Teror Di Musim Semi

0
178

Oleh : Safrina

Justisia.com – Musim semi merupakan musim dimana banyak kebahagiaan terlahir. Kupu-kupu, lebah dan serangga membantu penyerbukaan pohon demi kelangsungan hidup. Di musim ini, bukan hanya penyerbukan besar-besaran oleh hewan terbang kecil, tetapi pemupukan cinta manusia juga pas sekali di musim ini. Itulah mengapa musim semi disenangi banyak orang, bagi manusia musim semi merupakan alarm bangun tidur semua makhluk dari dinginnya musim dingin. Maka dari itu taman-taman menjadi alasan sebagai spot terbaik foto terlebih untuk berkencan.

Angin menghembuskan nafasnya mengisi sela-sela taman. Burung-burung seperti berbicara pada kawannya mengenai kisah cinta bersemi di musim semi, ada juga bangku kayu dan air mancur yang memberikan aksen romantis, di sekeliling air mancur tak lupa dihiasi beberapa bunga warna-warni. Gadis dengan dress abu-abu, terlihat duduk sendirian di bangku kayu sambil memberikan perhatiannya pada layar handphone.

I NEED TALKING TO YOU. TEMUI AKU SEKARANG.

Pesannya terkirim, kemudian dia menutup handphone. Tidak perlu waktu yang lama untuk gadis itu menerima suara getar notifikasi masuk.

DIMANA?

DI TEMPAT DIMANA KITA SERING MENGHABISKAN WAKTU.

Sepuluh menit berlalu. Pria bertubuh kurus tinggi menghampiri seorang gadis dan duduk di depannya. Mata pria itu sayu sepertinya lelah sekali, tapi masih bisa menyunggingkan bibirnya seolah dia berkata ‘aku baik-baik saja’. Gadis itu tidak kuat menatap pria di depannya, tapi dia harus mengatakan sesuatu, dengan suara berat dia berkata.

“Jhony, are you okay?” Dia memastikan keadaannya.

“Aku baik-baik saja, tidak usah mengkhawatirkan aku. Oh ya, Annie, sebelum kesini aku melihat ini, cantik sekali. sengaja aku bawakan untukmu, aku rasa kamu menyukainya.”

Pria itu mengeluarkan dua tangkai bunga Lily di hadapannya. Gadis itu menerima dan memandangi bunganya sangat lama tanpa berkomentar apapun, seolah sudah paham dengan tingkah aneh dia. Semua orang pasti senang jika dikasih bunga, tapi tidak untuk jenis ini. Semua orang tahu bahwa Lily itu simbol kematian. Dia memang sudah tidak waras.

“Jhon, aku rasa kita harus akhiri ini semua.”

“Akhiri apanya Ann?”

“Hubungan kita ini. Cukup sampai di sini.”

Jhony seperti mendengar petir menyambar di samping telinganya. Dia hanya mematung, tidak berkedip menatap Annie yang sedari tadi menunduk memperhatikan hadiah pemberiannya. Harusnya aku bawakan Lily warna kuning saja, pikir Jhony.

“Apa karena bunga itu, kamu mengatakan seperti ini padaku?”

“Tidak juga. Dengar Jhon, aku tidak bisa menghadapimu seperti ini terus. Aku rasa kamu lebih membutuhkan psikiater dibandingkan aku. Dengan melihat keadaanmu seperti ini, aku khawatir keadaanmu lebih parah.”

Jhony termangu mendengar penjelasan Annie yang menurutnya tidak masuk akal.

“Maksudmu aku gila, Ann? Aku baik-baik saja, tidakkah kamu melihat keadaanku sekarang?”

Dia merentangkan tangannya ke Annie. Walaupun sudah ditutupi dengan lengan panjangnya, tapi tetap saja terlihat luka sayatan dan tusukan di pergelangan tangannya. Perempuan itu membenarkan rambutnya dari tiupan angin.

“Kamu tidak gila Jhony, tapi aku yang gila, aku yang gila melihat keaadaanmu seperti ini terus. Kamu tidak bisa self harm terus menerus. Kamu hanya butuh psikiater!”

