Wangsit

0
152

Oleh: Fia Maulidia

Deru mobil ber-plat N itu semakin jauh dari gerbang penjara (suci). Aku sesenggukan menahan tangis agar tak pecah di depan kamar mbak-mbak pengurus.

Kembali menuju kamar dengan lunglai, meratapi nasib diasingkan ke pesantren pelosok Jawa Timur yang sangat menyedihkan. Lihatlah, bahkan sekedar untuk tidur saja harus berdesakan serupa pindang.

Aku kembali menangis, duduk di depan almari sambil menutup wajah agar tak dilihat santri lain. Aku ingin pulang, ingin makan ayam kecapnya Amah, ingin main-main selepas ngaji TPQ, bermain sepeda keliling kampung. Tidak mau di sini, di tempat kumuh ini! Jeritku dalam hati sambil sesenggukan ditambah ingus yang meler dari hidung.

“Lii Khomsatun uthfi biha…”
“harrol waba il hathima…”

Pujian maghrib mulai menggema ke penjuru pesantren, aku membuka telapak tangan yang menutupi wajah. Melihat keadaan sekitar mulai sepi, kuselonjorkan kedua kaki sambil membenahi jilbab dan mengelap ingus.

Kulihat teman-teman santri baruku sangat mudah akrab. Mereka sekarang bersiap menuju musholla pesantren dengan memakai mukenah terusan.

Mendadak aku ingin menangis lagi, kemarin sebelum berangkat ke pesantren aku menolak membawa mukenah terusan yang sudah dilipat Amah.

“Adin mau pake mukenah potongan mawon mah, nda mau pake mukenah terusan,” aku berujar dengan bersungut-sungut mengingat esoknya akan diasingkan ke pesantren.

“Kemarin katanya mbak-mbak pengurus disuruh pake mukenah terusan to nduk sama Bu Nyai”

“Pokoknya nda mau mah”

“Biarkan saja mah, biar faham sendiri kenapa harus pake mukenah terusan,” sahut Mas Aam.

“Apasih, nyaut aja”

“Heee, kamu besok wis budal mondok. Mbokya sing bagus sama amah sama mas sendiri,” ucap Mas Aam sambil mengelus pucuk kepalaku.

Aku berlalu menuju kamar, menutup wajah dengan selimut sambil  menangisi duniaku yang indah akan segera berakhir.

***

“Dik, udzur ta?”

Aku berjingkat mendapati suara asing di depanku. Kutatap wajah kalem itu takut-takut, kembali menunduk ingin meneruskan tangis saja rasanya, tak faham maksud pertanyaan yang dilontarkan.

“Lah kok nangis? Kenapa?”

Tangisku semakin kencang ditanya seperti itu. Mbak berjilbab hijau botol itu tak beralih, malah duduk di depanku . sepertinya menungguku selesai menangis.

Baca juga:  Guram Lubuk Budak Sirkus

“May, lantai siji wis dikilter?”

“Uwis mbak, catatan e tak bawa”

“Oke, habis jama’ah kumpul bentar yo ndek kamar. Kayaknya bakal ada razia,” ucap mbak-mbak yang baru saja masuk ke kamarku dengan berbisik.

“Iya mbak, sampean sekarang ke kamar dulu ae. Aku tak baturi arek iki sek”

Aku mendengar tiap kalimat yang keluar dari mulut mereka, tampaknya mbak-mbak ini pengurus. Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.

“Mbak, jenengan pengurus nopo?”

“Lah emange kenapa?” jawabnya sambil tersenyum

Aku terdiam, tampaknya ia bukan mbak-mbak galak.

“Sampean kenapa kok ndak jama’ah?”
ia kemudian bertanya.

“Ndak punya mukenah terusan,” aku akhirnya menjawab jujur sambil menunduk, capek juga menangis terus.
Mbak ini malah tersenyum.

“Namamu siapa dik?”

