Tambakrejo: Sembilan Bulan Paska Penggusuran

0
115

Semarang, justisia.com – Di bawah jalan layang arteri, di tepi sungai Banjir Kanal Timur (BKT) warga Tambakrejo bermukim pasca penggusuran Mei tahun lalu.

Jumat, 7/2/2020 angin kencang menerpa kami yang sedang berjalan menuju poskamling warga. Disana, mbah Sabar dan beberapa tetangganya duduk membelakangi kendaraan proyek, seperti meratapi nasib.

Dengan suara gemuruh pekerjaan proyek, mbah Sabar menceritakan bahwa keadaannya sekarang sangat susah untuk bekerja.

“Wah keadaan sekarang berbeda sekali, dulu saya bisa bekerja di tambak, sekarang kalau ndak kerja ya ndak dapat penghasilan. Mudahnya ya saya kembali ke muda lagi yakni merintis dari nol”.

Sabar adalah penghuni pertama tanah Tambakrejo pada tahun 1981, ia menceritakan keadaan dulu saat belum ramai dihuni, “dulu di sebelah tambakkan ada tanah kosong, dari pada saya pergi ngontrak jauh-jauh akhirnya saya mendirikan rumah di sebelahnya dan bertambah orang sampai 170an KK,” ujar beliau saat ditanya.

Disela-sela perbincangan, mbah Sabar juga mengeluhkan pemerintah yang menurutnya tidak punya kebijakan yang baik sama sekali.

Lansia beranak 4 dan warga yang masih bertahan di penginapan 2×3 ini menolak jika dipindah di rumah susun.

Pasalnya mayoritas warga Tambakrejo bermata pencaharian sebagai nelayan dan tidak memungkinkan jika dari Genuk (rusunawa) bisa berlayar seperti biasanya.

Baca juga:  Secara Sepihak Tambakrejo Akhirnya Digusur

“Sebagian orang sinikan nelayan, nah kalau disuruh pindah di rumah susun perahunya ditaruh dimana ? Disana juga mata pencaharianya kan kurang, pekerjaan kacau semualah, biaya transport juga mahal”.

Rohmadi selaku ketua RT juga mengatakan bahwa pemerintah telah ingkar janji. Dari informasi yang Rahmadi dapatkan, satu rumah susun dihuni oleh dua atau satu keluarga.

“Padahal perjanjian awal itu yang punya KTP dan KK berhak mendapatkan rumah susun. Namun, setelah di sana, rumah yang dulunya dihuni dua atau tiga KK tetap diperlakukan seperti semula, jadi ya desak-desakan dan parahnya itu tidak bisa diprotes,” keluh Rohmadi saat bercerita di teras penginapan.

Sampai saat ini jumlah warga yang masih Bertahan di penginapan Tambakrejo sekitar 67 KK. Dari jumlah tersebut dibagi di tiga rumah penginapan, A,B dan C. tiga rumah penginapan tersebut juga dibagi menjadi 20-25 kamar. Setiap kamar berukuran 2×3 dan diisi satu KK.

Rohmadi yang ikut tinggal di penginapan A, mengeluhakn sering terjadi penyakit  yang mudah tertular. “Sering kena penyakit sih, seperti liver, DB, tifus dll. Ya gimana lagi wong namanya satu rumah dihuni beberapa orang,” tuturnya.

Di penginapan itu juga terdapat beberapa lansia, dewasa, dan anak-anak yang tidak lulus bangku pendidikan.

Baca juga:  Rektor Menghimbau Mahasiswa UIN Walisongo Tidak Harus menjadi ASN

Reporter: Sadad Aidi
Penulis: Sadad Aidi
Editor: Sidik dot co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here