Rojabi

0
184
Kredit foto: CNN

Oleh: Fia Maulidia

“Bulan Rajab itu istimewa, selain karena ia memang istimewa, itulah titik dimana saya menemukan jalan pulang, mendapatkan kembali kedamaian yang lama hilang,” ucapku mengawali kisah di depan dua orang alumni yang bersiap-siap untuk melakukan recording.

***

Dengan rambut terurai aku tergesa-gesa melewati gang sempit komplek menuju musala satu-satunya di dusun. Ada pembagian sembako gratis, dan aku tak boleh kehabisan.

Tiba giliranku, mbak-mbak pembagi sembako melihatku dengan seksama lantas berucap, “Semoga segera diberikan hidayah untuk berhijab ya ukhty, selamat menyambut bulan suci Ramadhan,” ucapnya tulus dengan senyum.

Aku hanya mengangguk kemudian berlalu, masa bodoh bulan suci, bagiku Ramadhan adalah petaka terbesar dalam hidup. Sengaja aku mengantre di barisan pembagi sembako perempuan, menghindari mereka yang memakai surban, jijik sekali aku melihatnya. Kalau bukan karena sembako gratisan, kupastikan di depan wajahku tak ada makhluk bergamis dan bersurban.

***

Jam menunjukkan waktu dini hari. Piring-piring sudah tertata rapi, semua alat masak telah ku cuci. Mataku panas, punggungku kaku menuntut rebahan. Aku keluar dari dapur kemudian berhenti sejenak untuk mematut diri di depan cermin.

Kudapati pandangan kosong dibalut kantung mata yang semakin gelap, rambut tak terurus diikat dengan bau khas dapur yang menguar, menyedihkan. Tapi ah sudahlah, toh tak ada yang dirugikan atas penampilanku.

“Ngelamun teroos.” sekonyong-konyong muncul seorang manusia mengagetkan.
“Kok ndek kene sih?”
“Harus selalu ngegas kalau ngomong, Buk? Toh aku bukan maling.”
“Terus?”
“Wajahmu kucel, ayo ke kafeku biar fresh,” ucapnya kemudian berjalan mendahului.

Aku masih di tempat yang sama ketika Obi berteriak dari depan restoran. “Ayo, selak wayahe sahur jalan macet.” perintahnya seolah-olah aku tak punya pilihan lain, dan memang aku benar-benar tak punya pilihan. Tak punya kendaraan, nekat berjalan sendirian ke kos malah menumbalkan diri sendiri.
“Ini kafe yang katanya punyamu itu?”
“He.em”
“Heran, jadi orang pelit banget.”
“Maksudnya?”
“Ngomong ae irit.”

Spontan dia tertawa lepas, aku segera membongkar memori apakah pernah dia tertawa lepas seperti ini selama 2 tahun kami bekerja di restoran? Tidak, tak pernah. Ini pertama kalinya Obi tertawa lepas dan berasal dari hal yang sama sekali tidak lucu, menurutku.

***

Ibuk tangkas membantu Bapak menyiapkan dagangan. Aku di depan TV dengan mata yang masih lengket. Baru jam 5 pagi dan aku ingin kembali tidur, tapi terkaget-kaget oleh perintah ibuk untuk ikut membantu memindahkan masakan dari wajan ke wadah plastik dagangan kami.

“Aku ndak mau, Buk. Ibuk kalau masak selalu enak bikin aku pingin batalin puasa,” elakku sambil merebahkan badan di depan TV.
“Iya wis ndak jadi suruh nyiapin balado telur, tapi jangan tidur habis subuh. Beresin rumah terus siap-siap berangkat sekolah ya nduk,” jawab ibuk sambil riwa-riwi membantu bapak menyusun barang dagangan di atas motor.

Aku malah tertidur dan hal terakhir yang ku ingat, Ibuk mencium pipiku disusul suara motor Bapak melaju meninggalkan rumah.

Keluargaku bukan keluarga berada, kami menggantungkan hidup hanya dari warung nasi kecil yang tempatnya pun masih ngontrak. Bapak hanya seorang kuli bangunan, kadang juga merangkap dengan menggarap sawah tetangga, apapun Bapak kerjakan demi tetap mengepulnya tungku api.

