Sampai Kapan Begini?

0
599
Foto: Hipwee

Oleh: Pujangga Hati

Justisia.com – “Allahu Akbar Allahu Akbar,” suara adzan berkumandang, seperti biasanya alarm yang ku siapkan pada malam hari seperti tidak ada gunanya. Udara yang terasa dingin sepoi-sepoi membuatku bangun hanya untuk mematikan alarm kemudian tidur lagi.

Oh iya Perkenalkan namaku Dori Kamal Hayadir mahasiswa semester tua disalah satu Universitas Islam ternama di Indonesia. Orang-orang biasa memanggilku Dori.

Pagi itu mata kuliah di mulai jam 08.30, salah seorang teman kontrakan membangunkanku mengatakan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 menit. Begitu kagetnya aku mata yang masih terasa sepat saat dibuka kupaksakan untuk bangun lalu bergegas ke kamar mandi.

Air dari bak mandi yang masih terasa amat dingin membuat badanku bergetar seakan-akan jatuh dalam kolam air es. Pakaian yang baru saja kering kuambil dari jemuran lalu bersiap untuk segera berangkat ke kampus.

Di tengah jalan aku tersadar seperti ada yang mengganjal, betul saja ternyata smartphone yang biasa kubawa kemanapun aku pergi tertinggal. Sontak saja langsung kubelokkan motor untuk kembali ke kontrakan untuk mengambilnya.

Baca juga:  Question

Waktu itu baru saja selesai liburan semester, masa kuliah yang baru berjalan kurang lebih satu minggu masih belum efektif. Maklum minggu pertama beberapa Dosen belum masuk mengajar karena ada kepentingan lain.

Pada pukul 08.50 aku sampai di depan kelas dengan nafas terengah-engah karena terburu-buru. Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafas agar stabil kembali. Kupegang gagang pintu lalu kubuka perlahan-lahan “kreekk” dan ternyata Dosen yang waktu itu mendapat jadwal mengajar di kelasku belum hadir.

“Huft!” aku segera duduk di samping Dullah yang kebetulan adalah komting terpilih pada mata kuliah ini.

“Dul Dosennya datang gak?” tanyaku. “Kurang tau nih Dor soalnya sudah aku chat dibaca doang tapi nggak dibales, ya udah tunggu aja bentar lagi paling juga datang biasalah jadi Dosen kan sibuk,” jawab Dullah dengan senyum sinis.

Setelah beberapa saat dengan baju rapi dan peci hitam Dosen masuk lalu memberi salam kepada kami. “Baik saudara-saudari sekalian, sebelumnya saya meminta maaf atas keterlambatan saya karena satu dan lain hal yang harus saya kerjakan sebelum mengajar,” ujar Dosen.

Baca juga:  Lupenrien

Mataku mulai berat untuk dibuka rasanya ingin kembali ke atas kasur untuk melanjutkan tidur. Wajar saja semalam aku tidur jam 03.00 dini hari karena sebelumnya begadang demi menonton pertandingan tim bola kesayanganku.

Di tengah-tengah ngantuk tiba-tiba terdengar suara Dosen memanggil namaku mendadak aku terbangun dan bingung apa yang harus kulakukan. Wajah pria berpeci hitam itu mulai terlihat kesa. “Dori kamu tidur jam berapa semalam?” tanya Dosen. Lalu kujelaskan sesuai apa yang memang terjadi semalam.

“Saudara-saudariku semua bukannya saya melarang kalian begadang tapi kalau tidak ada gunanya lalu untuk apa? Kalian jauh-jauh kesini malah lebih mementingkan nonton bola daripada belajar,” ujar Dosen.

Seketika terhentilah pelajaran yang dilanjut dengan nasihat. Mulai dari nasihat tentang kebiasaan memegang smartphone berjam-jam dalam sehari, hanya mengandalkan belajar pada saat jam kuliah, lebih mementingkan aksesoris badan, aksesoris gawai dari pada membeli buku yang dapat menunjang proses menuntut ilmu.

Kebiasaan terlambat shalat subuh atau bahkan tidak melakukannya, lalu pria berbaju rapi itu menjelaskan bahwa nasib itu tidak hanya semata-mata ditentukan oleh usaha tapi juga doa kepada yang Maha Menguasai kehidupan kita.

Baca juga:  Gerbong Maut

“Lah kalian ini usaha nggk mau, doa malas-malasan terus mau jadi apa?” pertanyaan dosen menohok. Semua terdiam dan termenung hingga tak terasa waktu kelas habis, aku sangat menyesal karena kesalahanku semua jadi terkena imbasnya. Dalam hatipun bertanya. “Sampai kapan aku begini?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here