Yang Kedonyan Adalah Kapitalisme

0
414

Oleh: Sidik Pramono

Lumrah bagi banyak orang memiliki perspektif jika para materialis hampir dipastikan mereka adalah kaum yang kedonyan. Ini tidak lain karena masih banyak yang mengira bahwasanya seorang materialis (penganut paham materialisme) adalah golongan yang mendasarkan pandangan mengenai yang primer adalah alam atau sesuatu yang nampak.

Sehingga banyak persepsi dari orang-orang apa yang dilakukan oleh para materialis selalu berorientasi pada dunia. Hingga menimbulkan prasangka “seorang materialis berarti kedonyan”.

Filsafat materialisme yang dianut oleh para materialis ialah pandangan dunia yang bertolak dari kenyataan objektif. Memang dalam artian bahasa Indonesia materialis terdapat dua makna yang sangat vis a vis. Pertama, materialis diartikan sebagai pengikut paham (ajaran) materialisme. Sedangkan yang kedua, diartikan sebagai orang yang mementingkan kebendaan (harta, uang, dll). Mafhum dalam pemahaman masyarakat luas, materialis dinisbatkan pada artian yang kedua. Hingga saat seorang filsuf atau orang yang memegang paham materialisme diartikan sebagai orang yang mementingkan kebendaan sebagaimana artian yang kedua.

Jelas ini bukanlah hal yang baik. Sebab pada kenyataan riilnya tidak demikian. Sebagaimana yang dituliskan oleh D.N Aidit dalam buku Tentang Marxisme:
“Alangkah salah dan kacaunya kalau ada orang yang mengatakan, bahwa orang yang berfilsafat materialisme itu hanya mengutamakan atau mengejar kenikmatan kehidupan materiil saja, dan tidak mementingkan kehidupan spirituil ataupun moral. Sebaliknya orang yang berfilsafat idealisme itu adalag orang yang bercita-cita luhur, bermoral tinggi dan tidak lahap pada kenikmatan kehidupan materiil, tidak mata duitan: bahwa orang itu adalah materialis karena ia tidak beragama dsb”.

Sekali lagi, pada kenyataan di lapangan tidaklah benar bahwa seorang materialis melulu kedonyan. Anggapan para materialis selalu kedonyan ini ditampik oleh D. N Aidit.

Padahal kenyataan menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang berfilsafat materialisme itu justru orang-orang yang lahap kepada kenikmatan kehidupan materiil, yang “rame ing gawe, nanging sepi ing pamrih”. (Aidit:1963)

Bahkan, mereka adalah orang yang berani mengorbankan kepentingan dirinya, bahkan jiwa raganya sendiri untuk mewujudkan cita-cita umat manusia yang paling luhur yakni masyarakat sosialis dan Komunis yang bebas dari segala macam bentuk penindasan dan penghisapan oleh manusia atas manusia.[1]

Yang dicurahkan Aidit dalam buku tersebut memang benar adanya. Filsafat materialisme adalah paham yang menjadi batu alas sosialisme yang mendamba dunia tanpa penghisapan. Dari sudut manakah jika golongan pejuang dunia tanpa penindasan dan kesejahteraan sosial dinilai sebagai golongan yang kedonyan?

K. H Marx Adalah Bukti

Bukti yang menguatkan bahwa “Seorang materialis selalu kedonyan” tidaklah benar adalah K. H Marx. Telah kita ketahui bersama bahwa Marx memiliki corak pemikiran yang berdasarkan pada materialisme ilmiah. Namun, Marx sangat jauh dengan persepsi bahwa seorang materialis yang kedonyan. Sebagaimana  yang dituliskan oleh Roy Murtadho bahwa, diceritakan betapa Marx kurang makan roti, tetapi tidak pernah dia kurang makan bacaan.[2]

