Suara Perempuan Semarang

0
495
Website | + posts

Semarang, Justisia.com – Ketika kebanyakan orang menghabiskan Hari Minggu untuk tidur hingga siang, memasak makanan kesukaannya, atau untuk berjalan santai keliling komplek. Tapi lain dengan kawan-kawan perjuangan Kota Semarang. Dibalik hiruk pikuk rutinitas mingguan di Simpang Lima, mereka dengan semangat mengadakan agenda tahunan di depan Gedung Gubernur Jawa Tengah.

Ketika gedung terlihat sepi, justru  halamannya sangat ramai dengan suara-suara lantang tuntutan. Spanduk-spanduk besar terpampang nyata dengan berbagai slogan, selebaran kertas dibagikan kepada orang yang lewat, pita kuning dan merah dengan arti keberagaman diikatkan pada lengan mereka. Poster-poster dengan tulisan menarik, dipegang masing-masing aliansi. “Kampanye International Women’s Day” tertulis di salah satu spanduk yang terpasang di pagar halaman gedung. Jika melihat lebih teliti lagi, terdapat kalimat yang sangat nikmat dibaca, “Ruang Aman Untuk Semua” yang menjadi tema Hari Perempuan Internasional Kota Semarang, 8 Maret 2020.  Kebanyakan orang akan berpikir keras, hari besar apa yang terjadi pada hari itu ?

Beberapa komunitas di Semarang seperti Rumah Pelangi, dengan kreatif menyuarakan isu mereka dengan menampilkan drama pendek yang begitu dalam maknanya. Ketika waria yang banyak di pandang sebelah mata, mereka dengan semangat mengatakan bahwa “waria juga manusia”. Tidak ada manusia dari segala sudut manapun yang berhak untuk memojokan, ataupun menghina dengan kata yang begitu lembut sekalipun.

Puisi-puisi bertaburan suaranya, ketika dibacakan oleh perempuan-perempuan Semarang. Tak hanya perempuan muda, buruh dan juga kawan-kawan Papua bahkan dengan semangat mengeluarkan suaranya dengan isu-isu yang mereka bawa. “Perempuan Papua diskriminasi bahkan ditindas dengan kejam,” ucap lantang lelaki dari AMP (Aliansi Mahasiswa Papua).

“Peran kaum perempuan dalam masyarakat tertindas akan memperkuat gerakan demokratis,” terdengar suara semangat dari perempuan FMN UNDIP ketika orasinya.

Acara yang mereka adakan, tak selesai hanya dengan berdiri di depan gubernuran. Mereka berjalan memutari Simpang Lima bersama-sama dengan membawa poster-poster yang mereka tulis dengan tangan mereka sendiri. “Dampingi Perempuan Korban Kekerasan, Bukan Menghakimi,” salah satu poster dijunjung menyundul langit oleh seorang perempuan. Ini salah satu suara yang memang benar-benar sedang genting dalam proses kehidupan perempuan.

Sebab semakin tahun, justru kekerasan terhadap perempuan semakin banyak. Tak hanya dilingkungan kampus, ketika kalian berada di tranportasi umum, ruang kerja, bahkan di rumah pun rawan sekali dengan kekerasan seksual. Suami ataupun pacar, sering sekali justru menjadi salah satu penyebab perempuan butuh pertolongan. LRCKJHAM (Legal resource center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia) Semarang dalam orasinya mengungkapkan hasil datanya bahwa 84 kasus yang dialami perempuan, dan 42 kasus tersebut adalah korban kekerasan seksual.

Semua mata tertuju pada rombongan kawan-kawan perjuangan ketika mereka mulai berjalan mengelilingi Bundaran Simpang Lima. “Long March” mereka menyebutnya. Suara “tolak” “sahkan” “hidup” menggema di langit Kota Semarang. Mereka berharap, dengan kampanye ini, RUU PKS yang sudah lama sekali dinanti, akan disahkan. Bukan RUU yang bermasalah seperti Omnibus Law ataupun Ketahanan Keluarga yang justru disahkan. Sebab pemerintah semakin bercanda dalam menciptakan Undang-Undang.

Perempuan  berkuasa atas segala tubuhnya. Tak ada siapapun yang berhak menyentuhnya tanpa izin. Bahkan sampai menindasnya dan melukainya. Perempuan dari Sabang sampai Merauke, tak terkecuali perempuan Papua yang tak banyak dilihat kepedihannya. Mereka berhak untuk keluar dari zona yang memendamnya sehingga menjadi tak terlihat. Diskriminasi sudah tak zaman lagi, kata patriarki sudah tak dapat dibaca lagi. Semua sudah seharusnya terganti dengan peran perempuan yang dapat memperjuangkan keinginannya.

“Semoga nanti ada tindak lanjut akan hal ini, agar nantinya perjuangan yang dilakukan ini lebih jelas untuk menguatkan rencana keseluruhan,” tutur ketua KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indoesia) dan sekaligus menutup gerakan mereka pada siang terik hari ini.

Happy International Women’s Day

Reporter: Rizka
Penulis: Rizka
Editor: Sonia

Baca juga:  Giyanto: "Kocar-kacir keadaan buruh imbas dari demokrasi yang ugal-ugalan"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here