Untuk(mu) yang Lulus Jalur Virus

0
274

Oleh: M. Sidik Pramono

Lulus dari jenjang pendidikan merupakan hal menyenangkan. Mendapat ucapan selamat atas kelulusan merupakan dambaan seorang yang tengah menuntut ilmu. Terlebih lagi kata-kata selamat atas kelulusanya terucap dari si Dia, ya setidaknya kita bisa melayang hingga ke awan untuk beberapa saat.

Ditambah lagi dikasih bunga, coklat, boneka, jajanan, nasi rames, es teh, mie goreng, ayam goreng dll yang menjadi pelengkap atas medali bukti kelulusan dari sekolah tercinta. Serasa diri bak menjadi penghuni surga. Ya… begitulah angan yang ingin dirasakan oleh siapapun utamanya bagi siswa yang lulus Tahun Ajaran 2019/2020.

Tapi, adagium bayangan tak seindah kenyataan memang benar adanya –ya iyalah la wong bayangan warnanya gelap semua. Maksud saya hampir kemungkinan besar angan-angan yang saya gambarkan di muka tadi musykil terjadi di tengah pageblug saat ini.

Soalnya tak ada pengalungan medali dengan lambang sekolah yang tergantung, tidak ada kumpul dengan sahabat sejawat, tidak ada cokelat, boneka, dan tetekbengeknya yang dikasihkan secara langsung di tempat penuh canda tawa, mengenang kisah selama masa putih abu-abu –yang katanya momen monumental (percintaan, permusuhan, kegembiraan, kekocakan, sampai smack down-an) yang tidak dapat terulang kembali.

“Hilih… Nyatanya saya masih dapat uba rampe kelulusan yang kamu sebutkan,” bantah Siswa yang lulus Tahun ini. “Ya, iya bambang, kamu bisa mendapatkan apa yang saya sebutkan. Tapi esensi atau feel sebuah pertemuan di tempat penuh kesenangan emangnya kamu dapatkan?” Jangan emosi atuh, sabar… ingat puasa.

Laksana sudah jatuh tertimpa tangga. Udah gak bisa ketemu dengan si dia, dan teman sejawat, tambah dikatai “Yaelah… LULUS JALUR VIRUS aja bangga. Shombhong amattt.” Ya begitulah, tidak sedikit warga net atau warga non-net banyak bersuara. Sungguh terlalu –pinjam istilah Bang Haji.

Baca juga:  Ramadhan, Kapitalisasi, dan Titik Klimaks Onani Iman

“Buat, lo yang ngata-ngatain gua lulus jalur virus, Pucek!!! Saat lo ngomong begituan, apa gak mikir gimana rasanya kalau lo di posisi gua,” mungkin begitu balas siswa yang lulus tahun ini. Sudah lazim kita ketahui, mencemooh, mengatai orang lain lebih buruk dari kita, akan berimbas pada psikologi adik-adik kita yang lulus tahun ini.

Tenang, sekarang bukan saatnya menanggapi cuitan-cuitan miring pasal kelulusanmu melalui jalur virus, eh maksud saya SPESIAL. Hakikatnya adalah sama dengan lulusan tahun-tahun yang telah lalu yakni kamu telah LULUS. Tidak berbeda barang sedikitpun. Nggak perlu marah, sedih, terbebani, dan kecewa. Iya-iya kamu juga tidak ingin kok jika keadaannya kayak gini. Dan gak mungkin kamu meminta keadaan menjadi seperti ini.

Santai, yang melatarbelakangi saya menuliskan tulisan yang tidak pantas dibaca ini bukanlah untuk menambah nestapa bagi kamu-kamu yang tidak dapat apa-apa kecuali surat keterangan lulus dari sekolah. Namun, yang mendasari saya merangkai abjad demi abjad ini adalah mencoba bertuah pasal kedangkalan pengetahuan saya. Semoga bisa menjadi suntikan semangat walau tidak banyak.

Kesempatan dalam Kesempitan

“Kabeh wis kinaris saking karsane Gusti”. Lagi-lagi kita diajarkan bahwa semua adalah takdir Tuhan Semesta Alam. Apa yang terjadi tak lepas dari kuasa-Nya. Yakinlah ada sisi positif di balik takdir yang ditetapkan Tuhan Sekalian Alam. Mari kita sejenak merenung.