Sebagaimana yang dikutip Gus Roy dari pidato Engels di saat pemakaman Marx dituliskan:
“Misi hidupnya adalah untuk menyumbang dengan satu cara atau cara lainnya untuk menggulingkan masyarakat kapitalis… untuk menyumbang bagi pembebasan kaum proletariat masa kini yang untuk pertama kalinya didasarkan oleh Marx akan kedudukan dan kebutuhan-kebutuhan mereka, akan kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka mendapatkan kebebasannya. Perjuangan adalah salah satu unsur Marx. Dan ia berjuang dengan suatu semangat, suatu kegigihan dan suatu keberhasilan yang hanya sedikit orang yang dapat menyamainya… dan karenanya menjadi orang yang paling dibenci dan paling banyak difitnah pada masanya… ia meninggal, dicintai, dipuja dan ditangisi oleh berjuta-juta teman-teman pekerja yang revolusioner dari pertambangan-pertambangan di Siberia sampai pantai-pantai California, di semua tempat-tempat di Eropa dan Amerika… namanya dan karyanya akan terus abadi sepanjang zaman”.[3] 

Baca juga:  Hak Bercadar di Bawah Lindungan Demokrasi

Dalam essai yang sama, Gus Roy menjelaskan bahwa Marx adalah pribadi yang tawadlu. Dibuktikan dengan saat dirinya mengatakan Ich bin kein Marxist. Kehidupan Marx adalah seorang yang hidup ugahari.

Dan dikuatkan lagi dengan tulisan Gus Roy yang menuliskan, ketika Das Kapital baru saja terbit, penerbitnya membayar honorarium yang begitu kecilnya kepada Marx sehingga, kata Marx sendiri, honorarium itu tidak cukup buat membeli rokok yang diisapnya selama dia menyelesaikan Das Kapital.

Marx adalah sosok beyond the era. Dirinya menghabiskan waktu untuk memperjuangkan dan meniadakan penindasan-penindasan tidak sebatas pada zamannya tapi juga beberapa ratus tahun ke depan. Semangat juang Marx bukanlah semangat memperkaya diri namun, semangat menciptakan kehidupan yang lebih baik kepada seluruh umat manusia. Dengan  mengidentifikasi permasalahan-permasalahan saat itu maupun di waktu mendatang yang ditulis dalam karya monumentalnya Das Kapital.

Dalam perkataan Marx yang dikutip Paul Lafargue di dalam “Reminiscences of Marx” dirinya mewanti-wanti para sarjana dengan petuah: “Ilmu tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri. Mereka yang beruntung mampu mencurahkan dirinya dalam proses pengudian ilmu harus memprioritaskan pengetahuan mereka untuk mengabdi umat-manusia. Bekerjalah untuk umat manusia.”[4]

Mudahnya, jangan menyimplifikasi anggapan bahwa seorang materialis adalah kemaruk atau kedonyan. Karena pada kenyataannya para penganut materialismelah yang mati-matian menolak penindasan dan menjunjung tinggi keadilan yang diciptakan melalui dunia tanpa penindasan. Seperti yang dilakukan oleh Fidel Castro dan Raúl Castro di Kuba.

Kapitalismelah yang Kedonyan


Slavoj Zizek mengatakan, lebih mudah membayangkan kehancuran dunia dari pada kehancuran kapitalisme. “Sistem kapitalisme, lebih mudah membayangkan tamatnya riwayat Sungai Ajwa sebagai sungai bersih, tertutupnya beberapa provinsi oleh kabut asap, lenyapnya hutan sagu, jatuhnya korban jiwa, ketimbang membayangkan berhentinya kegiatan penambangan emas, tembaga, atau membatasi dan mengurangi luas areal perkebunan atas pertimbangan lingkungan hidup dan keselamatan warga sekitar,”[5] begitulah kiranya tulisan Pius Ginting yang ada tidak jauh berbeda dengan ungkapan Zizek.

Dari kedua kutipan tersebut dapat menggambarkan secara jelas bahwa tak ada harga yang sebanding dengan kapitalisme yang mensyaratkan akumulasi modal tanpa henti. Dalam sistemnya, kapitalisme secara terbuka menempatkan laba (akumulasi modal) sebagai nilai tertinggi dari segalanya. Salah satu dari ciri kapitalisme menurut tafsiran ekonom Howard dan King adalah kehendak untuk menumpuk kekayaan tanpa batas (acquisitiviness).[6]

Baca juga:  Rekontruksi Hukum Masa Iddah untuk Laki-Laki (Bag-2)

