Bedug Pandowo yang Terkenal di Asia dan Dunia

0
85
Lisana Sidqin Alia
Kru Magang 2020 | + posts

Purworejo, Justisia.com – Bedug Pandowo merupakan benda sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang memiliki keunikan tersendiri dibanding bedug pada umumnya. Bedug ini termasuk yang terkenal di Asia dan Dunia meskipun berasal dari Purworejo. Bedug ini memiliki latar belakang sejarah yang cukup menarik seperti terbuat dari pohon jati tanpa sambungan dan menggunakan kulit banteng dengan ukuran bedug yang menakjubkan.

Bedug tersebut terletak di Masjid Darul Muttaqien yang beralamat di Jalan Mayjen Sutoyo, RW. 5, Sindurjan, Kecamatan Purworejo ini menjadi salah satu tempat ikonis di daerah Purworejo. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang berfungsi sebagai alat komunikasi tradisional, salah satunya untuk kepentingan keagamaan seperti penanda memasuki waktu sholat.

Bedug Pendowo dan Masjid Darul Muttaqien merupakan sejarah Islam peninggalan Cokronagoro I, bupati pertama di Purworejo, yang lebih di kenal dengan Adipati Cokronagoro I. Pada masa muda, beliau mengabdi di Kepatihan Kraton Surakarta. Beliau mendapat tugas mengawasi perairan atau irigasi di daerah Ampel dan Boyolali. Di masa tugasnya selesai Cokronagoro I kembali ke Purworejo mengabdi menjadi bupati pertama. Ia mempersembahkan Bedug yang menjadi karya besar umat Islam dalam pembuatannya diperintahkan langsung oleh sang bupati yang sangat peduli dengan perkembangan Islam di tanah Purworejo.

Bedug Pendowo yang dibuat dari salah satu pohon terbesar pada saat itu yaitu pohon jati pandowo. Pohon yang diambil pun bukan sembarang pohon. Pohon jati ini memiliki ke unikan sendiri yang bercabang lima maka di sebutnya dengan jati pandowo.

Berdasarkan beberapa sumber informasi, pohon yang dibuat bedug ini merupakan pohon kramat dan tidak boleh di tebang oleh tokoh masyarakat setempat. Namun Cokronagoro I tidak mempercayai tahayul atau mitos. Sehingga ia mengutus ulama Kyai Irsyad untuk menebang dan di serahkan ke Tumenggung Prawironagoro. Akhirnya bedug yang dibuat sekitar tahun 1837 oleh Tumenggung Prawironagoro dan Raden Patih Cokronagoro selesai dibuat. Lalu ditempatkan di Masjid Agung Kadipaten yang saat ini bernama Masjid Darul Muttaqien.

“Dalam berbagai informasi yang saya gali, pohon yang dibuat bedug ini merupakan pohon kramat dan tidak boleh di tebang oleh tokoh masyarakat setempat,” tutur Najib Safrudin, Ketua Takmir Masjid Darul Muttaqien.

Bedug Pandowo sendiri dibuat dari kayu  yang berukuran sangat besar dan tidak ada sambungan. Sedangkan bedug itu sendiri berukuran panjang sekitar 282 cm, dengan garis tengah depan 194 cm, dan garis tengah belakang 180 cm. Keliling bagian depan 601 cm dengan paku depan berjumlah 120 buah. Sedangkan, keliling bagian belakang 564 cm dengan jumlah paku belakang 98 buah.

Tidak hanya itu, lulangnya sendiri terbuat dari kulit banteng. Tidak heran jika bedug ini menjadi yang termasyhur dan terkenal di Asia dan Dunia. Bedug ini terbuat dari jati pendowo atau pohon jati bercabang lima yang berasal dari dukuh pandowo Desa Purwodadi. Sehingga menambah sejarah betapa berartinya bedug ini di wilayah Purworejo untuk mensyiarkan agama islam.

Seperti diketahui bahwa bedug ini sudah terhitung sangat tua, sehingga pernah mengalami kerusakan. Hal ini ditandai dengan salah satu sisi penutup bedug yang diganti dengan kulit sapi, sebelumnya sisi tersebut ditutup dengan kulit banteng.

Hal itu sesuai dengan penuturan Ketua Takmir saat diwawancara melalui Whatsapp. “Aslinya banteng, penggantinya kulit sapi,” ungkap Najib Safrudin.

Bedug ini juga berfungsi sebagai pengingat waktu solat dengan dibunyikan menjelang waktu janjian seperti fungsi bedug pada umumnya. Untuk sekarang, bedug hanya dibunyikan tidak setiap hari agar tidak cepat rusak. Bedug ini hanya ditabuh waktu ada kegiatan sholat jumat, hari raya idul fitri, hari raya idil adha, dan pada detik detik proklamasi. Secara khusus juga, hanya bagian barat, bagian itu pula yang kulitnya pernah diganti karena mengalami kerusakan. Sedangkan sisi timur masih menggunkan kulit banteng asli sehingga dijagabagar tidak rusak dengan tidak ditabuh.

“Kalau sekarang untuk menjaga agar tidak cepat rusak hanya ditabuh setiap jumatan, hari raya idul fitri dan idul adha, dan juga pada waktu detik-detik proklamasi, dan yang ditabuh cuma bagian barat aja yang pernah diganti lulangnya/ kulitnya, sedang yang bagian timur masih asli supaya tidak rusak sekarang tidak pernah ditabuh,” ungkap pria berusia 45 tahun itu. [Red. Musyaffa’]

Baca juga:  Justisia Menerima Pendaftaran Anggota Baru 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here