Ruang Laktasi di Kamar Mandi

0
616
kredit ilustrasi : Alda Yudha

Semarang justisia.com Nurul Khasanah menggendong buah hati sembari menikmati rindangnya Kampus II UIN Walisongo Semarang. Baru beberapa menit melihat puluhan mahasiswa, tiba-tiba menangis. Ia punya jurus ampuh untuk menenangkannya. Masjid Al Fitroh jadi tujuaanya.

“Saya biasanya menyusui di masjid kampus 2 dilantai atas yang biasa untuk sholat mahasiswa perempuan. Jaraknya cukup jauh dengan kelas saya. Jadi saya harus mondar-mandir,” ungkap salah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Nurul Khasanah.

Nurul tak segan mengajak buah hatinya yang menginjak umur setahun ke kamar mandi saat suasana Masjid ramai

“Pernah saya bawa ke kamar mandi. Waktu itu saya lagi jam kuliah dan anak saya rewel. Tidak mungkin saya meninggalkan jam kuliah terlalu lama jika saya mau ke masjid. Anak saya juga keburu rewel. Jadi terpaksa saya bawa ke kamar mandi,” akunya saat ditemui reporter Justisia di sela-sela perkuliahan, Kamis, (9/01/2019).

Nurul yang kini memiliki 2 anak. Anak pertama bernama Lala yang sekarang sudah berusia 2 tahun, dan anak kedua bernama Sasya yang belum genap 1 tahun.

“Nurul terpaksa mengambil cuti anak kedua ini selama 2 semester, supaya anak tidak terlalu lama ditinggal karena ia mengerjakan skripsi,” tambahnya.

Ia akan sering menuju ke perpustakaan. Sedangkan suasana di perpustakaan sendiri tidak boleh gaduh.

Nurul sapaan akrabnya, mengaku enggan menitipkan anaknya penitipan anak. Ibu dua anak itu sangat berharap ada ruang untuk menyusui di area kampus.

“Harapan saya pengen lah ada ruang laktasi, gak usah lebar-lebar, kecil saja 2-3 meter lah. Yang penting bisa buat pelarian untuk menyusui,”keluhnya.

Baca juga:  Pesona Makam dan Masjid Sunan Sendang Duwur

Beda nasib dengan Nurul, Dosen FSH, Latifah Munawaroh saat memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Ia harus membawa alat pemerah ASI setiap hari ke kampus. Latifah memerah ASI di kampus setiap 3 jam sekali, dan menghasilkan perahan ASI sekitar 400 CC sehari.

“Jadi ini alat pomping yang saya bawa setiap hari. Ada es agar suhu ASI tetap dingin dan tidak mudah basi, ada botol untuk asi, ada plastik steril yang khusus untuk ASI kalau botol tidak cukup dan lainnya,” jelasnya sambil menunjukkan alat-alat pemerah ASI kepada reporter Justisia, Jumat (10/01/2019).

Belum adanya ruang laktasi, beliau sempat bingung mencari tempat untuk memerah ASI. Tetapi kebingungan tidak berlangsung lama karena ruangan beliau yang mendukung.

“Awalnya sempat bingung cari-cari tempat untuk pomping. Tapi saya pikir karena ruangan ini ada sekat-sekatnya, dan saya juga biasa pakai kerudung besar, saya cukup balik badan saya dan kemudian tinggal pomping saja,” jelas perempuan beranak empat itu.

Sebelumnya, Latifah cuti selama 3 bulan. Dan selama 3 bulan itu, ia menyetok ASI di freezer. Latifah mengkhususkan kulkas paling atas hanya untuk ASI saja tanpa ada barang lain.

Meskipun setiap hari Latifah merasa kesusahan, karena harus membawa alat perah ASI. Ia tetap berprinsip untuk tidak membawa anaknya ke Kampus, namun membutuhkan ruang laktasi untuk pomping.

“Kalau membawa anak ke kampus saya rasa tidak, bahkan perjalanan saya saja pulang pergi butuh waktu 3-4 jam, belum lagi kalau disini rewel, kasihan malah. Saya butuh ruang laktasi hanya untuk pomping saja sebenarnya,” ungkapnya.