Kapitalisme merupakan sistem yang memiliki prinsip “apapun produknya, akumulasi modal-lah prioritasnya.” Dalam keadaan apapun, saat apapun keuntungan setinggi-tingginya haruslah didapat. Hingga saat pandemi seperti ini, akumulasi modal tetap dan harus terus berjalan. Tidak peduli dengan cara apa yang dilakukan yang penting laba harus terus ada. Sebagai contoh yang terjadi saat ini adalah dengan melakukan PHK massal, tidak memberikan hak buruh, dan tidak menjamin keselamatan buruh dari bahaya pandemi. Itu semua semata-mata untuk meninggikan laba yang didapat para kapitalis.

Melihat sistem yang dimiliki oleh kapitalisme, sudah jelas bahwa kapitalismelah yang niscaya kedonyan. Kedonyan tidak diartikan sebagai kerakusan, namun ditinjau dari pemakaian diksi “kedonyan” oleh masyarakat Jawa umumnya disematkan bagi orang yang senang umpul-umpul (mengakumulasi) harta benda—bila dalam Kapitalisme ialah modal.

Apa yang dituliskan oleh In’amul Mushoffa dalam artikelnya yang berjudul Kapitalisme ‘Memproduksi’ Pandemi bahwa kapitalis itu tidak selalu disebabkan oleh kerakusan,[7] ketamakan dan atau sifat kedonyan memang benar adanya. Karena itu semua adalah ranah dari moralitas seseorang. Terbukti dengan ada juga seorang kapitalis yang murah hati dan suka berderma. Kita tidak dapat mengingkari itu. Banyak dari pelaku kapitalisme hidup hemat, rajin ke tempat ibadah. Akan tetapi, dilihat dari sistemnyalah kapitalisme itu benar-benar kedonyan. Kewajiban akumulasi—yang saya sebut dengan umpul-umpul di atas— itulah ciri khas dari kedonyanan.

Rakus tidaknya seorang kapitalis atau hemat tidaknya seorang kapitalis, mau tidak mau, suka tidak suka dirinya telah masuk dalam sistem yang rakus, sistem yang kedonyan dengan nama Kapitalisme. Sistem yang mewajibkan umpul-umpul modal sebagai bahan bakar utama agar eksistensinya tidak terancam. Pasalnya daya dorong kapitalisme adalah kompetisi menumpuk laba untuk pembentukan kapital baru demi menciptakan keuntungan dan akumulasi ad infinitum.[8] Saat akumulasi terhenti, sistem akan berada dalam krisis dan anda akan digilas oleh kekuatan kapitalisme lainnya. Sistem yang sangat kedonyan sekali.

Lebih parahnya lagi-dalam kapitalisme, sebisa mungkin para kapitalis itu menekan serendah-rendahnya biaya produksi dan menggenjot setinggi-tingginya laba yang dihasilkan. Sebagai contoh riil, siapa yang bertanggung jawab atas tercemarnya ikan air tawar dan laut oleh dari merkuri dan bahan kimia organik lainnya? Serta siapa yang mengakibatkan berbagai sampah menumpuk di Samudera Pasifik, sebuah daerah serahkan sampah yang ukurannya berlipat ganda setiap dekade, dan kini diyakini kurang lebih dua kali luas Texas?[9]

Atau konversi hutan dan ekosistem lainnya yang heterogen menjadi hutan homogen. Seperti yang terjadi di Asia tenggara yang semula hutan diubah menjadi perkebunan sawit. Siapa yang bertanggung jawab atas ini semua? Kapitalismelah jawabannya. Kapitalisme adalah sistem yang anarkis dan brutal dalam mencapai akumulasi modal. Selagi akumulasi tercapai maka tidak ada yang buruk dari apa yang dilakukan kapitalisme.

Yang ada dalam otak para kapital adalah akumulasi, akumulasi, dan akumulasi. “Akumulasi! Akumulasi! Itulah Musa dan para Nabi” adalah mantra sistem ini secara keseluruhan, begitu juga masing-masing kapitalis secara individual.[Fred Magdoff, John Bellamy Foster: 2018] Logika akumulasi dan kompetisi membuat kapital tak kenal istirahat, dan terus berbisik untuk terus melanjutkan akumulasinya. Selain itu, tak ada yang boleh menghalangi apa yang dilakukan oleh para kapitalis. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Tak peduli siapapun yang mengahalangi maka harus disingkirkan.

