Wirid “Yo Kayuku Yo Kayumu” dan Potret Kearifan Dakwah Masa Lalu

0
289

Oleh: Fia Maulidia

Justisia.com – Pagi ini sambil menggendong salah satu adik kembar saya, Ibu bercerita banyak hal tentang Mbah-Mbah buyut. Yang menarik, saya barusan tahu kalau Mbah buyut dan generasi di atasnya tidak bisa mengucapkan huruf hijaiyah dengan benar. Alhasil, tiap doa yang dirapal menjadi “unik”.

Semelah” Ibu mempraktekan gaya Mbah buyut saya mengucapkan “Bismillah” untuk nyuwuk atau sekedar mendoakan cucu-cucunya. Kalimat yang keluar dari mulut memang secara gramatikal bahasa arab salah kaprah, namun diucapkan dengan hati mantap, sehingga mengantarkannya pada puncak keyakinan.

Berdzikir pun demikian, wirid “Ya hayyu ya qoyyum” jika diucapkan oleh Mbah buyut menjadi “Yo kayuku yo kayumu”. Saya tertawa mendengar Ibu pertama kali bercerita demikian, untuk kemudian takzim dengan kemantapan hati pada Allah yang susah dicapai generasi saya sekarang.

Masih lekat dalam memori Ibu saya, setiap anak atau cucu Mbah buyut bersin, Mbah selalu berujar “Andol amin” maksud beliau “Alhamdulillah Rabbi al Alamin”. Mbah tidak tahu ada do’a yang lebih tepat diucapkan bagi pendengar orang yang bersin “Yarhamukallah“. Beliau hanya tau bahwa bersin adalah satu hal yang patut disyukuri.

Di sebelah desa kami ada seorang dukun anak yang biasa menjadi rujukan orang-orang kampung untuk mengobatkan anaknya. Berbagai macam sakit seperti diare, panas, batuk, keseleo, semua dirujuk pada Mbah Mur, biasa orang memanggil demikian.

Baca juga:  Aku, Dia, dan Seorang Pelacur

Jangan bayangkan Mbah dukun ini mengobati dengan banyak dupa, kembang, dan menyan. Bukan, beliau mendoakan para pasiennya dengan doa yang kalau didengar para ustadz baru sekarang pasti diteriaki lantang “Bid’ah, sesat!” hehehe.

Getih putih nyingkrih, getih abang nyimpang, adem asrep adem asrep ketiban idune sing kuoso” Mbah Mur biasa merapal “mantra” ini untuk mengobati pasien yang datang padanya, dengan logat Jawa kental mengucapkan Bismillah pun tak jauh beda dengan yang diucapkan Mbah buyut saya. Entah kebetulan atau do’a beliau memang mustajabah, setiap anak yang berobat pada Mbah Mur akan segera sembuh. Kalau dalam beberap hari belum merasakan kesembuhan, biasanya Mbah Mur akan memerintahkan satu hal yang lebih unik : andum sego pecel.

Tuku sego pecel, engko dikekno wong” begitulah kira-kira perintah Mbah Mur pada orang tua yang anaknya belum juga diberikan kesembuhan.

Desa kami yang berada di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur memiliki sego pecel sebagai makanan khas masyarakat setempat. Selain praktis, sego pecel diminati karena harganya yang sangat murah. Pincuk daun pisang berisi nasi putih, kulupan, dan kerupuk kemudian disiram sambal kacang pedas menjadi favorit masyarakat setempat.

***

Bukti nyata keberhasilan dakwah para Ulama pada masa lalu bisa kita rasakan sampai sekarang. Islam dipeluk bukan hanya oleh bangsawan, diyakini sepenuh hati bukan hanya oleh hafiz Qur’an, atau kelompok Hijrah yang makin bertebaran, namun juga oleh petani dan masyarakat abangan.

Baca juga:  Wakil Rektor III Geger, Pemutaran Film Pulau Buru Hampir Dibubarkan

Mengajari huruf hijaiyah pada orang kampung dengan lidah dan logat jawa kental sangatlah sulit, jangan bayangkan belajar tajwid. Mengenal huruf hijaiyah saja sudah jadi lentera.

Para kiai kampung di Desa saya tak pernah mempermasalahkan salah kaprah makhorijul huruf yang keluar dari para sepuh. Termasuk wirid “Ya hayyu Ya Qoyyum” yang diijazahkan oleh Sunan Bonang pada santrinya lantas berubah aksen menjadi “Yo kayuku Yo kayumu“, berlanjut sampai generasi mbah buyut saya.

Wirid itu terus dibaca dengan penuh kemantapan , hingga waqiila wirid “Yo Kayuku Yo Kayumu” menjadi wasilah seorang sepuh untuk berangkat haji. Cerita ini masyhur sekali di Kampung saya, diceritakan dari satu mushola ke mushola lain.

saya teringat cerita salah satu guru saat saya masih nyantri di Jombang, Syaikhona Kholil Bangkalan Madura pernah kerawuhan seorang Syaikh dari Arab. Saat sholat Maghrib berjama’ah Mbah Kholil menjadi Imam. Setelah jama’ah usai, Syaikh tersebut mengutarakan apa yang menjadi unek-uneknya selama menjadi makmum. Sebagai orang arab, ia merasa bacaan yang keluar dari Mbah Kholil tidak pas dan kurang fasih.

Mbah Kholil diam saja mendengar komentar syaikh tersebut, sesaat kemudian tiba-tiba muncul macan dihadapan beliau berdua, sang Syaikh segera merapal dengan fasih berbagai macam doa dengan ketakutan. Tak terjadi apapun, macan terus mendekat. Kemudian Mbah Kholil membaca doa berbahasa arab, yang diklaim sang Syaikh “Tidak pas dan kurang fasih” tadi. Macan itu diam, kemudian berlalu.

Baca juga:  Cinta yang Buta

Cerita ini memiliki makna yang begitu dalam, sangat membekas dalam diri saya, bahwa inti ajaran agama bukan pada cover yang membungkus, tapi kemantapan dan kepasrahan dalam jiwa tiap hamba. Beragama bukan hanya tentang kefasihan membaca ayat Al-Qur’an, namun pada pemaknaan dan penghayatan ayat-ayatnya.

Begitu pula ikhtiar para orang tua jaman dulu di desa saya untuk mengobati anaknya lewat andum sego pecel (membagikan nasi pecel). Perintah Mbah Mur ini bukan tanpa alasan, memiliki arti yang begitu indah; sedekah.

Mbah Mur tidak serta merta menghimbau pasiennya untuk “bersedekah”, sebab berpotensi menimbulkan insecure berlebihan pada masyarakat yang menganggap bahwa sedekah hanya mampu dilakukan oleh orang kaya.

Sego pecel dipilih sebab menjadi makanan sehari-hari masyarakat, bahan bakar energi bagi para petani dan emak-emak pitil brambang untuk mengais rezeki. Selain itu, harga yang merakyat membuat tiap orang bisa membeli. Mbah Mur memang bukanlah tokoh agama, tapi nilai-nilai agama dalam dirinya menggambarkan keberhasilan dakwah para kiai kampung yang begitu arif sehingga mampu diserap dan di implementasikan ulang dengan kondisi kampung yang relevan.

Begitulah, pesan tersirat keindahan agama disampaikan dengan begitu membumi, yang semoga tetap sejuk mengikuti perkembangan zaman. Bukan sebaliknya, melangit dan menebar teror ketakutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here