Unik dan Filosofis, Wayang sebagai Salah Satu “Piranti” Kemajuan Indonesia

0
451

Oleh: Nur Khasanah

Wayang, pagelaran budaya yang tidak asing lagi di mata masyarakat Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wayang diartikan sebagai boneka tiruan orang yang tebuat dari pahatan kulit dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional.

Boneka ini dimainkan oleh dalang dalam pagelaran yang dapat berlangsung selama berjam-jam. Pagelaran di bawah efek lampu dan menggunakan teknik bayangan dengan iringan musik gamelan, wayang juga dapat diartikan sebagai bayang-bayang.

Pada zaman dahulu wayang adalah sebuah cerita yang berasal dari India dan di bawa ke Jawa oleh para pedagang India. Wayang, kala itu belum memiliki bentuk masing-masing tokoh.

Satu kotak wayang bisa menjadi beberapa peran. Seperti Pandowo, satu kotak terdiri dari Kunta Dewa, Janaka, Werkudara, Nakula dan Sadewa. Wayang mulai ditatah dan dipatenkan pada masa Sunan Kalijaga, sebagai salah satu metode dakwah yang mengakulturasikan agama dengan budaya.

Sunan Kalijaga mematenkan nama, suara, watak, dan sanggit dari setiap tokoh dalam wayang. Cerita yang dahulunya hanya cerita India, kemudian dibumbui dengan cerita-cerita Islam. Setelah itu, wayang kembali disempurnakan oleh Sunan Giri, dengan menambahkan “keprak” dan “wayang Cakil” untuk peran kembang pagelaran wayang. Sejak saat itulah kemudian wayang disebut dengan Ringgit (Sunan Giri sing Anggit).

Jenis-jenis wayang juga beranekaragam. Ada wayang golek dari Jawa Barat, wayang kulit dari Jawa Tengah dan Timur, wayang ceblong dari Bali, wayang beber dan klitik dari Jawa Timur, wayang suket, dan wayang wong. Dari pelbagai macam wayang, pagelaran wayang selalu menggunakan bahasa daerah masing-masing, dengan bahasa yang sudah dimajaskan oleh dalang.

Baca juga:  DEMA FDK : Saya Meminta Maaf Kepada Semua Pihak

Bila dikaji dari segi filosofi, wayang memiliki nilai-nilai luhur yang sangat bermakna. Wayang diibaratkan sebagai boneka yang dimainkan oleh sang dalang. Seperti halnya kehidupan di dunia ini, manusia adalah boneka yang menjalankan skenario dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Simpingan (boneka wayang) yang berjejer pada kelir di sisi kanan-kiri dalang juga memiliki makna dalam kehidupan. Simpingan di sebelah kanan dalang, mayoritas adalah wayang yang berwatak baik. Namun ada satu wayang bernama “Duyu Dono” yang terkenal dengan perwatakan buruknya. Begitu pula simpingan di sebelah kiri, mayoritas berwatak buruk, tetapi ada wayang yang bernama “Bela Dawa” yang berwatak baik.

Filosofinya, bahwa sebaik-baik manusia, pasti pernah melakukan suatu keburukan, dan seburuk-buruk manusia, pasti juga pernah melakukan kebaikan walaupun hanya sedikit, karena memamg tidak ada satu pun manusia yang sempurna.

Selain mengandung filosofi, wayang juga memiliki sisi-sisi unik. Pertama, penonton pagelaran wayang mengikuti suasana seolah-olah wayang menjalankan peran masing-masing, padahal pagelaran tersebut dimainkan oleh si dalang yang memiliki suara arum (indah).

Keunikan yang kedua dapat dilihat dari seorang dalang yang sebagian besar memainkan wayang tanpa ada sebuah persiapan dengan para “Yogo” atau penabuh gamelan sebelum pagelaran. Karena dalam sebuah pagelaran wayang, terdapat alat yang bernama “kedhok” dan “keprak” yang digunakan untuk memberikan aba-aba kepada Yogo. Seperti Kedhokan tiga kali maka Yogo akan membunyikan ayak-ayak, kedhokan 4 kali dengan tempo yang cepat Yogo akan membunyikan srepek, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Toxic Relationship: Antara Cinta dan Luka

Ketiga, pagelaran wayang kulit ini sangat mahal. Harga dari satu wayang kulit, bisa mencapai Rp.500.000,-. Semakin tua usia wayang, semakin mahal harga dari wayang tersebut. Tetapi kalau diminta untuk melakukan pagelaran, seorang dalang tidak akan memberikan tarif dalam kata lain akan diberikan secara cuma-cuma.