Baca juga:  Being Intellectual Through Islamic Boarding School

Sebab yang ada dalam mindset kapitalisme adalah ekonomi yang bebas: bebas dari pelbagai pembatasan oleh raja dan penguasa lain (orang boleh membeli dan menjual barang di pasar mana pun), bebas dari pembatasan-pembatasan produksi (orang bebas mengerjakan dan memproduksi apa pun yang dikehendakinya), bebas dari pembatasan-pembatasan tenaga kerja.[10]

Walau kapitalisme memiliki banyak bentuk dan nama semisal “kapitalisme kerakyatan”, “kapitalisme terorganisasi”, “kapitalisme berencana” dan kapitalisme-kapitalisme lainnya seperti yang dituliskan Nyoto; tapi sejatinya kapitalisme tetaplah kapitalisme. Sistem yang menyembah akumulasi dan laba di atas segalanya. Melihat sistem yang seperti ini, sungguh naif rasanya bila tak dianggap sebagai sistem yang kedonyan dan penuh akan kebrutalan demi satu tujuan bernama akumulasi modal/laba.

Ditambah lagi sistem kapitalisme ada bertujuan untuk terus menerus memproduksi kapitalisme baru lainnya. “Kapitalisme akan melahirkan kapitalisme baru, dan kapitalisme baru akan menghasilkan kapitalisme baru lagi, bergitulah seterusnya,” [11] Bagi para kapitalis saat mereka tidak berkompetisi untuk meningkatkan untung, mereka akan tersingkir dengan sendirinya dari pasar.

Sebab, yang menjadi daya gerak kapitalisme adalah akumulasi dan meningkatkan keuntungan. Sebab, yang menjadi daya gerak kapitalisme adalah akumulasi dan meningkatkan keuntungan. Perusahaan, petani kapitalistau pemilik pabrik mencari untung tidak semata-mata karena rakus, tetapi jika mereka tidak berkompetisi untuk meningkatkan untung, mereka akan tersingkir dari pasar.[12]

Di saat para kapitalis berhenti berakumulasi maka akan terjebak dalam keadaan krisis yang dan menimbulkan penderitaan besar bagi para pekerja serta mereka akan digilas atau depak dari permainan kapitalisme. Sebab kapitalisme tanpa pertumbuhan adalah oksimoron.[13]

Sumber tulisan:

[1] D.N Aidit, Tentang Marxisme, Jakarta: Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, 1963, hlm. 13
[2] Roy Murtadho, Marx dan Tauladan Kaum Remaja, Transisi, 6 Mei 2018.
[3] Isaiah Berlin, Biografi Karl Marx, Surabaya: Pustaka Promethea, 2000, hlm. 431-432. Lihat juga Roy Murtadho, Marx dan Tauladan Kaum Remaja.
[4] Paul Lafargue, Reminiscences of Marx. Lihat juga: Nyoto, Marxisme Ilmu dan Amalnya, hlm. 14
[5] Fred Magdoff, John Bellamy Foster, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, hlm. ix
[6] Coen Husain Pontoh, Kapitalisme, Indoprogress, 9 April 2008.
[7] In’amul Mushoffa, Kapitalisme ‘Memproduksi’ Pandemi, Transisi, 6 April 2020.
[8] Fred Magdoff, John Bellamy Foster, Lingkungan…., hlm.43
[9] Fred Magdoff, John Bellamy Foster, Lingkungan…., hlm. 20
[10] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, hlm. 163-164
[11] Di sampaikan oleh, Koordinator FNKSDA Semarang, Adetya Pramandera, saat ngaji “Genealogi Kapitalisme karya Dede Mulyanto pertemuan pertama” di Selasar Auditorium 2 UIN Walisongo pada Jumat, 28 Februari 2020.
[12] Nadya Karimasari, Dalil Pokok Kapitalisme, Indoprogress, 9 Februari 2016
[13] Fred Magdoff, John Bellamy Foster, Lingkungan…., hlm. 42

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here