Efektifitas Pembelajaran Mengaji Metode Qiroati dan Metode Iqro’

0
5
Sumber ilustrasi: bp.blogspot.com
Website | + posts

Semarang, Justisia.com – Dalam buku Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syari’ah dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut.

Sesuai dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad S.A.W. dalam surat Al-Alaq ayat 1-5, dimana Allah SWT. memerintahkan kepada umat manusia untuk membaca. Menurut Islam membaca merupakan kemampuan yang harus dimiliki dan merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Membaca dipandang sebagai sumber atau kunci ilmu pengetahuan.

Dalam keluarga muslim umunya penanaman nilai-nilai Al-Qur’an mulai diperkenalkan kepada anak sedini mungkin terutama dalam hal membaca, karena belajar membaca Al-Qur’an merupakan suatu proses yang berawal dari mengeja huruf-huruf hijaiyyah sampai cara membaca Al-Qur’an secara menyeluruh dan itu semua membutuhkan waktu lama dan ketekunan tinggi. Membaca merupakan sesuatu yang paling prinsip dalam ilmu pengetahuan.(Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1999, hlm. 200).

Mengingat pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan seorag muslim tentunya sebagai orang tua yang memiliki putra, tidak sembarang dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an di awal-awal pengajaran. Memiliki pondasi yang kuat dan baik dalam belajar membaca Al-Qur’an menjadi langkah awal yang menjadi sangat penting untuk kehidupan seseorang kelak. Karena dalam keseharian seorang muslim tidak dapat dilepaskan dari membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, contohnya dalam salat lima waktu sehari semalam.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan dalam bidang pendidikan dengan adanya tantangan zaman serta kebutuhan masyarakat untuk belajar AlQur’an maka banyak memunculkan metode praktis dalam belajar membaca Al-Qur’an. Seperti penggunaan metode Qiroati dan Metode Iqro’ di TPQ Al Hanafi Pedurungan Semarang. Metode Qiroati yang digunakan ada 6 jilid, dilengkapi buku gharib, dan tajwid praktis. Materi berkesinambungan antar halaman dan antar jilid, serta dilengkapi petunjuk mengajar pada setiap pokok bahasan. Untuk metode Iqro, terdiri dari 6 jilid. Dalam pembelajarannya bisa dilakukan secara klasikal, privat, dan asistensi.

Metode Qiroati disusun oleh KH. Dachlan Salim Zarkasyi pada tahun 1963. Metode Qiroati adalah suatu metode dalam belajar mengajar membaca Al-Qur’an yang langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwidnya. Sementara itu, Metode Iqro’ disusun oleh ustadz As’ad Human yang berdomisili di Yogyakarta. Metode Iqro’ adalah suatu metode membaca Al-Qur’an yang menekankan langsung pada latihan membaca.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis di TPQ Al Hanafi Pedurungan Semarang didapati bahwa dari sekian banyak anak yang menggunakan jilid dalam belajar mengaji sebagian besar menggunakan Qiroati. Namun cukup banyak juga anak yang belajar menggunakan Iqro’. Semua anak mengaji baik yang menggunakan Metode Qiroati dan Iqro’ memiliki kemampuan baca yang cukup beragam. Ada anak yang sangat lancer, cukup lancar dan juga anak yang masih harus banyak belajar lagi.

Namun, hal tersebut didapati baik dari yang menggunakan Metode Qiroati maupun Metode Iqro’. Jadi, yang dapat penulis simpulkan dari hasil pengamatan yang dilakukan setiap metode membaca Al-Qur’an memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri, baik itu Metode Qiroati maupun Metode Iqro’. Anak-anak di TPQ Al Hanafi yang belajar dengan dua metode tadi memiliki kemampuan yang hampir sama apabila dibandingkan kemampuannya. Semangat dan kemauan anak dalam belajar Al-Qur’an yang menjadi pembeda diantara mereka. Anak yang memiliki semangat tinggi akan lebih lancar dalam membaca Al-Qur’an disbanding anak yang kurang memiliki kemauan untuk bisa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an anak tergantung pada bagaimana kemauannya untuk bisa. [Red. IrchamM]

Ditulis oleh Ahmad Yuhda R, anggota Kelompok 32 KKN RDR 77 Walisongo Semarang

Baca juga:  Warisan Pemikiran Gus Dur Terhadap Islam Nusantara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here