Tiga tahun lalu kejadian nahas menimpa, Bapak mengalami kecelakaan kerja saat menggarap proyek gedung baru perkantoran. Satu kaki bapak lumpuh dan tak lagi bisa bekerja normal. Mau menggarap sawah pun sangat susah.

Ibuk hanya punya keahlian memasak, dengan modal hutang pada tetangga, jadilah Bapak dan Ibuk merintis usaha warung ini. Tidak besar, tapi setidaknya cukup sebagai penyambung hidup.

Suatu saat aku pernah bertanya pada Ibuk kenapa Bapak-Ibuk tetap berjualan padahal ini bulan puasa, kata Ibuk kami tak akan bisa makan kalau Bapak dan Ibuk tidak berjualan.

Juga, aku tak akan punya baju baru saat lebaran nanti. Aku hanya manggut-manggut kemudian tertawa riang ketika Ibuk berjanji akan membelikan baju baru jika aku bisa puasa full selama Ramadhan.

Aku masih kelas 4 SD saat peristiwa memilukan itu terjadi. Seperti biasa tiap pulang sekolah aku bersepeda sekitar 3 KM menuju warung kami. Biasanya, aku akan membantu Ibuk mencuci piring atau sekedar mengelap meja dengan menelan ludah sebab melihat para pembeli makan masakan Ibuk yang sangat enak. Tapi siang itu, semua tak lagi sama.

Baca juga:  Pengorbanan

Pedal sepeda kukayuh semakin cepat mengiringi pekik takbir orang-orang bersurban dan bergamis hitam, ada juga yang putih di belakangku. Muka mereka garang berpadu dengan brewok yang membuat kesan gahar semakin kentara. Semakin dekat, aku tak bisa lagi melihat bangunan yang biasa kami gunakan untuk berjualan.

Warung kami porak-poranda, kursi-kursi jatuh sembarangan, pecahan kaca memenuhi lantai, nasi tumpah dari wakul, lauk-lauk lezat itu dibuang begitu saja. Aku langsung panik mencari keberadaan Bapak dan Ibuk. Aku berlari ke belakang barangkali mereka disana.

Kosong. Piring-piring pecah berantakan, aku segera berlari ke depan dengan mata awas, tangisku pecah menangkap noda darah di teras warung. Tongkat yang biasa Bapak gunakan untuk berjalan patah, banyak serpihan dan balok kayu.

Spontan aku berteriak memanggil-manggil Bapak dan Ibuk. Beberap detik, aku mendapati ibuk sedang memapah Bapak yang terluka di bagian kepalanya berusaha menyeberang jalan untuk menyingkir dari kegaduhan ini.

Pria-pria bersurban itu masih masih memekikkan takbir seperti orang mangamuk, menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya. Aku berteriak sekuat yang kubisa untuk memanggil Ibuk kemudian berlari dengan kencang ingin menyusul Bapak-Ibuk diseberang jalan. Itulah keputusan yang sangat kusesali seumur hidup.

Aku benar-benar berlari saat menyeberang jalan, tak menghiraukan kendaraan yang masih berlalu lalang. Pada seberangan jalan pertama aku aman karena tak banyak kendaraan yang lewat dekat tempat kejadian, namun saat menyeberang jalan kedua, sebuah sedan berkecepatan tinggi datang dari arah kiri.

Aku yang mendengar klakson keras tiba-tiba mematung sambil menutup muka dengan kedua tangan. Aku takut, sangat takut. Hari itu, hal terakhir yang kuingat hanyalah tangan lembut Ibuk mendorong tubuhku dengan kuat.

Aku sempat melihat wajah Ibuk yang panik saat menoleh kebelakang melihat aku berlari saat menyeberang. Tak bisa kulihat wajah Bapak, yang kuingat bapak telah didudukan di tepi jalan oleh Ibuk sebelum aku menyeberang jalan yang kedua.

Semua begitu cepat, peristiwa 45 menit pada siang hari 13 Ramadhan 9 tahun lalu itu mengakhiri semua kebahagianku.

***

Bau obat menusuk indera penciumanku saat membuka kedua mata. Aku baru menyadari kalau aku tak lagi memakai jilbab, kurasakan nyeri yang amat menyakitkan pada bagian bawah alis. Seluruh tubuh bagian kanan terasa sakit. Lalu datang seorang tetanggaku menghampiri.