“Adin”

“Oke Adin. Nama Mbak, Maysaroh. Biasanya dipanggil May, ayo ke kamar Mbak tak pinjami mukenah terusan,” ucapnya.

Aku mengekor langkah Mbak May sampai depan kamar mbak-mbak pengurus. Benar saja, Mbak May ini salah satu pengurus pesantren.

Dengan kepolosan penuh aku mengikuti Mbak May sampai depan lemarinya. Kulihat lemari yang begitu rapi menguarkan bau harum pelembut pakaian bercampur kapur barus yang kuyakini sebagai senjata menghempaskan kecoa dan ‘tinggi’ biar tak bersarang di pakaian.

“Ini sampean pakai, habis ini segera wudhu terus solat maghrib ya. Selak entek maghrib e,” ucapnya lagi-lagi dengan senyum.

“Lah sampean nda pake ta Mbak?”

“Mbak lagi udzur”

“Udzur itu maksudnya apa to Mbak?” aku bertanya tanpa menghiraukan para penghuni kamar Mbak May mulai berdatangan. Iya, penghuni. Siapapun dan apapun yang menghuni kamar ini.

“Kamu tau haid kan? Menstruasi, datang bulan, apa lagi ya sebutannya?” Mbak May menjawab –lagi-lagi dengan senyum.

“Owalah nggih mbak”

“May, ayo sini kumpul dulu,” ku lihat tiga belasan orang memakai mukenah telah duduk melingkar.

“Kulo balik ke kamar mbak,” aku sadar telah ‘mengusik’ kamar ini.

“Iya, yang kerasan jangan nangisan,” mbak May mengantarku sampai depan pintu kemudian menutupnya rapat.

***

Angin sepoi-sepoi dari lantai 3 pesantren membuatku mengantuk, kutepuk-tepuk wajahku dengan telapak tangan yang basah selepas menjemur pakaian.

Aku tak mau mati konyol dengan terjun bebas ke bawah karena mengantuk, kuputuskan bangkit dan segera turun menuju kamar karena hari mulai surup.

Baca juga:  Al-Muhafazatu 'Ala Al-Qadim Al-Shalih Wa Al-Akhdzu Bi Al-Jadid Al-Aslah, Kultur Pesantren di Indonesia (1)

“Allaaah,” ucapku reflek, terkejut mendapati seorang santri berjilbab hijau pupus berdiri menghadapku saat aku membalik badan.

“Pun surup, kok malah teng jemuran Mbak?,” tanyaku bingung.

Tak ada yang mau jauh-jauh naik ke lantai 3 surup-surup begini, aku berdegup kencang menyadari kalau mimik mukanya benar-benar tak berekspresi.

“Kulo remen ke jemuran kalau sore, adem,” ucapnya tersenyum.

Aku menghela nafas lega, tak mungkin kalau bukan manusia pikirku. Aku mengajaknya melihat indahnya matahari di ujung barat, sambil mengamati burung gereja yang terbang berkelompok. Kami sama-sama terdiam sampai adzan maghrib membuyarkan lamunan.

“Mbak, sampun maghrib. Ayo turun jama’ah,” ajakku.

“Sampean duluan saja,” jawabnya tersenyum.

Aku hanya mengangguk kemudian berlalu, berlari secepat mungkin menuju kamar mandi, berwudhu kemudian memakai mukenah mbak May dan bergegas ke mushola pesantren. Oh astaga, aku melupakan sesuatu. Siapa nama mbak berjilbab hijau pupus itu?

Dua tahun lalu

“Selamat ya Winih, santri terbaik Madrasah Diniyah lagi,” ucap Maysaroh riang.

“Kulo matur nuwun sanget Mbak May, jenengan telaten banget ngajari kalau pas kulo tanya”

“Halah, itu ya berkat kamu sendiri. Rajin belajar, mempeng dzikir, gaweane poso lagi. Duh kah, idaman banget. Haha,”
keduanya tergelak.

