Bedah Jurnal; Musik Sebagai Media Perlawanan

0
22
Ircham Mudzakir
Kru LPM Justisia | + posts

Semarang, Justisia.com – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Justisia, menggelar kegiatan Bedah Jurnal yang berjudul “Musik Sebagai Media Perlawanan” pada Selasa, 31 Agustus 2021. Kegiatan tersebut, diselenggarakan secara daring (dibaca; dalam jaringan) dengan menggunakan media zoom meeting.

Kegiatan Bedah Jurnal ini diselenggarakan menyusul terbitnya Jurnal Justisia edisi ke 51 yang berjudul Musik Sebagai Media Perlawanan.

Fazlar Rusyda selaku moderator mengawali acara tersebut dengan penampilan musik dari salah satu anggota LPM Justisia yang dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh para pembedah jurnal.

Pemateri pertama, Salsabila Dhiya Alriye yang akrab dipanggil Sabil menyinggung isi didalam jurnal edisi ke 51 ini menggunakan unsur etnomusikologi dalam beberapa artikel yang ditulis oleh penulis.

Ia juga menjelaskan salah satu artikel yang membahas mengenai musik dalam balutan ideologi punk yang didasari oleh para pemuda Inggris yang menyebut dirinya sebagai “people united not kingdom” sebagai bentuk perlawanan atas kondisi Inggris saat itu.

“Itu sebagai wujud dari perlawanan mereka terhadap budaya generasi sebelum mereka,” ungkap Sekred Jurnal 20/21 Justisia tersebut.

Romo Aloysius Budi atau yang sering disapa Romo Budi, sebagai pemateri ke-2 memberikan selamat atas terbitnya Jurnal Justisia Edisi ke-51, utamanya bagi para penulis. Ia mengungkapkan, meskipun belum membaca jurnal secara mendalam, dirinya merasa tertarik dengan banyak hal dalam jurnal tersebut.

“Saya sudah baca sedikit, meskipun belum saya baca mendalam, tapi saya tertarik dengan banyak hal di dalam jurnal ini,” ungkap-nya.

Hal yang paling menarik perhatian menurutnya adalah pada artikel pertama ditulis oleh M. Ainul Yaqin berjudul “Musik sebagai Medium Pembebasan Rakyat Kecil; Analisis Pemikiran Romo Mangunwijaya Tentang Nasionalisme”. Itu membuatnya menarik dimata Romo Budi yaitu nama Romo Mangun yang juga merupakan salah satu gurunya.

Ia mengungkapkan perjuangan Romo Mangun bersama Gus Dur yang membela kaum minoritas itu bagaikan musik yang meskipun dibuat pada puluhan tahun yang lalu tapi masih tetap menggema hingga hari ini. Ia juga menyebutkan bahwa musik sebagai media perlawanan adalah sebuah praktik kehidupan.

“Musik adalah sebuah refleksi praksis dalam kehidupan yang nyata,” ujar Budayawan Katolik tersebut.

Kemudian pemateri terakhir, Ainul Yaqin mengungkapkan latar belakang pembentukan jurnal yang berjudul “Musik Sebagai Media Perlawanan” ini dilandaskan oleh 3 aspek; musik yang sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari, karena banyak bermunculan musisi-musisi indie yang terbentuk sebagai anti tesis dari major label, dan musik adalah panggung jalanan.

“Major abel identik dengan kapitalisme dalam dunia musik,” Ungkap Pimred Jurnal 18/19 Justisia tersebut. [Red/M2]

Baca juga:  Puncak Acara Dies Natalis, Prodi Hukum Ekonomi Syari'ah Gelar Seminar Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here