Student Goverment Lebih Penting Sebagai Seni Daripada Praktisnya

0
129
Website | + posts

Semarang, justisia.com-Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang. mengadakan sekolah legislatif dengan tema membentuk legislator muda berjiwa profesional, komunikatif, responsif serta adaptable. Acara yang dilaksanakan pada hari Senin 26 Oktober 2020 ini salah satunya mengundang M. Risya Islami (LAKPESDAM PWNU Jawa Tengah) sebagai pembicara.

Pembukaan materi oleh narasumber diawali dengan mengutip perkataan dari sejarawan moralis Inggris Jhon Dalberg-Acton yang pernah mengatakan “All power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely” (Kekuasaan itu cenderung korupsi. Kekuasaan absolut pasti korupsi).


Sejarah mahasiswa dikampus UIN Walisongo sendiri dalam proses pemilihan student goverment yang awalnya dimulai dari Pemira (Pemilu Rakyat), lalu pada tahun 2008 berganti Musmaju (Musyawarah Mahasiswa Jurusan) dan Pemilwa (Pemilu Mahasiswa) pada tahun 2010.


“Sebagai fungsi legislatif di dalam pemerintahan kampus, senat mahasiswa atau lazim disebut SEMA tentu tidak luput dari Trias politika dimana pemerintahan dibagi menjadi tiga yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif,” jelas Risya.


Akan tetapi aplikasi didalam kampus sendiri minus lembaga yudikatif dan yang ada adalah birokrasi kampus yang sangat berpengaruh atas kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Senat Mahasiswa baik fakultas maupun universitas.

“Kekuasaan tidak dipilah tapi dipetakan dan saling kerjasama Ini adalah konteks tata negara, pemerintahan mahasiswa tidak sekedar miniatur negara tapi juga laboratorium negara karena tidak sekedar mengikuti UU negara tapi juga ujicoba dan elaborasi,” kata anggota LAKPESDAM PWNU Jawa Tengah tersebut.


Maka dari itu sangat penting bagi mahasiswa, baik itu mahasiswa lama apalagi mahasiswa baru memahami politik sebagai seni (pendidikan politik) daripada praktisnya.


Dalam nuansa kampus fungsi kelembagaan yaitu memberi keamaanan dan kesejahteraan, timbal balik dari mahasiswa yaitu mematuhi undang-undang yang ditetapkan lembaga legislatif karena legislatif merupakan perpanjangan tangan dari mahasiswa untuk mengawasi jalannya lembaga eksekutif.

Menurut Risya modal penting untuk menjadi senat mahasiswa itu harus menguasai retorika dan seni berkomunikasi Serta Memahami konsep student goverment (konseptual)

Relasi kelembagaan dapat dilihat bila birokrasi mengeluarkan kebijakan yg tidak pro terhadap mahasiswa maka student goverment bekerja sama dalam melayangkan kritik terhadap birokrasi.


Pemerintahan mahasiswa harusnya melihat politik sebagai seni (pendidikan politik) bukan sebagai praktis. Kalau hari ini hanya membicarakan karir politik di kampus itu kerugian besar.
“Kalau hanya siapa melanjutkan siapa, disitu tidak ada pembelajaran yaitu pembelajaran tentang sebuah sistem,” tambahnya.

Contoh nyatanya adalah Legal drafting UU Ormawan tahun 2010 adalah asli buatan mahasiswa, yang digodok 2 minggu untuk menghasilkan pemilwa yang kemudian disetujui oleh rektor yang menjabat pada saat itu, ini adalah bukti keberhasilan mahasiswa apabila prioritasnya seni (pendidikan politik).

Pungkasnya pembicara mengutip perkataan dari penulis terkenal Pramudya Ananta Toer
“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan”.

Penulis: Yusuf Nur Qolbi
Reporter: Yusuf Nur Qolbi
Editor: Nur Hikmah

Baca juga:  Monumenku Sayang Monumenku Malang, Menelusuri Jejak Tragedi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here