Demokrasi dalam Bingkai Sosioalisme HOS. Tjokroaminoto

0
39
sumber foto: kebudayaan.kemendikbud.go.id
M. Lutfi Nanang Setiawan
Kru Magang 2020 | + posts

Justisia.com – Tjokromanioto mengambil sikap yang pasti dalam menghadapi perkembangan masyarakat yang makin terbuka. Di bidang kebudayaan, ia sangat ketat menjaga kelestarian adat-istiadat yang ada sebagai milik bangsa Indonesia, dan karena itu ia sangat selektif terhadap kebudayaan Barat yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial.

Dalam spektrum kultural, Tjokroaminoto memberi jarak terhadap kebudayaan Barat yang dianggapnya feodalis-individualis, namun perihal fungsionalis ia menerapkan metode dan sistem Barat dalam menjalankan roda organisasi, dalam bekerja, berdiskusi dan berpikir. Sikap itu nyata dikembangkan olehnya dalam gerakan Sarekat Islam.

Menghadapi benturan kearifan tradisi lokal dengan kultul kolonial, Tjokroaminoto menyumbang tawaran sekaligus jalan keluar, yaitu sosialis-sosioalisme. Pertama, sikap sosialis yang ditanamkan perdana pada diri setiap masyarakat Indonesia; kedua, paham sosialisme sebagai legitimasi dan klaim terhadap sikap sosialistik itu sendiri. Tidak ubahnya seperti Marx menawarkan paham komunisme sebagai reaksi terhadap sistem kapitalisme.

Menuju Nalar Sosialis-Sosialisme

Perkataan ‘Sosialisme’ awalnya dari perkataan bahasa latin ‘socius‘, maknanya dalam bahasa Belanda: maker, dalam bahasa Melayu: teman, dalam bahasa Jawa: kita, dan dalam bahasa Arab: sahabat atau asyrat.

Sosialisme mengutamakan paham ‘pertemanan’ atau ‘persahabatan’ itu bertentangan sama sekali dengan paham ‘individualisme’, yang hanya mengutamakan keperluan ‘individu’ (seorang bagi dirinya sendiri). Sosialisme menghendaki cara hidup “satu buat semua dan semua buat satu”, yaitu cara hidup yang hendak mempertunjukkan kepada kita akan kewajiban dan tanggung jawab atas perbuatan kita satu sama lain.

Melihat definisi singkat di atas, bukan berarti Sosialisme sama dengan Komunisme. Komunisme lebih menyasar pada sifat kepemilikan seseorang sedangkan ‘sosialisme’ fokusnya pada struktur tatanan masyarakat yang menghendaki “bersama dan nasib yang sama”. Kendati demikian, sosialisme ialah integral terpenting daripada komunisme.

Sosialisme lahir dan berkembang menjumpai masa dewasanya dengan maksud akan memperbaiki nasib golongan manusia yang miskin dan terbanyak jumlahnya. Agar supaya mereka mendapat satu nasib yang sesuai dengan derajat manusia, yaitu dengan memerangi sebab-sebab yang menimbulkan kemiskinan. Dalam artian, terhadap pergaulan hidup bersama yang ada dewasa ini tentang urusan harta (ekonomi), urusan hukum pengadilan (yuridis), dan juga tentang urusan kepercayaan agama (religi). (Kholid A. Santosa, 2008)

Dalam Islam, cita-cita sosialisme tidak kurang dari tigas belas abad umurnya dan tidak bisa dikatakan muncul dari pengaruh bangsa Eropa. Dalam pergaulan hidup bersama pada zamannya nabi Muhammad Saw. dan asas-asas itu lebih banyak ditemukan dan diaplikasikan sebagai wujud pedoman hidup komunal antar sahabat satu dengan lainnya serta dalam meluruskan problem dan mencari jalan keluarnya.