Pagelaran wayang pada saat ini memiliki perbedaan dengan pagelaran zaman dahulu. Pada saat ini, wayang hanyalah suatu hiburan, tontonan, dan ramai-ramai saja. Sedangkan pada zaman dahulu, wayang lebih mengedepankan suatu cerita yang digelar oleh dalang.

Cerita wayang yang dimainkan oleh dalang berasal dari skenario yang tidak boleh diubah, tetapi, skenario tersebut boleh dikembangkan. Pengembangan cerita wayang yang dimainkan oleh dalang juga berbeda dari waktu ke waktu, yaitu disesuaikan dengan keadaan yang ada. Pada zaman setelah kemerdekaan, wayang lebih cenderung memotret kehidupan kepahlawanan, sedangkan pada saat ini, wayang dikembangkan dengan kehidupan yang lebih modern.

Penggemar dari wayang pun juga sudah jauh berbeda. Di media sosial, banyak sekali komunitas-komunitas pecinta wayang. Di daerah Solo ada PWKS (Penggemar Wayang Ki Seno Nugroho), PMSOW (Penggemar Manteb Sudarsono Arjuna Wiwaha), KIPAS (Ki Purba Asmara Fans Club) dan masih banyak lagi. Tetapi, komunitas-komunitas tersebut hanya sebatas di dunia maya saja. Artinya mereka tidak pernah bertemu satu sama lain, dan tidak pernah pula menyaksikan pagelaran wayang bersama-sama.

Berbeda dengan zaman dahulu yang tidak ada suatu komunitas penggemar wayang, tetapi setiap ada pagelaran wayang, penonton selalu penuh, bahkan sulit untuk mencari tempat menonton pagelaran.

Baca juga:  Perjalanan Sang Faqih, Abdul Wahab Khallaf

Meskipun demikian, mayoritas dalang tetap meyakini bahwa wayang sampai kapanpun tidak akan pernah tergerus oleh kemajuan zaman, karena jika memang hilang seharusnya sudah hilang sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hanya saja, penggemar dari budaya wayang semakin berkurang.

Jika berbicara seorang dalang, tidak perlu adanya bakat dan keturunan. Ada banyak sekali dalang yang bukan berasal dari keturunan dalang. Asalkan ada rasa suka terhadap budaya wayang, rasa keinginan dan tekat, akan sangat mudah sekali menjadi dalang. Belajar ilmu pedalangan lewat kuliah pedalangan sastra umumnya sekitar 4-5 tahun. Tetapi jika belajar dengan dalang sendiri hanya membutuhkan waktu 1 tahun saja.

Di Era Post Modern ini, tentu masyarakat Indonesia sangat mengidam-idamkan negara-negara lain yang lebih maju. Keinginan tersebut dapat dilakukan dengan cara yang menunjukkan Nasionalisme Indonesia, salah satunya dengan budaya. Karena budaya merupakan suatu kebiasaan yang dapat menjadikan salah satu faktor yang mempengaruhi sebuah pemikiran.

Dengan budaya-budaya seperti wayang, jika lebih dikembangkan dan diperkenalkan kepada dunia akan menjadi ciri khas Indonesia yang dapat memajukan negaranya dengan budaya. Di tambah lagi budaya wayang yang memiliki nilai-nilai filosofi yang selaras dengan kehidupan sehari-hari, akan lebih menarik lagi untuk pengembangan budaya Indonesia.

Usaha tersebut tidak membutuhkan perjuangan yang sulit, cukup dimulai dari diri sendiri dengan mencoba melestarikan dan menyukai budaya agar tidak luntur dan terus berkembang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here