“Ibuk mana, Bulek? Bapak juga tadi berdarah, Bapak mana?” tanyaku pada Bulek Minah, biasa aku memanggilnya demikian.

“Ibuk sama Bapak ada di ruang sebelah, istirahat. Kamu disini soalnya tadi habis dijahit pelipisnya,” ucapnya tersenyum namun matanya berkaca-kaca. “Oh, berarti Bapak sama Ibuk lukanya ndak sampek dijahit kan, Bulek?” tanyaku spontan dengan senyum. “Mboten, mboten dijahit. Kamu makan dulu ya Bulek suapin bubur.”
“Bapak sama Ibuk mpun maem ta, Bulek? Ara maem sama Bapak-Ibuk mawon.”
“Sudah nduk, kamu tok yang belum makan”
“Habis makan ke Bapak sama Ibuk ya, Bulek”
“Iya, makan dulu ya.”

Aku makan dengan lahap karena bersemangat untuk segera bertemu Bapak dan Ibuk. Aku berjanji akan membantu Bapak dan Ibuk menyiapkan dagangan lebih giat, karena pasti Bapak susah berjalan dengan tongkat yang patah.

***

Obi menyodorkan tissue, aku meraihnya dengan cepat. Ini kali pertama aku menceritakan ulang kejadian itu setelah 9 tahun berlalu.

“Ibuk meninggal di tempat karena menyelamatkan aku, sedangkan Bapak meninggal karena kehabisan darah. Luka di kepala lebar, jarak tempat kejadian ke rumah sakit memakan waktu hampir setengah jam. Aku tidak tau pasti, aku hanya mendapat penjelasan dari Bulek Minah,” ucapku dengan tangis yang tak bisa dibendung.

Aku terus menangis sampai beberapa menit, kerinduan pada Bapak dan Ibuk tiba-tiba mencuat melahirkan nyeri yang erat mengikat. Obi tak bicara apapun, hanya diam mendengarkan seksama. Kemudian menyuruh seseorang untuk mengganti gelas susu coklatku yang dingin dengan yang baru.

Baca juga:  Titip Rindu Untuk Bunda

“Hari ini kamu masih punya dendam pada mereka?”
“Tentu.”
“Pada setiap orang yang memakai surban?”
“Ya.”
“Walaupun mereka tak membawa balok kayu dan melakukan sweeping?”
“Semuanya. Siapapun yang memakai surban dan bergamis bagiku sama saja. Aku benci sebenarnya ketika mengakui agamaku Islam. Andaikan bukan karena aturan agama, sangat mungkin Bapak dengan mudah mencari pekerjaan, atau melakukan sesuatu agar keuntungan jualan berlipat. Andaikan bukan karena agama mungkin saja mereka tak akan melakukan aksi brutal semacam itu. Aku tak bisa menemukan dimana letak kebaikan dalam beragama? Hanya membatasi ruang gerak.”

Obi hanya diam. “Bukankah Bapak-Ibuk selalu minta kamu semangat ngaji sejak kecil, sampek kamu bisa jadi juara satu lomba tilawah se kabupaten saat kelas 2 SD?”

Aku tercekat, lupa kalau dulu pernah rajin mengaji. Lupa kalau dulu sering diminta tilawah Quran. Lupa kalau dulu sering berjamaah di masjid kemudian bermain dengan teman-teman TPQ.

“Kamu terlampau lelah, istirahatlah di kamar sebelah musala. Besok pagi kuajak jalan-jalan,” ucapnya sambil menyerahkan kunci ruangan yang dimaksudkan.

Aku tetap terjaga sampai suara adzan shubuh mengalun merdu dari musala sebelah kamar tempatku tidur. Tubuhku sangat lelah, namun mataku menolak untuk terpejam.

Kuputuskan untuk pergi ke kamar mandi sekedar membasuh wajah agar segar, barangkali dengan demikian bisa tidur sejenak. Melewati musala, aku melihat Obi menjadi imam belasan karyawannya.

Sejenak hatiku berdesir melihat pemandangan ini. Sudah 9 tahun, tak pernah lagi kulihat orang salat berjamah. Terakhir kali saat menyolati jenazah Bapak dan Ibuk.

