Ruwetnya Kejujuran

0
163

Pada suatu masa, jauh di dalam suatu Tambak. Ada kehidupan sebuah negara bernama Tambak Bottom yang dipimpin oleh Belut besar yang pintar bersilat lidah. Tambak Bottom terdiri dari beberapa kota, salah satu kotanya yang terkenal adalah kota Lemna. Kota ini terkenal karena kampus terkondang se-antero negeri bersemayam di sana, kampus yang menghasilkan banyak ahli dalam setiap bidang, Universitas Tambak Bottom namanya atau biasa disingkat UTB.

Nama UTB sudah melanglang buana ke Tambak sebelah. Kampus ini juga donatur tetap masa aksi untuk setiap demo di Kota Lemna. Mahasiswanya yang terkenal sangat kritis dan heroik saat aksi demo sudah menjadi buah bibir di setiap sudut berita. Seperti demo tolak RUU Tata Krama Perikanan. Mahasiswa UTB berpendapat bahwa RUU tersebut mendiskriminasi makhluk-makhluk lain yang hidup di Negara Tambak Bottom seperti Udang, Kecebong, Keong, Yuyu, dsb.

Namun, kekritisan mahasiswa UTB tak dirasakan oleh mahasiswa semester 3 jurusan Teknik Perkembang Biakan (Teknik Peri).  Namanya Mujair Awwaluw Waktu, yang biasa dipanggil Awal. Dia adalah mahasiswa rantau yang terkenal karena kekritisannya, para alumni pun kenal Awal.

Baca juga:  Rawa Pening, Pelajaran atas Tenggelamnya Desa Pathok

Dia juga terkenal dengan karya tulisnya yang menggemparkan, diantaranya berjudul: “Lidah Belit ala Belut”, “Yang Pelit Capitnya Kejepit”, “Azab Senioritas Matinya Kena Potas”, dll. Yang masih hangat-hangatnya digosipkan sekarang adalah tulisannya yang berjudul “Krisis Mahasiswa Yang Kritis”.

Tulisan itu dianggap menyindir para teman sejawat maupun seniornya di kampus UTB. Karena tulisannya itu, dia diincar oleh banyak pasang mata. Setiap dia berenang menuju ke kosnya, seperti ada mata-mata ikan teri yang selalu mengawasinya.

“Huuhh… Akhirnya nyampe kontrakan, emang dasar ikan teri sukanya nyinyir mulu”, akhirnya Awal sampai di kosnya tanpa tergores seinci pun sisiknya.

“Kenapa lu Wal? Hahaha.. banyak yang ngincar lu, ya?”ledek sohibnya satu kos bernama Bandengudin yang biasa dipanggil Udin.

“Dasar ikan banyak duri, bukan hanya duri lu yang tajem, omongan lu juga tajem ya”

“Helehh broo, santuyy, nggak bakal dibakar hidup-hidup kok, paling juga dipanggang,  hahahaha,” ledek Udin lagi.

“Aneh ya, katanya kampus yang mahasiswanya terkenal kritis, gue nuangin pendapat bentuk tulisan kok responnya gini”

Baca juga:  Lupenrien

“Hahhh.. padahal tulisan gue lolos masuk koran elit, berarti kan layak untuk diedarkan. Lah gue kok malah jadi buron gini, hmmm.. padahal kata guru SD gue dulu, jujur itu akhlak terpuji, lah gue jujur malah ajuurr,” sambatnya lagi.

“Jujur itu emang baik dan termasuk akhlak terpuji, Broo, tapi zaman sekarang kan jujur tentang kebobrokan sesuatu itu kadang dianggap kesalahan. Noh lihat di berita-berita yang jujur tentang kebobrokan pemerintah, malah masuk hotel prodeo broo”

“Halahhh ruwet-ruwet, bohong dosa, jujur dianggap salah,” keluh Awal sambil mengepakkan siripnya ke tembok.

“Sebenarnya ya kesalahan lu itu cuma satu, melawan arus alias berbeda pikiran dengan kebanyakan mahasiswa yang ada. Ya, tapi kalo menurut gue sih itu gak salah, cuma ya zaman sekarang kan yang beda yang dianggap salah,” dawuh Udin.

“Duhhh puyeng gue jadi ikan, apa zamannya manusia juga ruwet kek zaman kita ya, Din?”

“Helehh… zaman manusia malah lebih ruwet bin mumet Wal. Denger-denger dari manusia yang mancing di atas kemarin, di zaman manusia yang jujur matanya bisa buta sebelah, nah yang mencuri uang rakyat bisa ongkang-ongkang kaki di rumah”

Baca juga:  Hinakah Puasaku?

“Ya meski zaman kita juga ruwet, seenggaknya kita nggak sekejam manusia, buktinya mata lu masih utuh Wal. Tapi entah nanti kalo ilang sebelah, hahaha…,” lanjut Udin.

“Dasar amis lu, ya semoga a..” tutur Awal terhenti.

“TOK.. TOK.. TOK.. TOK..”,  ketukan pintu yang menggebu memotong ucapan Awal.

Perbincangan itu pun terhenti. Awal dan Udin langsung membisu, mata mereka saling bertatapan seolah berkata,

“Siapa ya?” wajah Awal dan Udin pun memucat saat ketukan pintu menjadi sebuah gedoran yang bertubi-tubi.

“Matilah aku,” batin Awal berseru.

Penulis: Sandy Cheeks
Editor: Sonia