Sebuah Pengantar untuk Berfilsafat

0
465

Banyak orang bertanya “apa itu filsafat?”. Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Bahkan, menurut Kees Bertens dalam Pengantar Filsafat mengatakan, pertanyaan “apa itu filsafat?” juga sulit dijawab oleh para filsuf sendiri.

Oleh: Sidik Pramono

Justisia.com – Bukan karena para filsuf itu ilmunya kurang atau tidak tahu tentang apa yang mereka lakukan. Bukan pula karena pelit untuk membagikan arti filsafat yang sesungguhnya. Namun, “mereka tidak bisa jelaskan kepada orang yang tetap tinggal di luar alam pikiran itu.” (K. Bertens: 2018).

Menganalisis cuplikan pernyataan K. Bertens, setidaknya beliau memberikan kelegaan bagi kita yang gelagapan dan tak jarang mendadak kikuk saat ditanya, “apa itu filsafat?”. Sebagaimana ungkapan di atas, kita akan kesulitan untuk menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang keberadaannya inlinier dengan kita (di luar alam pikiran). Salah seorang Filsuf Prancis, Henri Bergson membandingkan filsafat sebagaimana olahraga renang.

Mengapa demikian? Sebab, kita dapat menerangkan panjang kali lebar kali tinggi pasal renang. Akan tetapi, seseorang yang pada dirinya belum tahu apa itu berenang tidak akan pernah mengerti benar sebelum dirinya mencoba sendiri. Apabila kita ingin mengetahui apa itu renang sebenar-benarnya maka cuma ada satu cara yakni, kita harus menceburkan diri ke dalam air dan memulai untuk berenang.

Penggambaran tersebut sangat koheren dengan filsafat. Jika kita memang ingin tahu apa itu filsafat secara benar maka kita harus menceburkan diri dalam filsafat dan mencicipi rasa dari filsafat. Mereka yang bertanya-tanya mengenai filsafat harus masuk ke dalam filsafat. Sebab, filsafat tidak dapat dijelaskan secara teori, sebagaimana olahraga renang yang dijelaskan Henri Bergson.

Sebagai Pengetahuan Awal

Merunut tulisan di atas, setiap orang yang ingin tahu filsafat disarankan dan atau diharuskan untuk masuk dan menikmati cita rasa filsafat. Sebuah mutiara akan ditemukan bagi mereka yang mau menyelam ke dalam lautan, mungkin begitulah kunci dalam mengetahui filsafat. Terkadang kita terjebak dalam angan-angan bahwa filsafat itu sulit, mbulet, ruwet dan lain sebagainya. Ini disebabkan karena kita masih berada di luar alam pikiran filsafat.

Baca juga:  Perempuan yang Berkabung

Sama dengan berenang, sebelum terjun ke dalam filsafat sebaiknya kita melakukan pemanasan agar tidak terjadi kram dalam pemikiran serta salah dalam usaha telaah kita terhadap filsafat. Pemanasan yang diajarkan oleh K. Bertens adalah dengan mengetahui etimologi dari kata “filsafat”.

Asal dari kata filsafat berasal dari Yunani philosophia. Disusun dari kata philein (mencintai) dan sophia (kebijaksanaan). Dengan begitu, arti sebenarnya dari philosophia adalah mencintai kebijaksanaan dan para philosophos (Indonesia: filsuf) adalah para pecinta kebijaksanaan. Lebih jauh lagi, dalam teks yang populer dari dialog “Phaidros” Plato mendetailkan pengertian mencintai kebijaksanaan. Menurutnya, mencintai kebijaksanaan harus dipahami sebagai mencari sebuah kebijaksanaan, tidak sebagai memiliki kebijaksanaan. Hanya Tuhan Yang Maha Esa-lah sebagai pemilik kebijaksanaan. Manusia hanya pantas dikatakan sebagai pencari kebijaksanaan.

Dari Mitoslah Filsafat Lahir

Sudah menjadi naluri, manusia ingin mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya, yang ditemukannya, yang dirasakannya. Dalam usaha untuk mengetahui segala sesuatu tersebut manusia memiliki caranya masing-masing serta memiliki tahapan. Dari nalurinya inilah manusia mencoba mencari dan terus mencari esensi sesuatu dengan menanyakan secara fundamental. Hal ini berlaku tidak hanya untuk manusia perorangan tapi juga untuk manusia pada tataran bangsa atau kebudayaan (K. Bertens: 2018).

Dalam pandangan penulis, tahap dalam misi mengetahui segala sesuatu manusia menempuh jalan mitos sebagai langkah awal. Adanya mitos disebabkan keingintahuan manusia dengan membuat sebuah cerita yang menarik dan dikait-kaitkan dengan sesuatu yang ingin diketahui. Salah satu adanya mitos karena manusia kala itu belum dapat membuktikan sesuatu secara ilmiah.

Pada zaman pra-modern, hampir semua bangsa di belahan dunia manapun memiliki mitos sendiri-sendiri. Mungkin, hingga saat ini masih ada mitos yang tetap lestari. Begitu pula dengan Yunani. Termasuk bangsa yang kaya akan mitologi. Kata mitos sendiri berasal dari Yunani: mythos berarti “cerita”.

Memang benar, mitos masih meyisakan pertanyaan bagi manusia yang sedang dalam misi suci mencari tahu segala sesuatu. Banyak mitos yang ada masih belum bisa menjawab pertanyaan fundamental. Pasalnya, mitos kadang sukar diterima secara logis yang disebabkan karena, mitos terkesan mengada-ada dan sulit diverifikasi keberannya. Pada saat ini, mitos terstigma sebagai “cerita tidak benar” atau “cerita dongeng”.

