Feminis: Gerbang Menuju Kesetaraan, Bukan Jalan Buntu (Bagian 2)

0
125
Feminis: Gerbang Menuju Kesetaraan, Bukan Jalan Buntu Bagian 2
Women with feminism and girl power illustration, sumber: pku.unida.gontor.ac.id
Fia Maulidia
Lembaga Studi Justisia (eLSA Justisia) | + posts

Justisia.com – Badrus Shalih memulai bagian dua tulisannya dengan sub judul “Perempuan dan Budaya Patriarki”. Terdengar ingin memihak perempuan tapi tidak setelah kita membaca isinya yang sungguh super sekali buat saya. Di sana ia menyebut bahwa naiknya Megawati menjadi presiden sebagai bentuk kemajuan emansipasi tapi tidak lantas membuat budaya patriarki hilang.

Sampai sini masih nyambung karena banyak pula studi yang menulis bagaimana sulitnya perempuan membawa agenda feminis dalam gelanggang politik elektoral.

Tapi kemudian saya tidak habis pikir, bagaimana bisa dia mengartikan patriarki hari ini berubah dengan (mencantumkan laki-laki untuk menemani perempuan) what the???? Ini dapat wangsit dari mana to, Ngger? Mencantumkan laki-laki menemani perempuan dalam budaya patriarki itu gimana konsepnya??

“Patriarki hari ini menurut saya berubah makna, pada awalnya patriarki yang hanya menjadikan perempuan nomer dua, pada akhirnya mencantumkan laki-laki untuk menemani perempuan.

Oke, mari ambil nafas sejenak. Sebab di kalimat selanjutnya Badrus Sholih mencoba memberi contoh, tapi saya belum juga mampu menjangkaunya;

Mungkin saja persepsi yang saya katakana adalah subjektif saya sendiri, melihat bagaimana laki-laki juga terkungkung dalam budaya daerah masing-masing, semisal laki-laki harus menikah dengan perempuan di daerahnya sendiri, laki-laki tidak boleh keluar dari daerahnya sendiri dengan alasan apapun seperti yang digambarkan oleh film India “White Tiger”.

Saya memang belum pernah melihat White Tiger. Tapi loh tapi, selama hampir satu jam berada di depan laptop dan berselancar di dunia maya membaca review dan resensi film ini mulai dari media serius macam tirto.id sampai satire mentok macam mojok.co, semua mengulas hal yang sama: kesenjangan sosial yang digambarkan secara epic oleh mas Adarsh Gourav sebagai Balram Halwai, seorang pemuda miskin yang awalnya bermental budak kemudian menyadari bahwa setiap waktu yang ia habiskan berharga dan setiap orang miskin punya harkat dan martabak, eh martabat.

Melihat bagaimana contoh yang digunakan oleh Mas Badrus Shalih untuk menggambarkan redefinisi patriarki dengan kalimatnya:

“laki-laki juga terkungkung dalam budaya daerah masing-masing, semisal laki-laki harus menikah dengan perempuan di daerahnya sendiri, laki-laki tidak boleh keluar dari daerahnya sendiri dengan alasan apapun

Dan ulasan film White Tiger yang barusan saya baca, sungguh ramashook babar blas, Mas. Huuft, apa mungkin Mas Badrus Shalih ini menganggap setiap hal yang membelenggu kebebasan itu patriarki? Contoh yang ia sampaikan adalah adat tertentu di suatu daerah yang entah di mana dan sangat tidak tepat, ramashook jika dianalisis menggunakan definisi patriarki. Terlalu memaksa bahkan digothak gatukno ra mathuk blas loh, Mas.

Jangan patah semangat, yok lanjut yok!

Badrus Shalih mengakhiri paragraf pertamanya dengan sangat epic, Gais. “Apa mungkin laki-laki dan perempuan bisa keluar dari budaya patriarki yang membelenggu dua ciptaan Tuhan yang sempurna ini?