Baca juga:  SPBU Ngaliyan Akan Direlokasi

Perempuan asal Kudus itu juga pernah mendengarkan kabar bahwa di ruang ISDB yang saat ini masih dalam proses pembangunan akan didirikan ruang laktasi. Ia berharap agar berita pendirian ruang laktasi diberikan kemudahan, dan cepat terealisasi.

“Ruang tersebut agar memudahkan para ibu, baik dosen, mahasiswa, pegawai, dan lainnya untuk menyusui atau memerah ASI untuk anaknya,” harapnya.

Kampus Lempar Tanggung Jawab

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui Dan/Atau Memerah Air Susu Ibu telah mengatur sedemikian rupa regulasi penyediaan ruang laktasi sebagai satu upaya memenuhi hak-hak  seorang Ibu untuk menyusui atau memerah air susunya di tempat kerja atau sarana Umum lain.

Wakil Rektor II, Abdul Kholik mengklarifikasi perihal ruang laktasi di area kampus UIN Walisongo Semarang. Saat ditemui Kru Justisia pada Kamis, (19/12/2019) menyiratkan belum ada perhatian khusus dari pihak kampus mengenai hal ini.

Pembangunan gedung-gedung baru di kampus 3 pun diharapkan menjadi jalan terwujudnya ruang Laktasi yang sudah lama diidamkan oleh para mahasiswi dan dosen yang telah memiliki bayi. Sampai saat ini, ia mengklaim belum ada pembicaraan khusus mengenai ruang Laktasi yang diangkat dalam rapat-rapat pimpinan.

“Belum ada evaluasi untuk kemudian melengkapi apakah perlu dilakukan atau perlu disediakan ruang laktasi atau tidak. Tapi inikan masih masih dalam proses pembangunan, jadi belum di diserahterimakan dan memang belum pernah ada pembicaraan soal ruang itu nanti digunakan untuk apa,” ungkapnya.  

Baca juga:  Prof Barda Nawawi Arif : KUHP Tidak Sesuai dengan Kultur Masyarakat Indonesia

Kemudian Dosen FITK itu merencanakan, ruang laktasi direncanak jika dirasa nanti dibutuhkan, misalnya nanti untuk memberikan hak-hak kepada para pegawai, para ibu yang memiliki bayi.

“Saya kira bisa untuk dipikir kesana. Untuk disediakan. Ada gagasan juga untuk rumah penampungan bayi atau apa, ya nanti tinggal tergantung fungsi apa yang kedepan akan digunakan,” terang Kholiq.

Klaim yang disampaikan oleh Kholiq, selama ini tidak pernah ada laporan pada dirinya mengenai kebutuhan ruang Laktasi di Kampus, juga belum pernah menemui secara langsung Mahasiswi/Dosen yang membawa bayi ke Kampus.

Reporter Justisia mengkonfirmasi Rumah Tangga UIN Walisongo, Mahin Aryanto menjelaskan bahwa di ruang ISDB yang saat ini sedang dalam proses pembangunan sudah ada didalamnya ruang untuk laktasi, ruang untuk para difabel, dan ruang untuk  kepentingan lainnya.

“Yang pasti ada ruang untuk laktasi. Bisa dicek silahkan,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk gedung-gedung yang lama belum ada kepastian terkait ada tidaknya ruang laktasi

“Saya sih mudah kalau ada uangnya” tukas beliau.

Berhubungan dengan ruang laktasi yang juga cukup dibutuhkan, ruang penitipan anak untuk saat ini masih belum ada. Namun, dari lembaga sendiri sudah merencanakan untuk mengangkat ruang penitipan tersebut, dan hanya berada di kampus 1 saja, tepatnya di ruang Dinas. 

“Tempat sudah ada, tapi belum lengkap seperti yang momong, dan lain sebagainya” pungkasnya.

Reporter Justisia mendatangi gedung-gedung baru UIN Walisongo Semarang atau familiar disebut Gedung ISDB tak menemukan satu ruang pun khusus laktasi seperti klaim Kabag Rumah Tangga, Mahin Aryanto.

Harapan Nurul dan Latifah Munawaroh pada ruang laktasi bukan sekedar isapan jempol semata. Pemenuhan fasilitas kampus yang ramah terhadap perempuan adalah harapan. Pilihannya kampus memenuhi atau tetap membiarkan ruang laktasi sama dengan kamar mandi.

Reporter : Fajri, Popo, Fia
Editor : Afif Maulana Adikusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here