Revitalisasi Kesenian Gambang Semarang untuk Merajut Toleransi dan Kebhinekaan

0
326

Oleh:
Sonia Khotmi Rosalina

Abstrak

Tulisan ini mengulas tentang pentingnya revitalisasi kesenian Gambang Semarang yang seolah kian hilang di tengah gencarnya budaya instan dan teknologi digital. Gambang Semarang merupakan salah satu kesenian yang menjadi identitas kebudayaan masyarakat Semarang. Gambang Semarang merupakan produk akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Jawa Tengah sarat muatan nilai toleransi dan kebhinekaan.


Di masa revolusi, Gambang Semarang konon juga sering dijadikan sebagai media perjuangan kebudayaan untuk membuka kesadaran masyarakat tentang pentingnya meraih kemerdekaan. Mengingat besarnya muatan nilai dan sejarah Gambang Semarang tersebut, maka revitalisasi kesenian Gambang Semarang menjadi sangat penting dilakukan. Karena itu, pemerintah, masyarakat dan juga para seniman harus bersatu padu menjawab tantangan zaman dengan meningkatkan perhatian dan mencari terobosan baru agar Gambang Semarang tetap hidup, menarik dan mendapatkan tempat di hati masyarakat yang semakin modern dan terus berkembang.


Keyword: Gambang Semarang, Revitalisasi, Akulturasi, Toleransi.

I. Pendahuluan

Kesenian Gambang Semarang merupakan salah satu dari sekian banyak kesenian tradisional yang lahir di Kota Semarang. Di zaman modern ini, kesenian tersebut mulai tenggelam di tengah arus globalisasi yang menghampiri Indonesia. Tidak seperti dulu saat zaman penjajahan, pementasan Gambang Semarang selalu ramai disaksikan oleh banyak penonton. Di tengah masyarakat milenial saat ini, kesenian Gambang Semarang seolah perlahan hilang di telan zaman.


Sebagaimana Gambang Kromong khas Betawi, seni Gambang Semarang juga merupakan kesenian tradisional hasil dari akulturasi dua budaya yang berbeda, yaitu budaya Tionghoa dan budaya lokal, khususnya Jawa Tengah. Kedua kebudayaan ini memiliki keunikannya masing masing. Dalam kesenian Gambang Semarang, terdapat alat musik iringan yang merupakan budaya alat musik Tionghoa, yaitu suling, sukong, dan konghyang. Ada pula dari sisi busana yang dikenakan oleh para penarinya dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, yaitu adanya hiasan bordir yang berada di ujung lengan yang berpola bunga-bunga serta membentuk runcing.


Gambang Semarang adalah tarian yang diringi musik yang terbuat dari bilahan-bilahan kayu yang disebut gambang. Tak hanya tari dan musik saja yang ditampilkan, namun lawak dan lagu juga dijadikan sajiannya. Kini alat musik yang dipakai semakin beragam, sehingga sajian pementasan jauh lebih menarik. Sorot lampu yang menerangi para penari, pemain musik, penyanyi, dan komedian sangat mendukung pementasan Kesenian Gambang Semarang.

Kesenian Gambang Semarang hanya dipentaskan disaat tertentu saja seperti acara pernikahan, khitanan, pesta rakyat, penyambutan tahun baru China di klenteng-klenteng, festival festival yang diadakan oleh lembaga-lembaga tertentu, karnaval warak ngendog, dugderan, dan sebagainya.

II. Sejarah Perjalanan Gambang Semarang


Kesenian Gambang Semarang mulai muncul sekitar tahun 1930. Warga keturunan Tionghoa memiliki keinginan untuk berbaur dengan warga pribumi. Warga Tionghoa juga meniru gaya busana, kehidupan, dan makanan warga pribumi. Banyak dari mereka masuk agama Islam. Saat itu lah muncul kesenian Gambang Semarang di kalangan rakyat bawah.
Pertunjukan Gambang Semarang diawali dengan terbentuknya sebuah paguyuban kesenian dengan beranggotakan warga pribumi dan warga Tionghoa yang dibina oleh keturunan tionghoa bernama Lee Hoe Soon. Saat itu banyak orang yang belum dapat memainkan alat musik. Lalu Lee Hoe Soon meminta seseorang yang bernama Subadi, seorang pemain instrument yang terkenal di kala itu untuk melatih mereka (anggota paguyuban).
Setelah itu menghasilkan para pemain musik gambang, yaitu Tan Hok Gie (pemain kromong), Nyo Ping Liong (pemain kendang), Liem Han Hing (pemain Gong), Mintoni (pemain sukong), Oei Tek Bie (pemain gim), Oei Tiong Oen (pemain biola), Untung (pemain suling), Lim Tik No (pemain samhian), Poei Tjo Dwan (pemain kongahyan), Tjiam Bok Swie (pelatih, pemain gambang). Pementasan kesenian itu pun mulai digelar di berbagai tempat. Mereka mementaskan Gambang Semarang mulai dari klenteng-klenteng. Karena mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat lainnya, Kesenian Gambang Semarang berkembang pesat. Saat pementasan berlangsung, selalu ramai oleh para penikmat Gambang Semarang.

