titah dan ajarannya terpaksa berpisah dari jamaah wahdah-nya. Ulama Islam mengatribusikan peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai sarana pengujian Iman oleh Tuhan; percaya dengan menanggalkan peran akal dalam menangkap cerita Muhammad menghadap Tuhannya, tetap berstatus muslim sampai hayat dan sebaliknya.

Kendati demikian, di lain sisi merupakan sarana penghibur lara bagi Muhammad Saw. yang secara internal (wafatnya istri dan paman) dan eksternal (bantuan luar dari kakeknya menghadapi kafir Quraisy) habis dimakan takdir oleh kuasa Tuhan. Mengingat salah satu kandungan dalam surah al-Insyirah; di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Pun, menurut Heraclitus, semua hal yang ada dan terjadi di dunia memiliki dua sisi; kebaikan dan keburukan serta kemudahan dan kesulitan.

Bertolak dari ihwal Isra’ Mi’raj yang-mengundang beragam tanggapan dan kajian variatif oleh berbagai kalangan dan kelompok-jika kita pahami dan ulas kembali melalui pendekatan paradigma penelitian sosial, akan memunculkan diferesiensi pemahaman yang jelas berbeda tergantung pola dan corak sudut pandang mana yang akan kita pakai. Dalam hal ini, penulis mencoba menguraikan melalui pendekatan paradigma posititvisme dan konstruktivisme.

Pengantar Positivisme-Kontrukstivisme

Paradigma adalah kerangka berpikir dan cara pandang seseorang tentang strategis untuk menentukan nilai dalam sebuah disiplin pengembangan ilmu pengetahuan. Menurut pemahaman Guba dan Lincoln mengatakan bahwa paradigma memiliki kerangka berpikir mulai dari ontologi (ilmu tentang ‘ada’) yang melihat realitas sebagai konstruksi sosial, epistimologi (cara mendapatkan penemuan) dan metodologi (metode penemuan) dalam melakukan sebuah penelitian (Saidi, Anas. 2015, Septimawan, Dhanny Sutopo dan Nurul Pramesti. 2017).

Pada perkembangannya, paradigma tersebut menelurkan beragam cabang yang sifat utamanya tetap saling berkaitan, berkelindan dan melawan (antara satu dan lainnya). Sebut saja, misalnya paradigma positivisme dan konstrukvitisme. Positivisme adalah kebalikan atau lawan dari konstrukvitisme.

Yang pertama lebih menitiberatkan kebenaran empiris sebagai kebenaran yang diterima dengan menomer-duakan kebenaran yang bersifat mistik/metafisika. Sebaliknya, yang kedua lebih memprioritaskan peran metafisika sebagai kebenaran valid dan bisa dipertanggungjawabkan dibanding fakta empiris yang menyatakan kebenaran bersifat tunggal.

Titik terang perbedaan antar keduanya terletak pada presumsi melihat dan menilai suatu fenomena. Positivisme sangat menolak kebenaran yang sifatnya masih pada tahap spekulasi, angan-angan dan jauh dari bahasan konkrit. Positivisme lebih mengutamakan nilai kuantitatif dibanding nilai kualitatif yang diusung paham konstruktivisme. Oleh karenanya, konstruktivisme menekankan peran yang saling memberi akibat dari faktor-faktor sosial. Marx sendiri menyatakan bahwa faktor sosial menentukan sikap intelektual.

Paham Konstruktivisme Memandang Isra’ Mi’raj

Mencoba mengonseptualisasikan apa yang menjadi garis besar konstruktivisme dalam memandang peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa yang kalau dirunut kembali secara historis, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu naik ke Sidratul Muntaha dalam satu malam dengan wasilah Buroq dan malaikat Jibril.

Memang, secara garis besar perjalanan satu malam bisa keliling negara hingga luar angkasa adalah suatu hal luar biasa dan mustahil teknologi canggih sekarang menjangkaunya. Jarak Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina berjarak 1.500 Kilometer, paling tidak memakan waktu 1/2000 detik. Sedangkan jarak Bumi ke Bulan sekira 350.000 Kilometer. Karena kecepatan cahaya sekitar 300.000 meter per detik, maka cahaya bulan itu membutuhkan waktu lebih dari satu detik untuk sampai ke bumi. Itu jarak Bumi ke Bulan, bagaimana kalau jarak Bumi ke Sidratul Muntaha?