“Winiiih, ada telepon,” panggil Hana, salah satu pengurus pesantren dari dalam kantor pondok. Winih segera menuju sumber suara dengan riang. Ingin segera mengabari Ibunya kalau tahun ini ia kembali menjadi santri terbaik Madrasah Diniyah.

“Mah, haloo?” panggil Winih antusias, tak ada jawaban.

“Mah..,” hening

Panggilan terputus.

***

Aku menghela nafas panjang, berjalan lurus coba tak menghiraukan tatapan sinis yang terlempar.

Sejak jadi santri baru aku hanya merasakan satu bulan awal indahnya punya banyak teman. Perlahan mereka menjauh, menjaga jarak. Aku faham apa yang mereka rasakan, tapi kuabaikan.

Ia harus tetap kubawa, aku tak mau mama benar-benar jadi gila sebab ini. Sudah dua tahun, aku tau pesantren ini punya “benteng” yang kuat.

Sebab itu aku yakin membawanya mondok, tapi ia tak bisa kusimpan lebih lama lagi. Bisa-bisa aku yang jadi gila. Besok aku harus meminta pendapat Mbak May, aku sudah tidak betah.

Baca juga:  Merdeka ??

“Winih, nanti tugas teman-teman kelas tolong diantar ke kantor madin ya”

Aku gelagapan diajak bicara,
“Kamu ngelamun, kenapa?”

“Ah mboten nopo-nopo Ustadz. Itu, hujannya bikin hawa adem,” aku menjawab sekenanya.

“Ya, saya minta tolong tadi ya. Ini saya ditimbali ndalem, jadi nda bisa nunggu sampai kelas selesai,” terangnya sambil tersenyum.

“Nggih ustadz, nanti saya taruh meja jenengan,” jawabku.

Ia kemudian berlalu, bayangannya semakin jauh tapi tidak dalam benak ku. Bahkan aroma wangi parfumnya masih bisa kurasai, merebak seisi kelas. Aku beranjak dari duduk, menghampiri satu persatu bangku teman-teman dan mengambil tugas Nahwu yang telah selesai.

Kususuri lorong panjang ini sendiri, dingin hawa hujan ditambah lampu yang remang menambah kalut fikiran. Jam delapan empat puluh lima menit, aku harus segera sampai kantor madin sebelum hujan mengguyur lebih lebat.

“Astaghfirullah”

Aku terpeleset di belokan lorong, banyak air hujan menggenang membuat kertas tugas yang kubawa jatuh berantakan. Aku bergegas membereskan kertas yang berceceran hingga bayangan hitam besar menutupi pandanganku.

Bau busuk segera menguar, jantungku berdegup melebihi ritme. Aku tak berani menengadahkan kepala, aku tau persis apa yang menghalangi jalan.

Bayangan itu mendekat, terus mendekat dengan bau yang makin menusuk hidung. Persis di depan jilbabku ia kini berdiri. Kuputuskan untuk berdiri dan..

Prangggg

“Kenapa May?” tanya Salman.

“Maaf Ustadz, piring gorengannya jatuh”

“Di luar masih hujan, apa nda ditunggu sampai reda dulu?”

Langkah May terhenti, mempertimbangkan banyak hal. Berdua dengan Salman di Kantor Madin tentu bukan hal baik, tapi kalau ia nekat menerobos hujan menuju kamarnya yang berjarak cukup jauh ditambah jalan yang becek dan gelap, tentu merugikan diri sendiri.

May berjalan mendekati candela, mengamati gedung-gedung kelas yang mulai sepi. Ia menangkap satu bayangan santri lari tergopoh-gopoh, mulanya ia berpikir kalau hal itu karena ditinggal teman sejawatnya. Namun dahinya berkerut mendapati gadis berjilbab putih itu berjalan mundur, seperti menghindari sesuatu. Kemudian menunduk,

“Ustadz!” May berteriak

Bersambung..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here