Baca juga:  Eufimisme Pemblokiran Laman Dewasa


Dalam perkembangan, kesenian yang diorganisasi oleh Lie Hoo Soen ini dikenal dengan Gambang Semarang. Kesenian ini tidak hanya tersohor di Semarang, tetapi juga di kota-kota lain, terutama pada saat diselenggarakan pasar malam. Beberapa kota yang pernah mengundang kesenian Gambang Semarang untuk meramaikan pasar malam adalah Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Betapa terkenal kesenian ini sehingga pada tahun 1940 tercipta suatu lagu dengan judul “Empat Penari”. Lagu tersebut tercipta atas kerja sama antara Oei Yok Siang sebagai pembuat lagu dan Sidik Pramono sebagai penulis lirik lagu. Di tahun yang sama, lagu “Gambang Semarang” telah disiarkan pertama kali oleh grup orkes Perindu di studio Laskar Rakyat Magelang dengan Biduanita Nyi Ertinah. Berikut ini ditampilkan syair lagu tersebut secara lengkap:

Empat penari, kian kemari
jalan berlenggang, aduh ………..
sungguh jenaka menurut suara
Irama Gambang
Sambil menyanyi, jongkok berdiri
kaki melintang, aduh ………..
langkah gayanya menurut suara
Gambang Semarang
Bersuka ria, gelak tertawa
Semua orang, karena …………
Hati tertarik grak grik
si tukang kendang
Sambil menyanyi, jongkok berdiri
kaki melintang, aduh ………..
langkah gayanya menurut suara
Gambang Semarang.

Syair lagu tersebut mengggambarkan keunikan dan keindahan yang ditampilkan oleh kesenian Gambang Semarang. Selain lagu “Empat Penari”, Oei Yok Siang juga menciptakan lagu lain seperti “Malu-Malu Kucing” dan “Impian Semalam”.


Gambang Semarang juga memiliki tata urutan dalam pementasannya. Para pemain musik mulai memainkan instrumennya, lalu keempat penari memasuki panggung dan mereka menari dengan luwesnya. Para penyanyipun mengikutinya dengan menyanyikan lagu “Empat Penari”. Keindahan lirik yang dinyanyikan serta alunan musik yang mengiringinya berbaur menjadi satu. Selanjutnya ditampilkan lawakan yang temanya sesuai dengan kondisi-kondisi saat itu.
Para penonton selalu dibuat tertawa oleh lawakan lawakan itu. Kadang-kadang para pelawak juga menyanyikan lagu-laguyang cocok untuk dibawakan secara bersahutan seperti lagu “Jali-jali”. Syair lagunya sering diganti dengan kata-kata lucu untuk saling mengejek, menyindir, atau bermuatan kritik. Pertunjukan ini diakhiri dengan lagu-lagu penutup atau lagu-lagu yang memuat kata-kata “pamit” seperti “Walang Kekek”, “Keroncong Kemayoran” dan “Jali-jali”.


Kesenian Gambang Semarang memiliki keunikan tersendiri yang terletak pada gerak telapak kaki yang berjungkit-jungkit sesuai irama lagu yang lincah dan dinamis. Gambang Semarang memiliki gerakan tarian unik yang disebut genjot, tepak, megol, ngeyek, dan lambeyan. Gerakan genjot adalah gerakan seperti mengayuh sepeda. Gerakan tepak adalah gerakan dengan telapak kaki berjungkit. Gerakan megol adalah gerakan goyang pinggul. Gerakan ngeyek adalah gerakan pinggul berputar. Gerakan lambeyan adalah gerakan jari dan tangan.
Tetapi seiring dengan berubahnya Zaman, kepopuleran kesenian Gambang Semarang yang sempat menjadi idola kawula muda Jawa dan Tionghoa Semarang di dekade abad 20-an telah tergeser oleh kepopuleran kesenian berbau modern abad 21 yang berasal dari dunia Barat dan Asia Timur. Mulai tahun 1980, Gambang Semarang hanya dipentaskan secara insidental. Animo masyarakat tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya, keadaan semakin memburuk karena pada 1990an Gambang Semarang mulai kehilangan penontonnya. 

