Uinfo Grafik: Kritikus Kampus Hingga Mampus

0
457
Logo Uinfo Grafik / Kredit foto: Dok. Uinfo Grafik

Semarang, Justisia.com – Beberapa waktu belakangan sejumlah pamflet berisi ketidakpuasan mahasiswa terhadap kebijakan kampus beredar luas di kalangan mahasiswa.

Pamflet-pamflet tersebut dibuat dan disebarluaskan secara daring melalui berbagai media sosial, seperti Instagram, YouTube, Twitter, dan aplikasi pemutar musik Spotify.

Meski demikian identitas pembuat pamflet dengan tema opini-grafis itu belum diketahui. Pihaknya hanya menggunakan nama Uinfo_grafik pada akun media sosial serta memberi label berupa logo bertuliskan Uinfo Grafik pada setiap pamflet yang dibuat.

Sejak pertama rilis pada 28 Februari 2020, Uinfo_grafik segera menyita perhatian civitas akademik yang ada di lingkungan kampus. Tercatat, dalam rentang waktu satu bulan, akun Instagram @uinfo_grafik sudah menggaet 1000 pengikut lebih, dan mendapat rataan 400 suka di setiap unggahannya.

Awal mula pembuatan karena adanya keluhan mengenai permasalahan umum yang terjadi pada mahasiswa. Misalnya kebijakan pengaturan jam malam kampus, gedung ISdB yang dipaksa siap untuk digunakan, gonjang-ganjing penutupan Kantin Mahad, dan masih banyak lagi.

Melalui aplikasi pemutar musik Spotify, pihak Uinfo Grafik membuat pernyataan terkait kemunculan pamflet-pamflet serta akun yang membuat banyak orang penasaran itu.

Baca juga:  Taslim Syahlan : "Siapapun Tidak Boleh Merepresi Perayaan Agama"

Dalam rilis tersebut, pihak Uinfo Grafik menyebut bahwa project yang kini berkembang, sebenarnya sudah ada sejak lama, namun pembuatan media sosial baru tahun 2020 terealisasi.

“Sebenarnya project ini sudah lama tapi baru gregetnya itu sekarang, jadi ini kami buat sekarang sebagai media bentuk perlawanan kita yang sekiranya merugikan mahasiswa lain,” ungkapnya.

Walaupun konten yang dibahas isinya serius tapi pembawaan dibalut dengan lelucon. Misalnya salah satu unggahan di Twitter.

“He coi aku cuman mau bilang, aku tanpamu kaya koleksi buku-buku di perpus UIN. NGGA LENGKAP,”.

Pihak Uinfo Grafik mengatakan bahwa data-data yang diperoleh diolah untuk menggiring opini dan isu yang berkembang di kampus. Lebih jauh sama sekali tidak ada maksud untuk menjatuhkan.

“Saya cuman sambat, kalaupun itu menjatuhkan data yang saya peroleh mengatakan begitu. Kalau saya tidak menjatuhkan berarti saya berbohong,” ujar pihak Uinfo Grafik saat dihubungi.

Ia menyebut data-data yang sudah diunggah sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan, karena data yang ada digali dari hasil riset serta temuan di lapangan.

Baca juga:  Raih Perak dan Perunggu, Pelatih Voli Indonesia : Terimakasih Buat Suporter !

“Saya bukan media seperti LPM [Lembaga Pers Mahasiswa, red] atau jurnalistik yang harus mengungkap dua sisi agar tidak terkesan menjatuhkan,” lanjutnya.

“Saya cuman mahasiswa gaes, kalau saya kasih solusi enakmen wong kampus 1 rak kerjo,”.

Terkait sumber data diperoleh, pihak Uinfo Grafik menyebut hal itu merupakan rahasia dapur Uinfo Grafik yang tidak perlu diketahui secara umum.

“Saya pikir orang-orang tidak perlu tahu data mentah saya, saya juga punya hak untuk melindungi narasumberku gaes,” jelasnya.

Salah satu mahasiswi semester 4 berujar bahwa adanya akun media sosial tersebut bisa menghasilkan dua pandangan berbeda; baik positif ataupun negatif.

“Ada dua sisi yang aku lihat dari akun ini. Sisi positifnya, senang sih kalau ada akun seperti ini, berarti mereka [pemilik akun, red] memberikan wadah kepada kita untuk mengungkapkan aspirasi kita. Tapi kalau mengritik kampus tanpa memberikan solusi ya sama saja percuma tidak membangun sama sekali. Yang ada, kesannya malah menjatuhkan,” ujarnya.

Reporter: Syafrina
Penulis: Syafrina
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here