Baca juga:  Merayakan Kelahiran Sang Pembebas

Akan tetapi, mitos tidak dapat dianggap remeh begitu saja. Dalam mitos, terkandung sebuah keterangan dan hal itu relevan dengan naluri keingintahuan manusia. Meskipun dalam banyak mitos tidak memiliki dasar dalam realitas. Dengan demikian, mitologi bisa dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat sebagai implementasi suatu percobaan untuk mengerti (K. Bertens:2018)

Berbeda dengan bangsa lainnya, mitologi menjadi hal lain bagi bangsa Yunani. Mitologi menjadi batu loncatan bangsa Yunani menuju pada filsafat yang disebut dengan “the Greek miracle”. Kejadian ajaib tersebut terjadi pada abad ke-6 SM yang bertempat di Miletos, Yunani. Peristiwa tersebut adalah lahirnya sikap ilmiah yang terkandung dalam filsafat. Filsafat yang lahir pertama ialah pembahasan tentang akhre (prinsip, permulaan) dari alam semesta.

Bapak Filsafat, Thales dari Miletos adalah filsuf yang pertama berpendapat, akhre itu adalah air. Filsuf kedua, Anaximandros dari Miletos, mencetuskan ide yang abstrak yakni akhre adalah to apeiron (yang tidak ditentukan; yang tidak ada batas). Dan filsuf ketiga, Anaximenes dari Miletos berstatemen bahwa akhre tersebut berwujud udara. Memang untuk saat ini pemikiran-pemikiran mereka tidak relevan, primitif, aneh, ngawur, ngaco, dan mungkin akan ditertawakan oleh sebagian orang yang membaca pemikiran para filsuf dari Miletos ini.

Memang benar, bila dilihat dari kacamata zaman sekarang. Tapi, bila kita cermati sebagaimana pada zaman mereka hidup yang penuh dengan pemikiran mistis cetuskan para filsuf ini merupakan sebuah dobrakan hebat. Apa yang mereka lakukan sangatlah berbeda dengan pemikiran kebanyakan orang waktu itu yang terjerembab dalam pemikiran mistis. “Mereka seolah-olah ‘menemukan’ cara berpikir rasional.”

“Dari para filsuf Miletos itulah terjadi peralihan dari mythos ke logos (akal budi, rasio).” begitulah kiranya ungkapan yang pas menurut K. Bertens. Mereka dalam mengungkapkan cetusan gagasan mengenai akhre disertai alasan yang memperkuat gagasan tersebut. Dari para filsuf itulah kita dapat belajar bahwa, kita tidak lantas percaya begitu saja dengan apa yang telah ada. Pandangan yang ada bisa diganti dengan pandangan yang lain dengan menggunakan alasan yang adekuat.

Baca juga:  Kacamata: Kebutuhan, Alat Bantu dan Fashion

Pangkal itu Bernama Filsafat

Sejak lahir pada abad ke-6 SM, “the Greek miracle” tidak hanya terkait dengan filsafat dalam pengertian modern (suatu ilmu tertentu). Filsafat yang muncul di Yunani ini mencakup seluruh bidang ilmiah. Semua cikal bakal dari ilmu-ilmu pengetahuan baik alam maupun sosial, core-nya adalah Filsafat.

Pada mulanya, semua bidang ilmiah tergabung menjadi satu dalam filsafat dengan sikap ilmiah yang ada padanya. Dalam “Pengantar Filsafat” K. Bertens mengatakan, selama kira-kira dua milenium filsafat sama artinya dengan ilmu pengetahuan. Baru pada abad ke-16 ilmu-ilmu eksakta macam astronomi, fisika, kimia, biologi mulai memisahkan diri dari filsafat.

Namun, pada awalnya, para ilmuwan seperti Sir Isaac Newton masih memakai kata filsafat. Dalam sebuah sintesis pertama tentang fisika yang ditulis Newton, dengan menyebut “filsafat alam” dalam Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1687). Pemisahan juga terjadi pada ilmu-ilmu sosial yang memisahkan diri dari filsafat pada abad ke-19.

Bila kita cermati bahwa asal dari semua ilmu yang ada pada saat ini tercipta dari embrio yang sama dengan sebutan filsafat itu memang benar adanya. Ringkasnya adalah, lahirnya filsafat oleh para filsuf Yunani adalah didasarkan pada naluri keingintahuan manusia terhadap segala sesuatu. Dari naluri keingintahuan itulah muncul pemikiran ilmiah dan dari pemikiran ilmiah itulah muncul ilmu pengetahuan pada saat ini. Dan kemunculan pemikiran ilmiah itu terkandung dalam the Greek miracle yang melahirkan filsafat. Dengan demikian, pangkal semua ilmu itu adalah filsafat.

Sebagaimana telah dibahas di muka, untuk mengetahui apa itu filsafat terjunlah dan rasakan apa sebenarnya itu filsafat. Sebab, filsafat tidak dapat dijelaskan dari luar. Jika anda masih absurd dengan filsafat, maka sejatinya anda masih berada di luar filsafat dan belum masuk ke dalam filsafat itu sendiri. Tak usah bertanya apa itu filsafat, jika kau benar-benar ingin tahu maka masuk dan menyelamlah.

—–

Tulisan ini merupakan telaah penulis dari pemikiran K. Bertens dalam buku Pengantar Filsafat.

BAGIKAN
Berita sebelumyaPuisi Untukmu
Berita berikutnyaSepercik Harapan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here