Asal Usul Daerah Ngaliyan Beserta Tempat Sejarahnya

0
262
Althaf Hakim Rahman
Kru Magang 2020 | + posts

Semarang, Justisia.com – Kota Semarang yang terletak di pusat provinsi Jawa Tengah terdapat banyak sejarah yang tersimpan di dalamnya, baik dari aspek penamaan daerah itu sendiri maupun dari segi tempat bersejarahnya. Mulai dari sebelum kota ini dilahirkan, maupun pada saat bangsa Portugis beserta penjajah datang ke daerah Semarang ini pun telah menciptakan banyak sejarah. Penamaan Semarang telah memiliki arti sendiri bila di ucapkan dalam bahasa Jawa yaitu Asem Arang-Arang yang berarti pohon asam yang jarang tumbuh di Semarang. Begitu juga penamaan daerah-daerah lainya yang berada di Kota Semarang, pasti memiliki alasan dan sebab mengapa dinamakan dengan daerah tersebut.

Kecamatan Ngaliyan adalah salah satu daerah di kota Semarang yang terletak di sebelah barat dari kota Semarang, berbatasan dengan kecamatan Mijen dan Tugu. Konon, nama Ngaliyan itu sendiri dinisbatkan dengan seorang tokoh yang membuka daerah Ngaliyan (Babat Alas).

Penyebutan kata Ngaliyan, konon ada hubungannya dengan nama Alian atau biasa dipanggil dengan Mbah Alian. Beliau adalah seorang wali atau pengembara yang menyebarkan agama Islam secara berkala dan berpindah-pindah, salah satunya yang telah membabat alas Ngaliyan di sekitar tahun 1920 an. Diduga nama itulah yang menjadi asal usul dari kata Ngaliyan.

Menurut penuturan orang yang tinggal di Ngaliyan, makam atau petilasan Mbah Alian berada di kawasan perum Wahyu Utomo, kelurahan Tambak Aji, kecamatan Ngaliyan, tepatnya bertempat di sepetak tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pepohonan kecil, dengan luas sekitar 20 meter persegi, dikelilingi rumah warga, yang dipagari besi. Persis dibagian depan petilasan terdapat sungai yang ujungnya menjadi satu dengan kali Beringin. Mbah Alian adalah seorang wali yang taat dalam beribadah. Itulah mengapa Mbah Alian membangun tempat tinggal didekat sungai agar memudahkanya mengambil air untuk bersuci.

Ada juga yang menyebutkan bahwasanya penamaan daerah Ngaliyan diambil dari kata “alih-alihan” yang berarti berpindah-pindah, dikarenakan metode Mbah Alian yang suka berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain dalam menyebarkan agama Islam. Hal tersebut dibuktikan dengan persamaan daerah yang sama-sama menggunakan nama Ngaliyan yaitu, di Ponorogo, Pasuruan, Salatiga, Boja/ Semarang Barat, Batang, Tegal dan Cirebon.

Seperti halnya kota Semarang, Ngaliyan sebagai salah satu kecamatan yang bisa dibilang maju karena banyaknya swalayan, perumahan, bahkan telah ada kampus Mahasiswa yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo. Walaupun pembangunan di daerah Ngaliyan ada dimana-mana, tetapi kebudayaan serta peninggalan yang ditinggalkan oleh sesepuh terdahulu masih sangat terjaga dan terawat rapi. Salah satunya adalah Masjid Jami’ As-Sholihin. Masjid yang terletak di RT 02 RW 08 kelurahan Tambak Aji kecamatan Ngaliyan ini konon merupakan masjid tertua yang terdapat di Ngaliyan.

Masjid yang tak tahu kapan didirikannya dan siapa pendirinya ini ditemukan oleh warga kampung Sekelapan dan dianggap sebagai peninggalan dari Syeh Saridin. Beliau adalah seorang tokoh atau Ulama dari kota Pati yang terkenal dengan Syeh Jangkung. Menurut warga sesepuh yang berdomisili di sekitar masjid, masjid yang sering dijuluki Masjid Asam tersebut diperkirakan telah berdiri sekitar abad 15 M. Pada waktu itu seorang Auliya yang tak diketahui pastinya membangun masjid tersebut. Namun mereka (warga Sekelapan) tidak menjumpai Auliya tersebut, melainkan hanyalah terdapat sebatang kayu di halaman masjid yang tertancap. Batang kayu itulah diduga menjadi cikal bakal pohon asam yang tumbuh hingga saat ini. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan oleh seorang pertapa juga seorang Auliya yaitu Mbah Beringin atau Ki Beringin.

Di halaman depan masjid, terdapat pohon asam yang masih kokoh dan lebat, berdiameter kira-kira 3,5 meter dengan tinggi sekitar 20 meter. Konon, pohon tersebut telah tumbuh sekitar 400 bahkan 500 tahun yang lalu. Menurut cerita warga desa setempat, masjid tersebut memiliki kekeramatan dikarenakan usianya yang telah mencapai 4 abad lamanya. Tentunya hal tersebut tidak boleh dijadikan sebagai kepercayaan dalam menyikapi suatu hal.

Seiring berkembangnya zaman, masjid yang sering dijuluki masjid asam tersebut telah mengalami beberapa kali pembangunan dan perenovasian. Pembangunan terebut bersifat memperbaiki dan memperluas dengan tanpa menghilangkan apa yang menjadi ciri khas aslinya.

Masih banyak lagi sejarah dan peninggalan di Ngaliyan yang tidak cukup untuk diceritakan satu-satu. Intinya, kita harus mengetahui sejarah-sejarah yang ada, minimal di kampung kita sendiri. Seperti ungkapan Soekarno yang terkenal pada saat pidato Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia pada tahun 1966, yaitu “Jas Merah” yang memiliki arti jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Hal tersebut memiliki arti yang amat luas, salah satunya dapat memperluas wawasan serta pengalaman seseorang terhadap dunia sekitar. [Red. Musyaffa’]

Baca juga:  Sorogan and Bandongan as the literature of Islamic Boarding School Education

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here