***

Tiap menjelang Ramadhan, aku selalu mengundurkan diri dari tiap restoran dimana aku bekerja. Memori buruk itu terus mengejar tiap mendekati Ramadhan. Biasanya aku akan menjadi asisten rumah tangga – pembantu- di rumah orang-orang kaya yang ditinggalkan pembantu aslinya pulang kampung.

Gajinya pun lebih besar saat bulan puasa dan lebaran. Inilah satu-satunya kebaikan yang bisa kuambil dari Ramadhan dan lebaran, gaji yang lebih besar.

“Ra, kamu wis dapet job pasca mengundurkan diri nanti?” tanya Obi saat aku mencuci panci.
“Ini ada lowongan kerja, Ra. Masak tapi. Masakan kamu kan enak. Mau ya?”
“Dimana?”
“Pesantren.”
“Pesantren itu siapa? Orang mana? Aku males kalo jauh-jauh dari kos.”
“Pesantren itu lembaga, Ra. Nanti kamu tinggal disana mulai Rajab pertengahan sampai Syawal.”

Aku mengerutkan kening tak paham. “Rajab itu apa?”. “Gini wes, kamu mulai tinggal disana pertengahan Oktober ini sampek Desember, kerjanya buatkan sahur sama buka tok, gajinya gak beda jauh sama jadi asisten rumah tangganya orang-orang kaya kok. Nanti masih dapet THR, tempat tinggal sama makan sehari-hari dicukupi. Gimana?”

Mataku berbinar mendengarnya, segera kuiyakan sebelum ia tawarkan pada orang lain.

***

Aku tergopoh-gopoh melirik jam dapur yang menyisakan beberapa menit saja sebelum maghrib tiba, tempe yang masih panas dari wajan segera kupenyet dengan beberapa lembar kemangi diatas cobek batu.

Sambel tempe buatanku kini jadi menu favorit keluarga ndalem. Aku sangat kerasan bekerja di pesantren ini. Tiga menit, aku bergegas membawa sambal tempe dengan beberapa piring ke meja makan.

“Maaf Pak Kyai, tadi saya ketiduran makanya ini telat nyiapin daharan buka,” ucapku meminta maaf.
“Bukan masalah nduk, kamu segera siap-siap buka, atau makan disini bersama kami?” jawab Pak Yai dengan senyum menentramkan.
“Nggih, Yai. Saya di dapur mawon bareng mbak-mbak lain,” jawabku pamit sambil beringsut keluar dari ndalem.
“Eh, Nduk.”
“Nggih, Yai”
“Jangan lupa nanti ba’da tarawih ikut ngaji ya, aku wis minta kang-kang buat belikan sampean kitab”
“Inggih, Yai,” aku mengangguk kemudian berlalu, masih takjub akan rasa perhatian dan kasih sayang Pak Yai yang sangat besar pada santri-santrinya.

Perlahan, aku tak takut lagi pada laki-laki bersurban, tak dendam lagi pada siapapun yang bergamis. Pesantren dengan segala budayanya benar-benar seperti healing place. Aku kembali ke dapur, belum sampai menuang sirup rasa cocopandan, adzan telah berkumandang.

Baca juga:  Perempuan yang Kehilangan

“Cepet minum, Ra,” Obi muncul tiba-tiba dengan menyodorkan segelas sirup. Kaget tapi segera kuminum sirup dalam gelas itu.
“Heh, kok kamu disini. Nanti ketahuan keluarga ndalem sungkan lah. Sana loh sama kang-kang lain.”
“Gak papa, aman. Eh, sambel tempemu mana, Ra?”
“Tadi tak bawa ke ndalem semua, tempenya cuma sedikit, beli di warung depan sana lo.”
“Endak, aku suka e sambel tempemu, ketularan Mas Aan. Hehe.”
Aku mengerutkan kening. “Ketularan Gus Aan?”
“Eh ndak, ayo makan aku kelaparan.”

***

Bau obat ini menguasai semua pikiranku, membuat foto-foto maya 9 tahun silam berlompatan. Hatiku terasa sangat ngilu, perih sekali mengetahui kenyataan ini. Air mataku memenuhi selembar kertas yang kini kupeluk erat.