Sebuah pertanyaan yang sangat revolusioner, sebab memang betul. Patriarki jika dielaborasi lebih jauh lagi juga merugikan laki-laki, contoh: beban kerja hanya ada pada laki-laki. Lha iya  kalau tiap laki-laki pas sehat bugar seger kewarasan, gimana kalau kebetulan ringkih sakit-sakitan dan tidak memungkinkan untuk bekerja di luar rumah? Porakyo ajuur entek karo omongan tonggo, Luur?

“Lanang kok ndekem ae,” misalee

Jadi begitu, keluar dari budaya patriarki memang membawa manfaat dan maslahat yang lebih besar. Oke mari kita lanjutkan. Di paragraf selanjutnya Badrus Sholih mengutip pendapat Heidegger seorang filsuf yang dikenal dengan aliran fenomenologi dan eksistensialismenya. Apa yang ingin coba disampaikan Badrus Sholih? Coba simak;

“Para fiosof Barat termasuk Heidegger mengatakan sikap terdasar manusia adalah ‘kebebasan’ tidak satupun manusia yang ingin terkungkung sedikitpun, manusia ingin melakukan apapun yang mereka inginkan-mencintai, menikah, bekerja, menempuh pendidikan, beragama, bercita-cita dan lain sebagainya- akan tetapi harus kita tahu kita terlingkup oleh etika-etika kehidupan.

Etika-etika tersebutlah yang menjadikan manusia menjadi bernilai, dan bermartabat, jika kita melakukan apa yang kita inginkan sampai mengorbankan orang lain hal tersebut tidak bisa dibenarkan, walaupun dengan alasan emansipasi.

Saya pribadi, tak bisa melihat apakah ada atau tidak koherensi antara premis dengan natijahnya. Kalau di premis awal bicara soal (kebebasan) kenapa natijah di akhir justru bicara soal (mengorbankan orang lain dengan alasan emansipasi)?? Ntahlah. Saya juga bingung. Di paragraf selanjutnya juga ada kejutan baru, Gais. Omooo tertegun aku dibuatnya

“Saya tidak begitu sependapat dengan tokoh feminis Nawal yang merelakan segala cara untuk menjadikan perempuan setara dengan laki-laki dengan cara pembunuhan, penindasan, bahkan eksploitasi terhadap laki-laki, seperti yang dia tulis dalam novel-novelnya-jatuhnya sang imam, perempuan dari titik nol, dan masih banyak yang lain

Wait, sampai sini saja Badrus Shalih sudah gagal paham dan balik kanan lurus wae arah dari spirit yang coba diungkapkan oleh Nawal. Jauh sekali malah. Saya tidak ingin banyak-banyak mengulas novel dan buku karangan Nawal. Cukup satu saja, masterpiece-nya yang mampu menjelaskan ke mana arah gerak dan spirit apa yang dibangun oleh Nawal.

“Perempuan di Titik Nol” novel Nawal yang sangat fenomenal itu, saya baca dengan debaran yang memenuhi palung hati. Bagaimana tidak? Firdaus-tokoh utama di sana-sudah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual sedari kecil. Badrus Shalih tak akan memahami bagaimana rasa pedih dilecehkan, digrepe paha dan bagian sensitif lainnya oleh Paman sendiri—oleh laki-laki.

Novel itu penuh kritik sosial, alur cerita yang keras, pedas, jeritan pedih, protes terhadap perlakuan tidak adil pada perempuan dan gejolak batin menolak dimarginalisasi. Apakah Badrus Shalih ini benar-benar tak punya empati? Apakah ia menganggap yang dialami oleh Firdaus sejak kecil sampai dihukum mati bukanlah kejahatan kemanusiaan?

Sudah dilecehkan paman sendiri, dinikahkan paksa oleh paman dan istrinya dengan Syeikh Mahmoud berusia 60 tahun yang sama sekali tidak ia cintai, Apakah Badrus Shalih ini tak mengerti bahwa hubungan seksual itu sakit dan dampaknya panjang bagi perempuan, apalagi ini dilakukan dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintainya. Tidak hanya kekerasan seksual secara fisik yang Firdaus rasakan, tapi juga kekerasan psikis.