“Jangan-jangan kamu seperti ini pasti sudah dipengaruhi David? Iya, kan? Kurang ajar si David!” Curiga Jhony.

“David tidak terlibat sama sekali, dia sahabatku dari kecil. Tidak seharusnya kamu seperti itu, John.”

“Oh iya aku lupa, memang aku tidak penting bagimu. Kamu lebih mengkhawatirkan David dibanding aku. Dia memang selalu ada untukmu dibandingkan aku. Maafkan aku jika selalu merepotkanmu, aku memang tidak berguna.” Jhony menyalahkan dirinya sendiri.

“Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kamu sembuh John. Temuilah psikiater! dari dulu aku menyuruhmu tapi tidak juga kau hiraukan.” Kata Annie sambil memegang tangan Jhony.

“Aku pikir kamu berbeda dengan yang lain, nyatanya sama saja. Sudah aku pergi dulu, ada yang harus aku kerjakan dibanding lama-lama berbincang denganmu yang tidak berguna ini.”

Baca juga:  Selamat Hari Pahlawan

Jhony berdiri dan kemudian meraih setangkai bunga Lily untuk dibawanya. “Annie, jangan temui aku lagi. Aku akan menemuimu jika aku menghendakinya.”

Kemudian dia berjalan pergi menjauhi Annie, terdengar juga suara tertawanya. Kenapa dia? Aku takut keadaannya memburuk. Tidak biasanya responnya setenang itu. Semoga dia baik-baik saja, pikir Annie.

Dulu aku menerima dia karena mungkin aku bisa menyembuhkan luka hatinya. Namun, luka itu tak pernah kering. Sudah lama aku berusaha membersihkan dan mengobati lukanya. Namun bagai menabur garam di atas luka, Perih rasanya. Aku tidak bisa dan malah aku sendiri yang terluka.

Sudah dua hari, Annie tiada henti-hentinya memikirkan kondisi mantannya itu, Jhony. Sudah ratusan kali Annie mengirimi pesan tapi tak ada satupun ia terima balasan.

Di suatu hari, di rumah yang sepi, tepat pukul 01:20, Annie sama sekali tidak bisa tidur. Ia sendirian, sudah dua hari ayah ibunya sedang pergi ke luar kota karena ada tugas dari kantornya. Ditambah dengan suasana angin ribut membuat suasana terasa lebih mencekam dan horor.

Annie mengecek whatsapp berharap pesannya dibalas Jhony, hasilnya tetap saja sama. Kemudian Annie melihat David sedang online, hingga dia putuskan untuk chatting sahabatnya itu.

“Kamu nggak tidur?” Sapa Annie.

“Engga nih. Tapi kayanya kamu juga engga :p.” Balasnya.

“Engga, soalnya anginnya kenceng banget, kaya kucing berantem. Terus, kenapa kamu belum tidur?”

“Belajar :(“

“Oh jadi itu yang dibilang porn* sekarang? :p” Annie tahu bahwa David itu suka sekali nonton hal mesum seperti itu.

“Annie, WTF!!!” Umpatnya.

“Nggak nyangkal juga kan? :p”

“Aku masih ngga percaya dengan apa yang John lakukan hari ini.” Entah apa yang membuat David menanyakan topik itu.

“Aku juga, dia itu punya masalah, deh.” Pasalnya, setelah Annie putus dengan Jhony, ia bersikap lebih aneh lagi. Kadang tertawa sendiri, kemudian  menangis dan berteriak. Seperti orang gila salah tempat. Bahkan lebih dari itu, ia sampai menodongkan pisau ke temannya jika ia tidak dituruti kemauannya. Parah sekali. Semua ini salahku, pikir Annie.

“Gila! Anginnya tambah keras, tidak normal sama sekali.” Annie mengirimi pesan lagi.

“Kalo disini ga ada angin, cuma hujan aja.” Balas David.

“Kamu beruntung, aku butuh beauty sleep!”

