Selamat Hari Ibu di Bulan Gus Dur

0
68
Selamat Hari Ibu di Bulan Gus Dur
Foto Wahid Hasyim bersama Ibu Nyai Siti Sholichah. sumber www.wikimedia.org
Pimpinan Umum Justisia 2021 | + posts

Di penghujung tahun 1930-an, Wahid Hasyim alias ayah dari Gus Dur mengakhiri masa lajangnya. Seorang pemuda yang sangat cerdas dan rupawan menjadi alasan yang ideal diminati oleh para wanita Jombang pada zaman itu. Tidak sedikit ia menerima tawaran dari beberapa keluarga yang mempunyai anak perempuan, namun baginya menerima tawaran tidak semudah membalikan telapak tangan, banyak di antara mereka ditolak dengan alasan tertentu.

Setelah sekian lama, melajang umurnya menginjak 29 tahun ia jatuh hati kepada putri kiai yang sangat dihormati oleh kalangan NU. Perhatianya tercuri oleh seorang gadis Denanyar yang ia lihat saat mencuci piring di sebuah pesta pernikahan kerabatnya. Gadis itu bernama Solichah salah satu putri dari Kiai Bisri Syansuri yang dikenal salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Bila dibandingkan dengan perempuan lain, Solichah bukanlah wanita yang ideal secara fisik dan bukan yang luwes secara fashion, ia hanyalah gadis kecil berumur 16 tahun yang gigih dan sederhana, namun di lain sisi ada kemuliaan dalam diri Solichah sehingga Wahid Hasyim ingin menikahinya.

Umumnya orang desa zaman dahulu yang serba terbatas baik dari ekonomi maupun pendidikan tidak disangka hal itu mengantarkan Solichah pada level perempuan yang hebat, sebab dia pada masa itu yang mempunya pikiran aktif dan keingintahuan yang sangat kuat. Kecerdasan Solichah mulai tampak dan cenderung sangat dewasa, meskipun pernikahanya masih terbilang muda namun kedewasaanya dalam berfikir sudah mencukupinya untuk menjadi seorang istri.

Ibu dan Masa depan Kemanusiaan

Ibu adalah seorang yang sangat penting di dunia. Siapapun dan setinggi apapun jabatanya pasti dilahirkan oleh seorang ibu. Bisa kita katakana bahwa perempuan atau ibu sangatlah krusial entah dalam kehidupan maupun pendidikan anaknya dan masa depan anaknya. Oleh karena itu, memilih dan mempersiapkan perempuan untuk menjadi ibu dari anak-anak mendatang sangatlah penting.

Ada ungkapan dari penyair Arab yang kurang lebih berbunyi seperti ini; Ibu adalah madrasah pertama. Bila engkau mempersiapkanya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik untuk masa depan.  Pesan ini kurang lebih mengemukakan pentingya mempersiapkan seorang ibu untuk generasi berikutnya.

Wahid Hasyim menikahi Solichah bukanlah karena ia sempurna secara fisik dan ekonomi namun ia melihat bibit-bibit unggul untuk masa depan. Dari perkawinanya melahirkan Gus Dur seoarang yang tidak hanya dikenal sebagai ulama saja melainkan sebagai juru damai untuk semua manusia. Semua golongan akan bercerita tentangnya dari berbagai aspek, dan syukurlah sampai detik ini masih ada sekelompok orang yang mampu mempertahankan nilai-nilai pemikiranya. Mereka terkumpul dalam wadah GUSDURian yang tersebar di semua penjuru Indonesia.

Setelah beberapa tahun membangun keluarga yang harmonis Allah SWT memanggil Wahid Hasyim begitu cepat, diusianya yang relative muda terpaksa ia harus pulang ke pangkuan Allah SWT. Kejadian itu sangat memilukan Solichah karena harus menanggung kesedihan yang mendalam dan bersiap-siap mendampingi anak-anaknya dengan keadaan yatim. Solichah betul sadar ada amanat besar yang harus diemban yaitu menjadikan anak-anaknya untuk berguna bagi orang lain.

Ibu dan Politik Kebangsaan

Gus Dur dan adik-adiknya tumbuh besar melalui tangan mulia ibunya. Gus Dur bisa menjadi orang penting dalam dunia politik juga berkat peran ibunya. Setelah Solichah ditinggal wafat Wahid Hasyim ia aktif di partai politik. posisinya sangat strategis, ia manjadi jembatan untuk mempertemukan berbagai pihak, mulai pejabat dengan kiai, begitupun sebaliknya. Bahkan pertemuan kepentingan untuk umat Islam dengan negara waktu itu.

Kita anggap ma’lum karena posisi Nahdlatul Ulama waktu itu sangat seksi, banyak orang yang ingin tergabung dalam wadah ini untuk memobilisasi massa yang sangat banyak, mereka menganggap Nahdlatul Ulama adalah wadah yang bisa mengantarkan kepentingannya karena memiliki simpatisan yang cukup banyak. Oleh karena itu para kiai dan bu nyai mulai menerapkan politik pesantren untuk menyelamatkan Nahdlatul Ulama dari kelompok yang menyalahgunakan NU untuk kepentingan-kepentingan sepihak saja.

Hadirnya Gus Dur menjadi ketua PBNU pada Muktamar ke 1984 di Situbondo merupakan awal kembalinya NU pada khittahnya sebagai jamiyyah, bukan partai politik (1952-1970) atau  yang terlibat menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan. Hal ini juga tidak lepas dari campur tangan ibundanya soal posisi strategis NU dalam percaturan politik. walaupun saat itu ibunya merupakan orang penting di PPP, tapi ia tetap setuju dan mendukung dengan ide Gus Dur tadi.

Sebelum mengakhiri tulisan ini sebagai rasa hurmat saya terhadap ibu-ibu yang telah melahirkan peradaban dunia alangkah baiknya di setiap nafas yang kita hembuskan menjadi doa untuk semua jerih payah dan jeritan ibu ketika melahirkan peradaban ini. Selain itu di balik kesuksesan anak ada tirakat seorang ibu yang selalu menyertai kita dengan doa.

Setiap hati akan berubah seiring berjalanya waktu, kecuali hati seorang ibu yang tetap selalu menjadi surga. Selamat Hari Ibu [Red. Sidik]

Baca juga:  Nyai Solichah Wahid; Ibu bagi Orang Banyak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here