Lepas dari Syaikh Mahmoud, dia harus terperangkap oleh Bayoumi dan lagi-lagi menjadi korban kekerasan seksual. Apakah Firdaus tidak melawan? Apakah Firdaus tidak mencari pekerjaan? Ia melawan! Mencari pekerjaan dan ingin melanjutkan Pendidikan. Tapi apakah dunia luar aman bagi tubuhnya? Bagi dirinya yang sendirian? Apakah sistem dan tatanan sosial memungkinkan baginya? Tidak. Sama sekali tidak. Ia justru dipungut oleh mucikari dan dijadikan pelacur. Saya jadi penasaran, bagaimana Badrus Shalih memaknai kalimat ini:  

“Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tunuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau bentuk yang lain. Karena saya seseorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang isteri yang diperbudak

Apakah Badrus Shalih faham bahwa ungkapan di atas adalah bentuk hopeless dari seorang perempuan yang sedari kecil selalu dilecehkan dan dieksploitasi tubuhnya? Hingga pada akhirnya ia memilih menjadi pelacur dengan tujuan “memenangkan” diri untuk tidak diperbudak? Apakah Badrus Shalih tidak mampu menyadari ada sindiran keras terhadap agama dan atribut agama yang selama ini digunakan oleh laki-laki untuk melegitimasi kejahatan pada diri Firdaus?

Saya rasa tidak. Karena Badrus Shalih ini sama sekali tidak memiliki perspektif pada korban kekerasan seksual dan empati yang cukup untuk merasakan apa yang selama ini perempuan rasakan. Sudah begitu, dengan begitu ngawurnya ia mengklaim novel ini mengeksploitasi laki-laki??? Duh biyung.

Dalam tulisan ini Badrus Shalih juga sangat tendensius menuduh bahwa feminisme adalah Gerakan kekerasan untuk mendompleng alam pikir patriarkis. Tertera jelas dalam kalimat:

“Saya setuju dengan pendapat Herbert Marcuse seoarang filosof dari Jerman yang secara keras menentang terhadap kekerasan untuk mencapai sebuah keinginan bahkan dengan dalih kemaslahatan bersama

Lah, dia saja sudah salah sejak dalam fikiran dengan menggunakan novel “Perempuan di Titik Nol” sebagai representasi gerakan feminis yang sarat akan kekerasan.

Apakah karena Firdaus membunuh mucikarinya, Marzouk, lantas Badrus Sholih menyebut itu termasuk bagian dari kekerasan dan eksploitasi terhadap laki-laki? Padahal, yang menjadi korban eksploitasi justru Firdaus sendiri. Yang lebih Lucu, Badrus Shalih di situ juga menyebut “Gerakan Feminisme Nawal”, ini dapat wangsit dari mana lagi, Gusti..

Istilah “Gerakan Feminisme Nawal” bagi saya sangat absurd dan terkesan awur-awuran. Seperti hendak mengklaim satu sekte padahal tidak ada sekte “Feminisme Nawal” itu sendiri. Yang ada dan mungkin sekali ada, novel dan karakter perlawanan perempuan dalam novel tersebut dianalisis menggunakan pendekatan feminis radikal. Atau jangan-jangan Badrus Shalih melihat dan gebyah uyah bahwa feminis itu tunggal? Halah yo ajuuur ajuuur.

Saya juga geleng-geleng kepala membaca kalimat ini:

“Jika gerakan feminisme hanya menganggap laki-laki sebagai tokoh utama dalam penindasan perempuoan, ataupun perempuan menjadi hantu bagi laki-laki, hal itu adalah kesalahan besar, bagaimana tidak, kita berada dalam matriks post truth yang membuat kita bertengkar tanpa tahu titik sebuah permasalahan yang paling penting.”