“What! Maksudmu aku seperti apa?”

Damn right you do!” Goda David.

“Eh, aku kaya denger langkah kaki dari luar.” Lanjut Annie.

“Coba suruh papahmu yang gila untuk liat ke luar.” Tidak kaget kalau dia berkata seperti itu, David sering berlaku tidak sopan dihadapan kedua orangtua Annie dan selalu dibuat jengkel oleh Ayah Annie sendiri.

“Aku lagi di rumah sendirian nih, keluargaku sedang ke luar kota, ingat tidak? Kan aku sudah bilang sama kamu.”

“Masa, sih? Sampai kapan? Kita harus hangout bareng :D” Modus David.

“Sumpah! Kedengerannya kaya langkah kaki. Ada yang aneh, aku harus liat keluar jendela, sih tapi kasurku anget banget.”

“Kamu yakin mau liat keluar jendela pas kamu lagi sendirian di rumah? Misalnya beneran ada orang di tamanmu terus ngeliat kamu gimana?” David tahu kalau Annie itu memang penakut.

NOT FUNNY DAVID!”

“Aku yakin itu bukan apa-apa, Ann.” David berusaha menenangkan Annie.

“Aku bakalan ngecek.” Ann mengintip dari gorden jendela kamarnya. Kebetulan kamarnya ada di lantai dua. “David ada orang di taman itu!!!”

“Hah! Beneran?!”

“Iya, aku lihat punggungnya. Dia lagi mencari sesuatu di tanah.”

“Mungkin dia sedang mencari narkobanya. HAHAHA.” David sedang tidak waras, pikir Annie.

“Hey, aku serius. Apa yang harus aku lakukan?”

“Sudah biarin saja. Nanti juga pergi sendiri.”

“Sekarang dia sedang menggali tanah dengan tangan kosong. Tamanku dirusaknya. Dia berbalik.” Annie setengah gemetar melihat sosok itu.

Baca juga:  Mahasiswa Pojok Kampus

“Dia kaya apa?” Tanya David.

Annie masih mengintip dan menemukan keanehan pada orang itu.

“DAVID INI GAK LUCU!!”

“Apanya?” David bingung.

“Ngapain kamu di tamanku. Tapi aku juga bingung, kok kamu bisa menggali sambil membalas pesanku ini.”

“Kamu ngomong apa sih, Ann? Aku ga ngerti!”

“Aku lihat jelas banget itu kamu karena ada nama David di bajunya. Kamu sekarang pakai jersey bodoh yang biasa kamu banggakan itu, kan? Kamu ga denger dari tadi aku gedor-gedor manggil nama kamu?” Annie tidak mengerti.

“Ann? Bajunya ada di lemari. Tidak mungkin itu aku. Kamu tidak usah menakutiku.” Perasaan David tidak enak.

“Serius Annie, itu bukan aku. Aku lagi di rumah sekarang. Tidak mungkin aku main-main denganmu seperti itu.”

“Dia mengggali lagi.” Usir Annie.

“Ann, kamu punya pistol atau senjata tajam lainnya?”

“Vid, aku ga mungkin membunuh orang.”

“Cukup buat jaga-jaga saja.” Jelas David

“Shit, dia liat aku! Kenapa tatapannya aneh gitu? Dia dateng!”

“Telepon polisi!!

Annie tidak membalas pesan David. Akhirnya David memutuskan untuk menelpon Annie. Tapi sama sekali tidak diangkat.

“ANN, ANGKAT TELEPONNYA!”

David memutuskan menelpon 911 dan meminta bantuan polisi segera menolong Annie.

“Annie, aku sudah menelpon polisi kalo ada orang masuk ke rumahmu. Katanya kamu perlu menunggu setengah jam.”

Selang 5 menit kemudian Annie membalas.

“Orang itu sudah masuk ke rumah. Aku ga bisa ngomong apa-apa. Lampu sudah mati semua. Aku pegang pisau dan bersembuyi di lemari. Tanganku gemeteran ga bisa ngetik lagi.” Balas Annie

“Bertahanlah, Annie. Polisi sedang di jalan. Kamu tahu orangnya dimana?”