Jikalau, KBM masih dilakukan seperti biasa tentu ini akan membahayakan keselamatan diri kita. Kan gak lucu, ujan ug-ujug mak bedunduk terkena virus dan tidak bisa merasakan euforia kelulusan yang setidaknya bisa dirasakan walau tanpa perayaan seremonial dalam suatu momen bersama sahabat seperjuangan.

Baca juga:  Tradisi Konflik di Indonesia

Tapi, lebih konyol lagi kalau kamu di rumahkan lalu jalan-jalan sama pacar untuk mumpung dirumahkan. Atau kongkow-kongkow sama teman-teman di warung kopi dengan alasan gabut. Ayolah!!! Sebenarnya ada kesempatan yang bisa dilakukan saat kesempitan seperti sekarang ini. Bukan dengan memanfaatkan dengan jalan sama dia, kongkow-kongkow kayak gak ada apa-apa. Padahal ini merupakan kesempatan emas yang tidak datang dua kali.

Dengan tidak diperbolehkannya kamu pergi ke sekolah dan tetap di rumah saja harusnya dirimu bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan mempersiapkan dirimu untuk belajar guna mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi yang akan datang. Saat kamu tidak dapat memanfaatkan momentum ini saya rasa dirimu akan menjadi salah satu orang yang merugi.

Sudahlah, saat ini tak perlu galau, gundah gulana akibat diolok-olok dengan sebutan angkatan yang lulus melalui jalur virus. Jika kamu menanggapi nyinyiran itu semua dan kamu jadi down sendiri, yakin hal tersebut nirfaedah banget.

Ya itu tadi, harusnya kamu sudah menyiapkan amunisi sebanyak mungkin saat dirimu tergabutisasi di tengah pandemi untuk menghadapi kenyataan dunia pasca kamu lulus SMA. Sebab pada tahap inilah kamu akan bersentuhan langsung dengan kerasnya dunia.

Sekali lagi, siapkanlah amunisi. Yang ingin berkuliah siapkanlah segala peranti yang mendukung jalan kedepanmu. Yang akan langsung kerja, siapkan diri guna meniti karir yang bagus. Bagi yang akan menjadi bagian dari TNI atau Polri dan akan jadi taruna-taruni siapkan fisik dan segala uba rampenya.

Belum terlambat kok. Masih ada waktu, maka dari itu mari manfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang timbul saat kesempitan ini. Nggak perlu marah dan terlalu meladeni nyinyiran-nyinyiran khas +62. Semestinya, nyinyiran-nyinyiran tersebut kamu jadikan cambuk pelecut diri untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi.

Baca juga:  Liberalisme dan Sekularisme Islam

Apa lagi kalian adalah anak-anak millenial yang katanya nih, suka tantangan. Masak iya, seorang yang hebat marah saat dinyinyiri? Ingat, puasa lhoo.

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk kalian membuktikan diri pada dunia dengan membusungkan dada, menepuk dada, dan berteriak lantang pada dunia “Inilah Saya yang akan menaklukkan dunia!!”

Oh iya, FYI aja. Kenapa kamu bangga lulus lewat jalur spesial ini. Sejauh pencarian saya, baru kalian satu-satunya angkatan yang lulus pada saat seperti sekarang ini. Sebab, tidak ada manuskrip yang menuliskan bahwa saat pandemi (e.g. flu Spanyol, black death) menyerang, tidak ada negara yang meluluskan siswa seperti saat ini.

Ya terlepas dari apakah belum ada yang meneliti atau, pada saat itu heirarkis sekolah tingkatannya atau sistemnya tidak dan atau belum seperti saat ini.

Ingat, Rencana Allah SWT jauh lebih indah dan sudah pasti lebih baik dari rencana manusia. Sebab menurut Edi AH Iyubenu dalam Berislam dengan Akal Sehat mengatakan Allah SWT adalah Maha Semau-Nya, jangan kamu batasi Allah SWT dengan akal rasiomu.

Atau dalam Kitab Nabi Yesaya Pasal 55 ayat 9 dituliskan, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.” (Yes 55:9)

Semua yang berasal dari Tuhan Semesta Alam adalah semua yang terbaik untuk makhluknya. Selagi kamu bisa menganalisa kesempatan apa yang bisa diambil maka kamu akan menjadi pribadi yang lebih berkemajuan.

Selamat atas kelulusannya, stigma yang kamu dapat jangan sampai menjadikan dirimu mundur alon-alon, tapi teruslah maju timik-timik menuju kebahagiaan dan kesuksesan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here