“Jadi selama ini Obi nyamar jadi kang-kang ndalem, Gus?”
“Iya, Ra. Kamu maafkan Obi ya. Dia bener-bener anak baik, sampai Allah juga meminta dia kembali pulang dengan cepat. Restoran itu milik koperasi pesantren, dia cuma nyamar jadi kasir ketika tau ada perempuan yang bener-bener anti laki-laki bersurban dari cerita para pegawai. Kafe yang dia bangun itu hanya cover luar, pegawainya anak-anak punk yang nggak punya keluarga akhirnya diberikan kerjaan dan dibersihkan pelan-pelan dengan berbagai aturan kafe yang mirip di pesantren, salat jamaah, kalau pas puasa ada sahur dan buka bersama.”

“Terakhir kali sebelum dia kecelakaan sewaktu mau ngantarkan anak didiknya ziaroh wali, dia minta aku baca surat ini, aku cuma nanggepinnya pake guyon. Ternyata itu firasat,” jelas Gus Aan, yang ternyata kakak kandung Obi.

“Aku banyak berhutang pada Obi, Gus, bagaimana aku mampu membalasnya?”
“Sebenarnya Obi minta satu hal, Ra. Dia mencintaimu, dan nggak pingin kamu sengsara lagi diluar. Kamu baca tulisan pensil dibalik kertas itu.”

Aku terhenyak membaca tulisan ini, kemudian melihat Gus Aan yang kini memalingkan wajah.

Disana tertulis,
Mas Aan, aku tau Mas Aan punya rasa ke Ara sejak kali pertama aku bawa Ara ke pesantren. Sejak kali pertama Mas Aan makan sambel tempe buatan Ara. Mas Aan sengaja nyembunyikan rasa karena Mas Aan tau aku juga punya rasa yang sama. Aku nggak tau mas, kenapa aku pingin nulis ini, tapi jika nanti ada apa-apa denganku, tolong jaga Ara ya, Mas. Dia belajar dengan cepat. Ara pasti bisa menyembuhkan luka masa lalunya, pasti bisa jadi sigaran nyowone Mas Aan ketika nanti sampean menggantikan bah dan ummik mengurus pesantren.

Aku kembali diam, menunduk merasai semua yang terjadi, Rojabi yang lahir di Bulan Rajab itu menjadi jalanku kembali padaMu Tuhan. Aku tak mau lagi membenci apapun, tak mau lagi mendendam pada siapapun, sangat melelahkan. Aku hanya ingin damai, memeluk semua kesakitan dengan erat, menetralkan semua pahit.

Gus Aan kemudian mengajakku pulang ke pesantren, Pak Kyai dan Ibu Nyai telah berjalan didepan, seluruh rangkaian acara pemakaman harus segera disiapkan.

***

Aku menutup kisah ini dengan senyum kemenangan, menang atas trauma dan masa lalu kelam yang menjerat.
“Bundaaa, beli cilok nggihhh.”
“Kan Obi puasa, Nak, mau dibatalin puasanya?”
“Oiya kan Obi puasa,” ia tergelak memperlihatkan gigi kelincinya.
“Iya, nanti kalau bisa full satu bulan Bunda belikan baju baru.”
“Bener ya, Bunda?”
“Iya.”
Dia tertawa lebar kemudian berlari lagi ke teras rumah, melanjutkan bermain.
“Masih lama, Dik?”
Aku menoleh kaget, mendapati suara lembut bertanya di sampingku
“Mboten, sampun selesai kok.” Kemudian dua santri alumni tersebut berpamitan pulang. Mereka berjanji untuk segera merampungkan tulisannya dengan merahasiakan siapa pemilik kisah ini sebenarnya.
“Obi ndak diajak, Mas?”
“Diajak ndak papa, dia dari kemarin pingin beli ciloknya Mas Mario Tembelang itu to? Sekalian nanti pas pulang dari acara kita belikan.”
Aku hanya tersenyum sebagai jawaban.
“Mas Aan pingin dahar buka nanti nopo? Kalau santri-santri lauknya balado ayam mas.”
“Sambel tempe buatanmu paling enak dik,” dia mengunciku dalam senyum yang selalu menentramkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here