Daulah Syaukah secara Sosialistik

Demokrasi biasanya timbul dari paham Individualisme yang sudah terlalu kuat, dan sosialisme ialah kemajuan dari demokrasi. Baik demokrasi atau sosialsme, keduanya berangkat sebagai reaksi Individualisme, namun Individualisme disini bukan dalam pengertian Egoisme. Individualisme dan atau egoisme adalah paham hidup dan berbuat untuk keperluan diri sendiri, dengan tidak memperhatikan dan memperdulikan hak dan keperluan orang lain.

Individualisme semakin membulat dan menemukan tempat biaknya bersamaan dengan gencarnya paham Materalisme yang mengajarkan egoisme dan nafsu mengejar kesenangan sendiri. Pada titik ini, Individualisme yang berangkat dari Materialisme mempunyai tabiat oportunisme; mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada dan pada akhirnya berujung menjadi sikap kapitalisme yang dicirikan gamblang oleh Marx.

Mengingat hal yang demikian ini, Tjokroaminoto menginternalisasi konsepsi sosialis-sosialisme yang ia ambil dari sejarah dan masa hidup nabi Muhammad Saw. Membangun dan memimpin Islam; dari mempersaudarakan antar suku, membangun masjid, hingga sikap toleransi dengan agama lain untuk ditempatkan dalam rumusan demokrasi yang sarat dengan ‘kebersamaan’ dan ‘keteraturan’.

Satu Allah diatas dan satu persatuan rakyat di bawah. Tagline Tjokroaminoto dalam menyemarakkan bumi sosialisme yang kental dengan cara pandang “nasib sama, satu rasa.”

Dibawah satu peraturan sosialis, rakyat harus mempunyai suara langsung di dalam masalah-masalah negara. Tentang perkara ini, sesungguhnya negara Indonesia sudah sampai pada batas sosialis yang tertinggi. Rakyat mengetahui bahwa kekuasaan membikin peraturan di dalam suatu kabinet atau parlemen, tidak di dalam tangannya satu golongan partai yang mewakili suatu kepentingan atau suatu kelas. (Tjokroaminoto, 1930)

Sosialisme menganjurkan kemajuan peri keutamaan dan kemajuan budi kemanusiaan rakyat sebagai satu persatuan mempunyai satu hak bersama, tiada seorang pun dengan sendiri-sendiri maupun dengan golongan-golongannya boleh mengubah peraturan-peraturan yang berlaku untuk kesenangannya sendiri. Konsep ini sudah lumrah dikenal dengan istilah ‘demokrasi sosialisme’.

Tentang cara menjalankan roda keberlakuan peraturan, maka pemerintah itu menyerahkan kepada orang-orang yang dianggap mampu memberi kebijaksanaan. Kepala-kepala pemerintahan menjadi alat untuk menolong kesusahan dan mewujudkan harapan-harapan, serta untuk menjalankan peraturan Tuhan menurut kemauan seluruh rakyat.

Mereka (kepala pemerintah) tidak boleh melalaikan tuntutan dan tuntunan rakyat dalam suatu perkara dan sembunyi di belakang kekuatan suara teman-temannya yang terbanyak di dalam majelis parlemen seperti tingkah laku minister-minister demokrasi pada sekarang ini. Demokrasi yang sejati haruslah memberi segala kekuasaan pemerintah dan pembuatan peraturan kepada rakyat. (Tjokroaminoto, 1930)

Islam dan Sosialisme yang sudah digariskan menjadi kesatuan konfigurasi dan konsepsi oleh Tjokroaminoto merupakan karyanya yang paling monumental bahkan menjadi karya terbesarnya. Semuanya ditulis di dalam buku Islam dan Sosialisme, memuat sistem kemasyarakatan yang sosial religius dengan susunan pemerintahan yang bersendikan demokrasi. [Red. M2]

Konten ini dihasilkan dari kolaborasi Justisia.com X NU Jateng selama Ramadhan 1442 H.

Baca juga:  Muadalah: Lahirnya Legalitas Pesantren

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here