Mengapa saya bisa geleng-geleng kepala? Coba baca ini:

“Perempuan dan laki-laki harus bersatu memerangi sebuah sistem totaliter yang mengakar jauh di dalam dunia kemaslahatan bersama (saya bisa sebut sistem ini dengan patriarki).

Mendefinisikan patriarki saja dia salah! Saya jadi tidak habis fikir, bagaimana bisa Badrus Shalih mengkritik feminisme melalui definisi partiarki yang awur-awuran begini? Benar jika ada banyak sistem yang menimbulkan ketertindasan, tidak hanya patriarki tapi juga feodalisme, kapitalisme, dsb, tapi bagaimana bisa dia berjalan ke kampus 3 sedangkan yang ia pegang alamat ke simpang lima? Howalahhhh

Setelah itu, Badrus Sholih malah mambahas tentang materialisme vs idealisme dalam satu sub judul yang babar blas tidak ada koherensinya sama pembahasan ini. Wait, tulisan ini bahas apa sih? Ntahlah, terlalu abu-abu. Coba perhatikan, di akhir paragraph dalam sub judul ini ia menulis:

Banyak sekali pikiran manusia, termasuk laki-laki dan perempuan tentang perempuan adalah makhluk yang lemah, perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, padahal nyatanya dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ Tuhan berfiman bahwa laki-laki dan perempuan tercipta dari satu entitas yang sama, perkataan bahwa perempuan tercipta dari tulag rusuk perempuan merupakan tafsir yang salah, tafsir tersebut berasal dari kaum Yahudi ortodoks. Jika saya memberkan pendapat antara laki-laki dan perempuan sama yang membedakan hanyalah seks atau kelamin yang menurut Nietzhe sebuah keterlemparan yng tidak bisa kita tolak dan pilih.

Di mana lohh keterkaitan antara materialism vs idealisme setelah ndakik-ndakik menyebut Marx dan kaum idealis itu? Beda cerita kalau ia menyebut Gerakan feminis sosialis marxis yang sangat nyambung dengan materialism sejarahnya Marx.

Feminis sosialis menganggap ada monster berkepala dua yang selama ini memenjarakan perempuan sebagai manusia: kapitalisme dan patriarki. Sehingga mereka berpendapat bahwa keterlibatan perempuan dalam revolusi merupakan prasyarat yang tidak bisa ditolak.

Oke lanjut, malah jadi bahas repolusi. Huft, ini terakhir, Gais. Tulisan super ini ditutup dengan sub judul “Mendekonstruksi makna Feminisme” tapi coba lihat bagaimana ia menulis tentang feminism:

“Seperti yang saya katakan tadi bagaimana laki-laki ataupun golongan bukanlah sebuah musuh yang harus diperangi oleh kaum feminisme

Hlaa memang bukan, yang diperangi dan ditolak oleh feminisme adalah budaya patriarki yang dimanifestasikan dalam bentuk stigmatisasi, subordinasi, relasi kuasa yang timpang, marginalisasi, beban ganda dan kekerasan seksual. Dari titik pijak saja sudah salah, malah mau mendekonstruksi, yo ajuur jumm.

Masih ingat apa yang ingin jadi fokus penulis di part 1? Masih ingat bagaimana pengantar awal tulisan ini? Di paragraf terakhir Badrus Shalih ini loncat lagi ke media dan coba lihat kalimat terakhir di paragraf penutup ini:

“Tidak sedikit kita menemukan perempuan juga ikut andil menindas, mengekploitasi, mendeskriminasi perempuan, bukankah begitu?

Melihat begitu banyak pendapat yang ditulis dengan serampangan dan misleading antar paragraf bahkan tulisan ini secara utuh, saya hanya bisa doa: Allahumma nawwir qulubana ya Allah. [Red. Sonia]

Baca juga:  Niat Menuntut Ilmu, Jalan Pintas Mendapat Gelar Syahid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here