UIN Walisongo Jual Hand Sanitizer?

0
754

Semarang, Justisia.com – Semenjak Virus Korona ditetapkan sebagai pandemi global, beberapa hari yang lalu pihak lembaga mengambil kebijakan mengubah status kampus menjadi Siaga Covid-19.

Hal tersebut berdampak pada segala aktivitas di kampus, terutama di bagian belajar mengajar yang semula tatap muka beralih menjadi jarak jauh menggunakan media daring.

Keadaan demikian juga mengilhami Fakultas Sains dan Teknologi (FST) untuk berinisiatif membuat cairan pembersih tangan atau hand sanitizer demi mencegah terjadinya penyebaran Virus Korona di lingkungan kampus.

Melalui berita yang diunggah di laman Walisongo.ac.id pada hari Senin, 16 Maret 2020, pihak FST mendistribusikan 13 paket Hand Sanitizer berlogo UIN Walisongo kepada 8 fakultas, unit, dan lembaga yang ada di UIN Walisongo. Dari 13 paket yang distribusikan, total berisi 200 Hand Sanitizer jika dihitung secara satuan.

“Kami melakukan produksi kurang lebih sebanyak 200 dari target 1000 botol yang siap didistribusikan di area kampus. Kami juga berharap, langkah ini dapat menjadi salah satu ikhtiyar untuk pencegahan penyebaran virus corona Covid19,” jelas Kepala Jurusan Pendidikan Kimia, Malikhatul Hidayah kepada Walisongo.ac.id.

Jurusan Kimia FST melakukan produksi cairan pembersih tangan dengan dasar surat edaran yang dikeluarkan oleh Dekan fakultas tersebut.

“Saya mengeluarkan surat edaran kepada jurusan kimia untuk segera melakukan aksi nyata dalam merespon pencegaran penularan virus ini, salah satunya dengan menugaskan jurusan kimia memproduksi Hand Sanitizer,” ujar Ismail dalam keterangannya di laman tersebut.

Beredar tangkapan layar jual beli Hand Sanitizer produksi Kimia FST

Baca juga:  Siaga Virus Corona, UIN Walisongo Keluarkan Surat Imbauan

Kemudian pada Senin sore, beredar gambar dari tangkapan layar terkait adanya jual beli hand sanitizer lengkap dengan harga pada tiap ukurannya. Masing-masing dijual dengan harga Rp.70.000, Rp. 30.000, dan Rp. 20.000 untuk ukuran besar, sedang, dan kecil.

Setelah ditelusuri, hal ini dibenarkan oleh salah satu mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi yang tidak ingin disebut namanya. Ia bermaksud ingin melakukan transaksi pembelian hand sanitizer pada hari itu juga kepada salah satu dosen di fakultas tersebut.

“Ya dari chat ibunya kan sudah dijelaskan. Hand sanitizer-nya free untuk civitas UIN dan setiap ruang kelas diberi 1. Tapi kalau misal beli untuk keperluan pribadi dipersilahkan pesan ke salah satu dosen kimia,” ungkap mahasiswi kepada reporter Justisia.

Penjualan Hand Sanitizer tidak diperbolehkan

Ismail selaku dekan Fakultas Sains dan Teknologi, mengatakan bahwa tidak dibenarkan jika cairan pembersih tangan hasil produksi salah satu jurusan di fakultasnya itu diperjualbelikan.

“Tidak saya izinkan karena hanya keperluan internal,” ujarnya singkat melalui aplikasi berbalas pesan WhatsApp.

Ia menambahkan, jika ada yang menjual belikan hand sanitizer maka akan diingatkan dan mendapat pelarangan agar tidak menjual produk berlogo UIN Walisongo itu.

Menurutnya, tim laboratorium yang terdiri dari Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi siap bantu memberi pelatihan bagi komunitas yang ingin membuat hand sanitizer sendiri. Mengingat saat ini produk tersebut sudah langka di pasaran.

Bahkan, jika ada komunitas atau individu yang darurat membutuhkan hand sanitizer boleh meminta kepada Fakultas Sains dan Teknologi dengan ganti ongkos operasional pembuatan produk tersebut.