“Dia seperti bukan manusia. Tidak ada manusia yang menatapku seperti itu.”

“Ya Tuhan, dia tahu kamu dimana sekarang?”

“Engga. Aku tadi langsung mengambil pisau, saat dia melihatku dan berjalan masuk ke rumahku. Kemudian aku bersembunyi di lemari.”

“Okay, tenang Annie. Mungkin dia hanya pecandu narkoba yang gila. Polisi akan datang ke rumahmu.” David berusaha menenangkannya.

“Oh no, dia memanggil namaku. Suaranya tidak sepertimu, lebih berat lagi. Mengisi seluruh rumah, memenuhi otakku.”

“Apa yang dikatakannya?” David penasaran.

” ‘Ayo keluar, Annie. Aku hanya ingin melihat kamu..’ Dia mengulang itu terus-terusan. Apa aku sudah gila, David? Apakah ini rasanya…..” Annie tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Oh Annie, bertahanlah. Polisi akan datang 10 menit lagi. Aku tahu kamu kuat, Ann.”

“Dia naik tangga, langkahnya aneh banget. Tapi kenapa harus mirip kamu David? Kenapa?” Annie masih tidak mengerti.

“Aku tidak tahu Annie. Please, percayalah padaku.”

“Tolong, buat dia berhenti. Aku takut sekali.” Annie memohon.

” Oh God, Please. Ada aku di sini, Ann.”

“Dia sudah di ujung lorong dan dia mencakar sesuatu di tembok dan suaranya semakin dekat. Please, David.”

“Oh Annie. Aku akan melakukan sesuatu jika aku bisa.”

“David, lakukan sesuatu. Ini ada hubungannnya denganmu. Apa yang kamu lakukan sekarang itu bekerja.”

David memutar otak kira-kira apa yang bisa membuat Annie selamat.

“Mungkin, aku memikirkanmu setiap saat Ann. Aku tidak bisa mengalihkan pikiranku selain padamu.” Hanya itu saja yang bisa dilontarkan oleh David.

“Kalau begitu berhentilah.”

David tidak mengerti, tapi dia hanya bisa menurut dan tidak membalas pesan Annie. Berharap usahanya bisa membuahkan hasil, namun dua menit kemudian Annie mengirimi pesan lagi.

“David. Sekarang suara itu sudah hilang. Sepertinya dia sudah pergi.”

“Okay, baguslah kalau begitu. Tapi kamu jangan keluar dulu hingga polisi datang.” Ucap syukur David.

“Kalau polisi itu datang dan dia telah pergi, apa yang harus aku ceritakan?” Tanya Annie dengan polos.

“Semuanya Annie. Semua yang kamu ceritakan ke aku.”

“David, aku ingin menemuimu besok pagi, bisa? 🙂 ” Pinta Annie.

“Tentu Annie, apa saja untukmu Annie.”

Baca juga:  Nasib Seorang Buruh

“Aku tidak sabar menunggu :)” Balas Annie kedua kali menggunakan emoticon smile.

David merasa janggal dengan sikapnya Annie yang berubah tiba-tiba.

“Annie, bagaimana aku tahu kalau ini itu kamu?”

Pesannya langsung centang satu, David panik setengah mati. Dia mencoba menelpon Annie tapi tidak tersambung, begitu juga telepon selular biasa, tersambung tapi tidak diangkat. Kemana Annie? Siapa orang yang mengancam Annie? Bagaimana keadaan Annie sekarang? Dan berbagai macam pertanyaan menghujani pikiran David.

Akhirya David putuskan untuk mendatangi rumah Annie, walaupun hujan, tapi keadaan Annie jauh lebih penting dibandingkan kesehatannya. David mengeluarkan motor hitam gede yang sering dia pakai berangkat kampus dari garasinya. Dia melirik jam tangannya, menunjukkan pukul 02:43. Segera dia melajukan motornya sekencang mungkin.