Baca juga:  Burqa dan Wanita Afghani

III. Muatan Nilai Gambang Semarang

Dari informasi sejarah dan proses pengenalan kesenian Gambang Semarang yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa Gambang Semarang ini memuat nilai-nilai yang sangat penting bagi generasi muda.
Pertama, Gambang Semarang mengajarkan kepada kita tentang pentingnya toleransi sosial dan budaya. Akulturasi budaya Tionghoa dan budaya lokal membuat mata kita terbuka bahwa tidak ada sekat antara masyarakat keturunan Tionghoa dan masyarakat lokal Indonesia pada umumnya. Tidak boleh ada diskriminasi sebagaimana yang terjadi pada masa Orde Baru dulu. Tidak boleh lagi ada pembedaan antara masyarakat keturunan Tionghoa dan masyarakat pribumi. Kita semua adalah sama. Kita semua adalah saudara dalam bernegara, yang harus saling mengisi dan menguatkan satu sama lain untuk mewujudkan “Indonesia Raya”.
Kedua, pementasan Gambang Semarang yang memuat lagu-lagu yang ceria, senang dan diiringi dengan lawakan para komedian lokal memberikan pesan kepada generasi muda agar kita senantiasa bahagia, bersemangat, dan optimis menatap masa depan. Karakter kesenian Gambang Semarang ini sangat berbeda dengan film-film Asia Timur yang saat ini banyak digemari oleh kalangan pemuda, di mana film–film tersebut cenderung menyuguhkan dunia fantasi yang bernuansa “mellow”, sedih, dan kurang bersemangat. Gambang Semarang berbeda. Pesan-pesan moral yang ada di dalam lagu dan lakon yang dipentaskan meminta kita generasi muda agar selalu ceria, semangat dan selalu kritis dan peka terhadap perkembangan sosial di sekitar kita.

VI. Pentingnya Revitalisasi Gambang Semarang


Pemerintah dan para pemerhati kesenian Semarang dan Jawa Tengah pada umumnya memang memiliki peran yang besar dalam pelestarian budaya Gambang Semarang ini. Jika masyarakat tidak mendukungnya, upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan pemerhati kesenian tidak akan berhasil. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk melestarikan budaya khas Semarang tersebut.


Pertama, pemerintah khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan kampus-kampus untuk mensosialisasikan kesenian Gambang Semarang di kalangan remaja. Dalam hal ini, kepedulian remaja merupakan kunci penting bagi keberlangsungan Gambang Semarang di masa mendatang. Jika kita bisa melakukan pembibitan para pemain dari kalangan anak muda yang memiliki perhatian terhadap seni dan budaya Jawa Tengah, maka kita dapat menepis kekhawatiran tentang punahnya kesenian Gambang Semarang.


Kedua, selain pembibitan, pemerintah, pekerja seni dan juga sekolah-sekolah yang memiliki kelompok pemain Gambang Semarang juga harus meningkatkan kepekaan terhadap isu yang berkembang di sekitar masyarakat. Lagu-lagu dan cerita-cerita yang dimainkan dalam pentas Gambang Semarang juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sehingga Gambang Semarang tidak ketinggalan zaman dan tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat Semarang dan Jawa Tengah pada umumnya.


Ketiga, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan juga perguruan tinggi harus secara berkala mengadakan festival-festival dan perlombaan yang berhubungan dengan kebudayaan lokal, dengan menampilkan kesenian Gambang Semarang sebagai pilihan utama untuk dipentaskan. Semakin sering festival dan lomba itu diselenggarakan semakin tinggi perhatian masyarakat kepada kesenian Gambang Semarang.
Keempat, pemerintah melalui dinas yang berhubungan dengan pariwisata juga dapat menyarankan kepada tempat-tempat yang menjadi hiburan masyarakat, termasuk hotel-hotel besar untuk mementaskan kesenian Gambang Semarang untuk mensosialisasikan kepada mereka para wisatawan dari luar kota dan juga luar negeri. Selain itu, lembaga-lembaga pemerintah di Semarang dan Jawa Tengah juga dapat meningkatkan perhatian pada kesenian ini dengan menggelar pementasan seni Gambang Semarang di kantor-kantor pemerintah saat merayakan hari-hari besar kenegaraan.