Baca juga:  Pererat Silaturahmi, Teater Asa Gelar Reuni Akbar

Wakil Rektor 2, Abdul Kholiq juga menyampaikan pendapat yang sama mengenai hal tersebut.

“Kebijakan rektor tidak memperkenankan karena belum ada legalitas,” ungkapnya melalui WhatsApp.

Penjulan Hand Sanitizer

Ketua Jurusan Pendidikan Kimia, Malikhatul Hidayah memberikan keterangan bahwa Hand Sanitizer yang telah dibagikan pada Senin (16/03/2020) bukan kepada seluruh mahasiswa UIN Walisongo, tetapi kepada 8 fakultas, 2 lembaga, rektorat, dan unit unit yang ada di UIN Walisongo dengan total sekitar  200 botol.

“Ini digunakan untuk umum di tempat-tempat yang telah disebut tadi. Kemarin banyak yang protes kenapa yang lain gak dikasih. Sekali lagi saya tekankan kalau itu bukan untuk individu tapi untuk umum,” ungkapnya.

“Tetapi kemarin kita juga memberikan 100 botol ke mahasiswa Jurusan Kimia, alasannya karena Hand Sanitizer ini merupakan produk mereka. Mereka ikut andil dalam pembuatan,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa pembuatan Hand Sanitizer dilaksanakan di hari Sabtu dan Minggu sehingga tidak bertempat di laboratorium FST karena tidak tutup dan proses pembuatannya melibatkan beberapa pihak.

“Jadi yang membuat Hand Sanitizer ini ada timnya, tim produksi FST yang anggotanya dosen di jurusan Kimia dan mahasiswa jurusan Kimia. Jadi anggotanya 7 dosen dan 15 mahasiswa. 7 dosen itu termasuk saya dan Bu Rahmania. Untuk mahasiswa sendiri ada yang dari HMJ Kimia, ada juga mahasiswa kimia di luar HMJ,” tuturnya.

Mengenai isu penjualan Hand Sanitizer, Malikha menjelaskan bahwa hal itu hanya untuk mengganti harga bahan dan biaya operasional.

Baca juga:  Senin Depan, KBMW Akan Duduki Rektorat Kembali

“Kalau ada yang mau minta, silakan mengganti biaya bahan dan operasionalnya. Karena kelangkaan barang, kami menaikkan harga HS. Tetapi sebetulnya tidak naik tidak apa apa. Karena ini juga bukan untuk bisnis,” ujarnya.

Dibuat demi kepentingan umat

Adapun Hand Sanitizer yang dibuat ini awalnya merupakan inisiasi dari kajur kimia tersebut.

“Jadi awalnya itu kan karena kelangkaan Hand Sanitizer di toko-toko yaa. Lalu kita berfikir kenapa tidak memanfaatkan kemampuan dan ilmu kita untuk membuatnya sendiri. Di Jakarta juga sudah mulai pembuatan sendiri,” kata Malikha.

Sebagai inisiator pembuatan Hand Sanitizer, Malikha kemudian menjelaskan bahwa produk tersebut dibuat demi kepentingan umat.

“Jadi untuk saat ini demi mengurangi wabah virus corona, kalau kita bersinggungan dengan hal apapun, paling tidak setelah itu harus pakai Hand Sanitizer dan cuci tangan untuk mencegah penularan virusnya. Untuk saat ini kita kan masih untuk keperluan kepentingan umat, bukan untuk bisnis,” ucapnya.

Menurut keterangan kajur kimia tersebut, pembuatan Hand Sanitizer ini mendapat apresiasi LP2M, Gubernur Jawa Tengah, Walikota Semarang dan Kementrian Agama.

Kedepan, Malikha menjelaskan Hand Sanitizer akan didistribusikan kepada umum jika telah mendapat legalisasi.

“Kita saat ini sedang proses analisa dan proses perizinan produksi. Jadi nanti kedepannya akan ada produk Hand Sanitizer dari FST UIN Walisongo. Kalau saat ini tujuannya untuk membantu saja karena keadaan kelangkaan barang,” pungkasnya.

Reporter: Sidik, Sonia
Penulis: Afif, Harly
Editor: Hikmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here