Waktu yang seharusnya ditempuh setengah jam, David menempuhnya hanya 10 menit saja. Tanaman sudah dicopoti, tanah berhamburan, patung-patung hias pecah berserakan dimana-mana. Keadaan pintunya pun rusak parah, didobrak bak kebobolan maling.

David melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Kakinya berjinjit agar tidak menimbulkan suara. Kemudian, dia mengarahkan kakinya ke tangga naik lantai dua, kamar Annie. Ruangan Annie gelap, pintunya pun sedikit terbuka. David mengintip ke kamar. Hening, sepi dan dingin. Kaki David gemetaran masuk bilik Annie. David mendapatkan Seorang gadis yang tidak lain adalah Annie dengan keadaan tangan dan kaki terikat juga mulutnya tersumpal oleh kain. Matanya tertutup, seluruh badannya basah karena gemetaran. Dia dekati gadis itu dan membelainya lembut.

“Annie, ini aku, David. Kamu tidak apa-apa, kan?” Bisik David.

“Pergi dari sini, Vid!” Jawab Annie lirih .

“Hah! Apa maksudmu?”

Seketika ruangan menjadi terang. Di dekat lemari ternyata ada sosok berdiri di sana sedang menodongkan pistol padanya. Baju yang dia pakai sama dengan jersey milik David. David kaget bukan kepalang. Jhony ternyata.

“Apa yang kau inginkan, Jhon?” David sedari tadi menahan amarah dengan kelakuannya terhadap Annie.

Jhony terdiam. Dia menarik pelatuknya pelan-pelan. David hanya mematung melihatnya. Bibir Jhony membentuk garis lengkung ala bulan sabit. Oh, Tuhan. Inikah akhir hidupku? Tanya David dalam hati. Siapa sangka dugaan David salah. Jhony dengan cepat mengarahkan pistolnya ke Annie. DOOR! Peluru melesat dan menembus dada kirinya. Bajunya mulai dibasahi oleh darah. Annie meringis kesakitan. Lalu, Jhony memasukan pistol ke mulutnya sendiri. DOOR! Untuk kedua kalinya peluru itu menembus isi kepala Jhony. Kejadian itu terlalu cepat bagi David, hingga tidak bisa berbuat apa-apa. David bingung maksud dari Jhony. Menyaksikan dua temannya tertembak dengan mata kepala sendiri.

David langsung menghampiri Annie dan melepaskan semua ikatannya, Dia pegang dan raba pergelangan tangan Annie. Syukurlah, masih terasa denyutnya tapi pelan. Sirine polisi terdengar. David berlari ke jendela dan melambaikan tangan ke arah polisi.

“Pak, ada dua orang terkena tembak!”

Polisi memasuki rumah dan mengamankan area tersebut. Annie dan Jhony dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Puji syukur, Annie masih bisa diselamatkan walaupun harus melewati rangkaian operasi selama 16 Jam. Namun, untuk Jhony Tuhan berkehendak lain. Dia harus menghembuskan nafas terakhirnya di tempat.

Selama seminggu Annie tidak bisa ditemui langsung karena dia harus istirahat total untuk kesembuhannya. Minggu kedua, David baru diperbolehkan menjenguknya. Tanpa ditanyai Annie menceritakan kejadian waktu itu.

“Kau tahu, Vid? Sehari sebelum kejadian itu, ada pesan masuk entah dari siapa. Isinya ‘Aku akan membawamu pergi’. Aku pikir itu hanya pesan spam,  aku baru  sadar bahwa itu dari Jhon. Alasan mengapa dia menembakku kemudian bunuh diri karena dia ingin membawaku pergi dari dunia ini.  Membawa ke kehidupan yang abadi. Untunglah kau datang pada waktu yang tepat. Tanpamu, mungkin aku sudah di neraka bersama Jhony.”

Editor : Sadad.aidi

Catatan: Cerita tersebut terinspirasi dari chat horror terkenal di Dunia yang berjudul “Annie96 is typing”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here