Lalu, pada abad ke-7 atau sekitar 1400 tahun silam, kita mendengar suatu peristiwa maha hebat dari tanah Arab. Peristiwa itu jauh lebih mengagumkan dari satelit ataupun sputnik (satelit buatan) dan benda-benda langit lainnya. Peristiwa di mana Muhammad Saw. tidak saja menembus ruang angkasa di sekitar bulan, bahkan sudah meluncur ke ufuk yang tertinggi, melalui sistem planet, menerobos ruang langit yang luas, berlanjut terus ke gugusan Bima Sakti, meningkat kemudian mengarungi Semesta Alam hingga sampai di ruang yang dibatasi oleh ruang yang tak terbatas.

Pada abad itu juga teknologi canggih seperti sekarang belum ada. Oleh karenanya, peristiwa luar biasa ini kontan membuat kontroversi di masyarakat. Ada masyarakat yang mencemooh; kebanyakan dari mereka orang kafir. Mereka menggemborkan isu bahwa Muhammad telah gila. Kelompok kedua adalah mereka yang ragu-ragu.

Mereka terbawa oleh suasana kontradiksi, mau percaya tapi tidak masuk akal, mau tidak percaya terlanjur Muhammad dikenal dengan gelar al-Aamiin. Kelompok ketiga adalah mereka yang begitu yakin akan ke-Rasulan Muhammad. Perjalanan yang kontroversial ini pun bagi mereka justru meningkatkan keyakinannya bahwa beliau adalah utusan Allah.

Lantas Bagaimana Islam Memahami dan Memandang Peristiwa Kontradiktif ini?

Ajaran Islam hanya mengajarkan secara formatif, terkesan kaku dan meyakinkan hanya sebatas keyakinan tanpa pembuktian. Pun dalam al-Quran, ayat yang memaparkan Isra’ Mi’raj hanya sebatas informasi cerita saja-yang (mungkin) orang muslim dhouf al-iman percaya dengan keraguan. Melihat realitas demikian, paham konstruktivisme mempunyai peran dan andil di dalamnya.

Seperti uraian sebelumnya, paradigma konstruktivisme selain mencirikan pada kebebasan individu dalam menilik dan menaksir kebenaran sesuai porsi kapasitas individu masing-masing, juga menempatkan kebenaran metafisika berada di puncak pertama. Realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis.

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Teori konstruktivisme dibangun berdasarkan teori yang ada sebelumnya, yaitu konstruksi pribadi atau konstruksi personal (personal construct) oleh George Kelly.

Berkaca dari implikasi tersebut, maka tidak heran masyarakat Arab terbagi ke dalam beberapa kelompok; ada yang tidak percaya, setengah percaya dan tidak percaya (ragu) dan justru peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai pembuktian kenabian Muhammad. Hal itu didasarkan pada premis masing-masing dalam melihat peristiwa maha hebat ini hanya sebatas anomali atau memang benar kuasa Ilahi. Di sisi lain, kehendak Tuhan dalam memilih orang yang dikuatkan imannya melalui peristiwa tersebut juga mempunyai peran besar di dalamnya.

Orang yang dikuatkan imannya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj adalah orang-orang yang dikehendaki diberi keistimewaan khusus oleh Tuhan. Terlepas dari itu, setiap kepala pasti beda pemikirannya. Tidak usah jauh melihat kebenaran Isra’ Mi’raj, masalah yang ada di sekitar kita (bersifat metafisik tentunya) itu saja menimbulkan banyak ragam pandangan dan tanggapan. Kembali ke paham konstruktivisme yang membebaskan akal dalam menilai suatu permasalahan. Kebebasan itu tidak serta merta sirna hanya dibatasi dengan kebenaran empiris.

Perihal Isra’ Mi’raj, terserah nalar Anda hendak menyikapi bagaimana. Pun sepuluh dua puluh tahun kedepan mungkin bakal ada teknologi canggih yang kecepatannya setara dengan kecepatan cahaya atau mungkin unggul melebihinya.[Red. S1]

Baca juga:  Sindiran Untuk Mas Yaqin dan Adik-adik Mabanya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here