Baca juga:  Arja Imroni: Organisasi Intra Untuk Asah Soft Skill


Kelima, masyarakat dan pecinta seni Gambang Semarang, yang juga didukung oleh pemerintah daerah juga harus aktif untuk mencari dukungan dari sumber-sumber swasta seperti perusahaan, donatur perseorangan yang memiliki perhatian lebih terhadap kesenian daerah, untuk menambah dukungan baik moril maupun materiil agar Gambang Semarang dapat dipentaskan di stasiun televisi lokal di Jawa Tengah. Kalau bisa masuk ke stasiun televisi lokal, maka proses sosialisasi akan semakin mudah dan masyarakat akan semakin paham dan tertarik terhadap keberadaan Gambang Semarang.

V. Penutup


Kita sebagai generasi muda harus ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya masyarakat kita. Banyak sekali muatan nilai-nilai luhur yang ada dalam kesenian, khususnya Gambang Semarang. Melalui kesenian Gambang Semarang, generasi muda Jawa Tengah dan khususnya Semarang harus menjadi ujung tombang untuk menyuarakan pentingnya toleransi dan anti-diskriminasi terhadap semua pihak. Kesenian Gambang Semarang mengingatkan kita para remaja tentang pentingnya kebhinekaan di tengah masyarakat Indonesia yang plural. Meskipun berbeda, kita tetap sama sebagai keluarga, yakni keluarga besar Bangsa Indonesia. Karena itu, masa depan kesenian Gambang Semarang harus menjadi perhatian besar generasi muda.
Ada beberapa cara yang patut dicoba untuk merevitalisasi Kesenian Gambang Semarang, yaitu pemerintah melakukan pembibitan berupa sosialisasi mengenai Gambang Semarang ke sekolah sekolah dan kampus kampus, kelompok- kelompok yang sudah ada untuk melestarikan Gambang Semarang selalu mengetahui isu isu yang sedang berkembang di masyarakat agar pentas yang dibawakan selalu relevan, pemerintah secara berkala mengadakan lomba mengenai kesenian daerah khususnya Gambang Semarang dengan peserta dari sekolah sekolah maupun kampus kampus, menyediakan pementasan di tempat pariwisata dan hotel, mencari dukungan secara moril atau materiil dari swasta yang tertarik untuk ikut melestarikan Kesenian Gambang Semarang.


Berbagai upaya di atas patut kita lakukan agar Kesenian Gambang Semarang tetap hidup, menarik dan mendapatkan tempat di hati masyarakat modern Semarang, Jawa Tengah, dan Indonesia pada umumnya. Kita sebagai warga Semarang harus berpartisipasi dalam pelestarian budaya asli Semarang tersebut. Jangan hanya menyalahkan pemerintah apabila budaya tersebut hilang atau diklaim oleh negara lain. Kita harus sadar diri atas budaya yang kita miliki. Kalau bukan kita, siapa lagi?

DAFTAR PUSTAKA

Dhanang, “Gambang Semarang, Masa Lalu Hingga Kini”, 31 Oktober 2013, bisa dilihat di:
http://www.kompasiana.com/dhave/gambang-semarang-masa-lalu-hingga-kini_5520de4c813311387419fbc2

Sunarsih, Endang, “Tari Gambang Semarang”, 26 November 2013, bisa dilihat di:
http://indonesiasculture.blogspot.co.id/2013/11/tari-gambang-semarang.html

Susilowati, Irma, “Seru dan Unik ala Nusantara”, PT Tiga Serangkai, Semarang, 2012, bisa
dilihat di: http://www.dotsemarang.com/mengenal-gambang-semarang/

Yuliati, Dewi, “Kesenian Gambang Semarang: Suatu Bentuk Integrasi Budaya Jawa dan
China”, 24 Juni 2012, bisa dilihat di: https://kjundip.wordpress.com/2012/06/14/kesenian-gambang-semarang-suatu-bentuk-integrasi-budaya-jawa-dan-china/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here